Wednesday, February 22, 2017

The Time When I Needed Some Headspace


Hampir dua minggu belakangan saya merasa kurang nyaman dengan kondisi tubuh saya, memang sih nggak sampai jatuh sakit (alhamdulillah). Saya jadi susah tidur, padahal saya bukan tipe manusia nokturnal lho normalnya, jam 9 saya udah ngantuk, leren-leren, jam 10 sudah lelap. Sudah dalam taraf mengkhawatirkan deh kalau udah begini, dan terjadi hampir setiap hari. Nggak pengaruh walaupun saya sehabis memeras otak seharian di kantor, lalu langsung pengin tidur awal ... tetep nggak bisa. Paginya jadi grumpy :(


Hmmm ....

Selalu ya, setiap saya mulai menyadari kalau ini adalah masalah, mulai deh saya gelisah banyakin baca macem-macem artikelself-help, namatin ulang bacaan saya berbulan-bulan belakangan ini, The Circle (malah makin puyeng), maraton serial Black Mirror-nya Netflix (kayaknya ini deh pangkal masalahnya, wkwkwk). Nggak membantu sama sekaliii.

Kesimpulan pertama: banyakin baca Al-Qur’an sampai ke makna yang sebenernya, deh, Nad. Oh it’s sounds easy, but not really, but I’ll keep trying Insha Allah. *Mama saya biasanya baca blog ini, nih. Ehem ...
Kesimpulan dua: pastilah ini karena saya terlalu banyak punya waktu luang. Stamina single bertemu dengan badan yang malas gerak. Deadly, wahahaha.

Atau ... kesimpulan ketiga (mulailah saya sotoy menganalisasi asupan gizi saya): oh, iya sih saya kebanyakan karbohidrat dan gula. Bahkan sampai malam pun saya masih ngunyah makanan manis. Yang artinya metabolisme saya masih terus aktif sampai larut malam, pantesan pikiran saya aktif wandering out nggak jelas menolak lelap. Ok, I got it. Saya akan mencoba disiplin ngurangin karbohidrat dan gula di kala malam. Gula dari buah (fruktosa) juga termasuk ya, namanya tetep gula.

 ...

Sampai guliran jempol ini akhirnya berpapasan artikel di blog Mamak Suri, the one and only, Mba Dee Lestari.Tersebutlah trilogi artikel “Menulis Sehat” yang sebenarnya nggak 100% related dengan masalah susah tidur saya tadi. Namun ntah kenapa tulisan bagian ke-3 yang saya baca itu sejak awal terasa begitu menyegarkan untuk saya.

Ibarat komputer yang sesekali perlu di-defrag agar kembali optimal, dan ibarat hunian yang sesekali perlu di-declutter agar kembali lapang, batin kita pun membutuhkan proses bersih-bersih. Meski bukan seorang penulis ataupun pekerja kreatif, dan tanpa perlu menjadi terapis ataupun spiritualis, berikut ini saya pilihkan beberapa keterampilan yang cukup praktis dan sederhana untuk dilakukan oleh siapa pun. Apa pun profesi Anda.


Jadi mungkin masalah tidur saya tadi ada hubungannya dengan ini, kurangnya ruang lapang di kepala. Aka, “Banyak pikiran, nih,” Kebayang kalau teman saya si Awe sampai baca, kalimat tadi pasti langsung diucapkannya sekadar untuk membuat saya kesal -_-

Ok, balik lagi ke artikel Mba Dee (yang sebenarnya bisa langsung kamu buka di sini), keterampilan praktis bin sederhana yang disarankan pertama kali adalah meditasi. Jangan tanya lagi manfaat meditasi, terlalu banyak terlalu mulia untuk disangkal.

Right.

Saya nggak punya waktu, ah. Sekalian sholat aja, lah. Nggak sanggup ngeluangin waktu dan uang untuk ikutan retret khusus meditasi. Huft. Kira-kira begitu ya pikiran spontan saya. Namun setelah baca lagi sampai tuntas, merembet ke baca artikel-artikel prekuelnya, maaan, I think I do really need to make some space in my head.

Ya, menurut pengalaman Mba Dee, cara terbaik merasakan perubahan dan manfaat meditasi tadi adalah dengan mengikuti retret. Kehadiran seorang guru atau pemandu akan sangat membantu meditator pemula. Cara terbaik kedua adalah dengan memanfaatkan apa yang sudah kita punya sekarang: smartphone dan internet! Coba deh install aplikasi seperti Headspace atau Calm. Lakukan rutin 10-20 menit saja setiap hari, hasilnya berbeda pada setiap orang pastinya.

Sebagai manusia reaktif dan gemar bereksperimen dengan diri sendiri, saya install Headspace, mungkin setelah ini akan coba Calm. Baby steps, Nad, baby steps ... Surprisingly, tampilan muka aplikasi ini nggak seperti bayangan saya yang bakalan serius dan serba zen. Malah kita akan langsung disambut video animasi tentang memulai meditasi. Sederhana, seperti video di bawah:

Bagaimana memulainya

 Kubonusin presentasinya Andy Puddicombe (Headspace's founder) di Ted Talk

Selanjutnya, saya yang mudah terpengaruh ini pun terjerumus. Saya mulai mencoba paket dasar 10 hari meditasi, 10 menit setiap harinya. Bukan merem-merem sendiri diiringi musik mendayu ternyata, melainkan hening dipandu sama suara penuh damai dari konsultan meditasi sekaligus founder aplikasi ini, Andy Puddicombe di sana. Lumayan. Setiap hari saya coba secara random sesempatnya saya, kadang pagi sehabis bangun, kadang sebelum tidur, pernah saat siang dan penat sama kerjaan. Bebaaasss. Belum kerasa manfaat drastisnya, tapi mindset saya soal meditasi jadi berubah banget. Bisa ya, dibawa semenyenangkan sekaligus menenangkan gini. Kalau sudah tamat trial 10 hari, kita bisa pakai fitur lainnya dengan syarat harus berlangganan setiap bulannya, Rp189.000,00, dan bisa berhenti saat sudah tidak dibutuhkan. Mahal nggak mahalnya tergantung kebutuhan masing-masing orang, jadi saya sarankan mending coba trial 10 harian itu dulu.

Harus lulus 10 hari superbasic dulu.

Dipilih-dipilih sesuai kebutuhan.

Nah nah nah, my kind of concern.
 
Saya masih kurang sehari lagi nih dari paket dasar 10 hari saya, rencananya setelah 10 hari saya mau coba fitur lainnya menyasar masalah kesehatan dan harmoni secara spesifik. Misal tersedia paket khusus meditasi untuk penderita kanker, depresi, kepercayaan diri, stress, gelisah, masalah tidur (nah!), dan kehamilan. Ada pula meditasi untuk anak-anak. Ck ck ck, can modern apps be more helpful than this?

Well, manusia cuma bisa berusaha, coba-coba dan nyerocos di blog begini. Sisanya ditentukan dengan itikad untuk konsisten dan izin Allah SWT *apa sih, Nadddd, get a grip! Hahaha.

Segitu dulu untuk hari ini, pelampiasan curhat di blog sudah saya tunaikan juga akhirnyaaa. Dan saya rasa saya akan semakin berbunga-bunga kalau ada yang mau memberi saran lainnya. Terima kasih sudah berkunjung ke sini :)


Love & light,

Nadia

Thursday, February 9, 2017

Kagok-Kagok Seru di Workshop Membuat Daluang Clutch Bag


Semakin sering ikutan segala bentuk workshop, saya semakin sadar kalau saya bukan orang yang naturally gifted atau langsung jago saat melakukan sesuatu pada kali pertama. Lah, seperti layaknya orang, kan? So why are you make that such a big deal, my dear self? Hahaha, ya nggak apa-apa, dengan menyadari hal itu ada kalanya bisa bikin saya lebih rendah hati. Well, nggak ada yang bisa disombongin juga, sih :p

Sabtu lalu (4/2), saya berkesempatan ikut dalam sebuah rangkaian workshop yang digagas oleh Kriya Indonesia didukung oleh Brother Indonesia dan Pesona Jogja Homestay. Harus saya akui acara ini melebihi ekspektasi saya. Saya yang sudah melihat poster acara ini sempat berpikir acara ini bentuknya bakal seperti demo membuat clutch bag, diselingi dengan penjelasan mengenai daluang itu sendiri. Ternyata, workshop ini beneran workshop, yang sangat mengharuskan semua pesertanya turun tangan, pegang langsung, hands on. Panik dong saya, panikkk. Kan saya nggak bisa jahit sama sekali, terakhir kali saya pegang mesin jahit jadul merek “kupu-kupu” adalah saat umur 8 tahun, sisanya saya cuma dibekali skill jahit jelujur sisa pelajaran PKK saat SMP.

*tarik napas*

Ternyata nggak seserem itu kok, acara dimulai pukul 9.00 pagi itu dimulai dengan santai: sarapan, cipika-cipiki sesama peserta dan pihak penyelenggara. Lalu, mulailah Mba Astri Damayanti (crafter dan co-founder Kriya Indonesia), Mak Tanti Amelia (seniman doodle, edukator) dan Prof. Ishamu Sakamoto (ahli daluang). Masuk ke bagian seputar dunia daluang, bahasan jadi semakin membuka pikiran. Daluang yang sekilas terlihat seperti kertas papirus ini ternyata sangat bernilai jual tinggi (selembar daluang berukuran 90x70 cm harganya bisa mencapai Rp350.000, lho). Ternyata proses pembuatan daluang itu sendiri juga lumayan ribet, bahannya berasal dari kulit pohon mulberry harus diproses dalam tujuh tahapan yang harus diselesaikan dalam sehari saja. Fakta miris, sekaligus alasan mengapa Kriya Indonesia menggagas workshop ini ke berbagai kota, adalah karena daluang (—deluang, dalam bahasa Jawa) ini sedang terancam punah. Persebarannya di nusantara sendiri mulai berkurang, tinggal daerah-daerah seperti Jawa Barat, Jogja, Bali, Lombok, dan Kalimantan yang masih mengenalnya. Sementara, di Hawai dan Jepang, kain ini tetap semangat dilestarikan sama para ahli. Nah, saya yang dari Lombok aja baru mendengar nama kain ini kemarin saat workshop .... :(

*buang napas*

Mba Astri, Mak Tanti, dan Sakamoto Sensei

Setelah puas bertanya dan dijawab langsung oleh , kami mulai belajar dasar-dasar menggunakan mesin jahit GS2700 dengan 27 pola jahitan (whattt) yang disediakan sama tim Brother Indonesia. Menjahit clutch bag sederhana seharusnya tidak sulit, menurut mereka. Tetap ajaaa, saya merasa terintimidasi, jadi  berani liat dari jauh dulu aja. Mba Astri aja gemezzz karena saya kesannya kayak kagok  gitu sama mesin jahit, hahaha, untung nggak lama saya berani deh pegang mesinnya. Terus jadi malah ... keasyikaaaan! AAAAAA! Weeerrr ... werrr ... mesinnya canggih dan didorong gitu aja udah bisa bikin hasil yang rapi. Nggak usah keringetan gimana, jari megal-megol buat sekadar ngurusin jaitan yang lurus, semuanya berjalan smooth ... wussshhh. Kecanggihan teknologi dan harga emang nggak bisa bohong, membantu sekali. Fixed, mesin jahit itu masuk ke daftar keinganan saya!


Sayangnya urusan ternyata aku nggak bakat dan nggak sabaran ya, yang bikin saya beberapa kali  merombak apa yang sudah dijahit. Bongkar-jahit-setrika-jahit, huh haaah, trus bisa selesai dengan perjuangan selama dua setengah jam. Alhamdulillaaah!
 
Foto oleh Tim Kriya Indonesia

Udah kaku-kaku ya tangan saya, tegang takut gagal, hahaha. Makanya setelahnya kami digiring untuk melemaskan jari di sesi doodling bersama Mak Tanti. Kala itu bukan pertemuan pertama saya dengan Mba Tanti sih,  tapi itu kali pertama saya disadarkan kalau Mak Tanti memang sangat pro di bidang doodling, terutama sebagai pengajar untuk anak-anak. Saya suka prinsip beliau yang teramat membebaskan kami mencorat-coret, nggak ada karya yang jelek baginya. Semringah, bisa rileks banget karena duduknya lesehan di salah satu ruang santai yang tersedia di Pesona Jogja Homestay. Sesi menggambar gambar doddle town —yang jadi ciri khas di tiap workshop Mak Tanti, juga kami jalani dengan sukacita. Sayangnya karena keterbatasan waktu dan bentrok sama sesi kedua (kloter lainnya yang mulai workshop siang jam 13.00), kami nggak sempat menggambar di atas daluang clutch bag bikinan kami. Eh, tapi tanpa digambarin sebeneranya clutch bag-nya udah memikat juga hasilnya lebih alami dan sederhana.

Mak Tanti yang semangatnya tingkat dewa, nular ke kami

Hasil doodle town + clutch buatan saya yang nggak sempurna.

Di luar drama saya yang kagok sama mesin jahit tadi, I had so much fun that day. Nggak kapok juga kalau disuruh jahit-menjahit dan gambar-menggambar sesuatu. Saya juga akan punya kesan yang beda saat melihat kain daluang dalam bentuk yang beragam, oh it's such a  precious natural fabric :’)

Terima kasih untuk semua mentor dan pihak yang sudah mendukung, we had so much fun!

Love & light,
Nadia

Tuesday, February 7, 2017

Cerita Perantara

Bekerja di dunia penerbitan membuat saya sangat sering mendengar ungkapan, ”Kalau penulis itu raja, maka editor adalah dewa.” It makes so much sense for me. Dalam kondisi tertentu, setiap penulis harus menghormati pendapat editornya, begitu juga sebaliknya, demi kebaikan bersama.

Ok, editor dewa, penulis adalah raja ya, got it.

Nah. Kalau saya, mungkin lebih memilih analogi editor sebagai “Perantara”. Bukan karena gimana-gimana, saya lebih nyaman saja merasa di posisi itu, posisi perantara penulis untuk menyebarkan gagasannya dalam medium buku. Perantara perasaan pembaca, sedekat mungkin supaya bisa klop dengan apa yang disampaikan penulis. Mana jadi “dewa” kesannya berat, luhung, ah saya belum sampai di posisi itu, masih jauh kalau harus menengok editor senior seperti Mba Mirna Yulistianty (editor senior Gramedia), Mba Windy Ariestanty (mantan CEO Gagas Media, editor senior), atau Mas Imam Risdiyanto (editor senior Bentang, pemred saya sendiri).

Dengan menjadi “perantara” tadi, saya berharap bisa live up the name. Saya sih inginnya terus menemukan, menyambut, menghubungkan penulis dengan pihak-pihak strategis supaya membantu mewujudkan ide-ide apapun itu, dan bergerak bersama mengenalkan buku itu ke pembaca. Tak ada yang harus merasa lebih tinggi dari yang satu, it’s a partnership. Kompromi sudahlah dan akan selalu jadi makanan sehari-hari.

Empat tahun terasa seperti sekedipan mata. Cepet bangettt, nggak kerasa April mendatang sudah 4 tahun saya berada di dunia penerbitan. Saya sering mengernyit kalau ingat di awal saya sangat kagok, dunia majalah yang tempat saya berkarya sebelumnya punya flow yang berbeda, dunia penerbitan adalah rimba lainnya. Saya belajar dari bawah, benar-benar bersusah-susah dahulu. Dalam proses pembelajaran tadi, beberapa kali saya mengacau, membuat rugi, membuat teman-teman terpaksa ikut belajar dari kesalahan yang saya lakukan. Huhuhu... sedih? Iya banget, beberapa kali pengin bilang, "I've had enough, I wanna quit..." Apalagi sampai sekarang saya masih menyimpan memori sedih saat saya mengecewakan penulis-penulis yang sudah bekerja sama dengan saya, maaf sepertinya sudah nggak relevan diutarakan terus-terusan. Butuh waktu bertahun-tahun sampai saya berani meyakinkan diri saya untuk bertahan —saya menyebutnya sebagai momen kebangkitan klasik, saat saya memutuskan untuk berjalan lagi, mengasah diri lebih keras supaya bisa lebih berkembang.

Apa yang saya lakukan sekarang?

Kilas balik selama setahun kemarin, saya merasa semakin menikmati pekerjaan saya. Saya menangani sejumlah buku yang tak cuma bagus tapi sudah dalam tahap mengubah hidup (setidaknya, pada hidup saya). Itu lah risikonya memiliki karakter mudah terpengaruh, hehe, jadi sangat mudah ya terinspirasi oleh ide dalam buku. Sebagai editor nonfiksi dengan pangsa pembaca muda (18-35 tahun), buku-buku yang saya bantu kelahirannya semuanya punya korelasi nyata dengan kehidupan saya, dan semuanya bermutu tinggi —I’m not just bragging, that’s just the truth. 


Beberapa buku yang saya tangani pada 2016, masih banyak yang belum terfoto. Ahh, sistem arsip yang ambyar di perpus kantor saya memang kadang bikin buku lebih sulit ditemukan daripada di toko buku, hihihi.

 Buku yang mengubah hidup banyak jiwa, termasuk editornya sendiri.

I had a great time working with her, Mba Sophie itu superhumble, perfeksionis, tapi masih mau mendengar saran dari saya. Rasanya terberkati sekali.

Tak perlu banyak cingcong, buku The Naked Traveler 7 dan penulisnya sudah menunjukkan taringnya. Best travelogue made by an Indonesian ever!


Saya SELALU bersyukur dengan kesempatan untuk bekerja sama dengan para penulis yang tak hanya berbakat, tapi juga baik budinya luar dan dalam. Ini yang saya sebut dengan rezeki berlimpah, semoga bisa terus menjadi perantara mereka ke pembacanya, dan semoga saya bisa terus bertemu dengan penulis (((ber-poison))) lainnya dengan segala keunikan, bakat, dan karakter.

Mungkin salah seorang di antaranya adalah kamu, wahhhaaaiii pembaca blog yang budiman? :)



Love & light,
Nadia