Thursday, March 16, 2017

Unqualified Advice #1

Salah seorang teman baik saya punya standard kesempurnaan seorang wanita tertentu yang dia tetapkan untuk dirinya sendiri. Beberapa di antara yang ia ungkapkan ke saya, antara lain:

1. Bisa menyetir mobil
2. Bisa berenang
3. Bisa memasak (layak)
4. Bisa menjahit (bukan cuma jahit kancing baju, ya)
5. (Belakangan saya baru mendapati ini) rajin traveling, ntah itu di Indonesia lebih bagus luar negeri dengan suasana perkotaan.
... Hingga semuanya berhasil ia wujudkan satu demi satu.

Itu sangat keren lho, menurut saya, karena dia menetapkan goals tersebut untuk dirinya dan semuanya sudah tercapai. Sebagai tambahan dia juga sudah menikah di usia yang ia idamkan, kini hidup bahagia dengan suami dan seorang anak yang lucu dan cerdas. Tanpa bermaksud mengecilkan ibu rumah tangga (oh come on, kita semua tahu profesi full-time ibu rumah tangga itu super duper keren nothing can change that fact), tapi teman saya ini punya pekerjaan—yang kadang sering dia keluhkan, tapi siapa sih yang mau menyombongkan pekerjaannya—sesuai dengan passionnya, she’s living the dream! Hidupnya sempurna karena dia keras berusaha menyempurnakannya. Hats up!

Bagaimana dengan kekurangan? Ah, kalau menurut saya sih hampir tidak ada: yang dia anggap sebagai kekurangan justru saya anggap keunggulan. Jadi lebih sempurna, kan?

Kalau saya mau pakai falsafah iri dengki, wah dari kapan tau sudah bunuh diri atau minimal berakhir di rumah sakit jiwa lah saya (ekstremnya begitu, but naudzubillahimindzalik, amit-amit). In fact, saya yang nggak ada seujung kukunya mendekati standard teman saya tadi, masih hidup dengan mental yang ulala-yeyeye hingga saat saya meluncurkan tulisan ini. Terlepas dari itu hanya pencitraan yang saya bangun, atau saya murni tidak ambil pusing dengan kesempurnaan orang lain. Bingung juga ya, kalau mau diambil pusing. Habis pusing memikirkan kesempurnaan teman yang satu, eh, di luar sana masih banyak jenis seperti teman saya ini nggak hanya satu, tapi banyaaak. Nggak kelar-kelar depresi karena menatap kesempurnaan orang lain.

Saya bukan orang yang secara sengaja membanding-bandingkan (mungkin kalau secara nggak sengaja beberapa kali, ya, namanya juga orang biasa) hidup saya dengan orang lain. Penyebabnya mungkin sejak kecil saya terbiasa dibandingkan dari lingkungan terdekat saya: dibandingkan dengan saudara kandung, dibandingkan dengan kakak sepupu, dibandingkan dengan anak tetangga, dibandingkan dengan teman sekelas, bahkan dibandingkan dengan some random girls yang dibaca di media massa, the list goes on and on and on. Kita, sepertinya kenyang mengalaminya.

Lantaran gerahnya udah pol sekian tahun dibanding-bandingin melulu, sejak bisa mikir (usia 20an kayaknya, ups ... late bloomer alert! wkwkwk) saya belajar menumbuhkan kekebalan terhadap godaan membanding-bandingkan sesuatu dengan sesuatu, saya dan orang itu, orang itu dengan orang lain, kelompok dengan kelompok, hidup yang satu dengan hidup yang lain. I believe that life is not a race. Seklise, setiap orang punya jalan yang digariskan berbeda untuknya. Maka saya memutuskan untuk tidak menyakiti diri dengan membandingkan diri saya dengan orang lain. Sebuah goal yang sesungguhnya tidak mudah sama sekali.

"Hidup kamu tenang dong, ya, Nad?"

Oh, tidak dong. Saya menyadari kalau hidup saya terlalu sering out of balance yet kind of far from the ideal standard of our society. Saya merasa Nadia edisi mahasiswa S1 yang selalu tersenyum dan outgoing itu sudah menghilang perlahan, diganti oleh Nadia 28 tahun yang masabodo ini. I don’t like the world but I plan to live long, and I don’t care as much as I used to be. (Ironis, karena keseharian saya diisi mengurusi dan mereview buku-buku motivasi dan penyemangat hidup.)

Seiring dengan berjalannya waktu mendekati umur 30 tahun mendatang, saya malah nggak seperti dikejar target. Malah makin pasrah gitu. Something is utterly  freakin wrong with me, it must be!

Seorang motivator pernah disewa kantor saya akhir tahun lalu, tujuannya untuk menantang kami semua (para karyawan) dan “membakar” semangat kami untuk membuat goals tahun 2017. Saya paling males ya, sama motivasi dan resolusi, tapi akhirnya tetap membuat target dengan malas-malasan. Ya, kali bakalan terwujud. Bullshit semuaaa! (Kalau-kalau ibu saya baca lagi tulisan ini: Nggak kok, Mam. Becandaaa). Tapi ya, nggak ada yang nggak mungkin selama manusia niat, berdoa, dan berusaha. Ehmmm.

Nah, daripada target suruhan Bapak Motivator/Trainer kemarin bikin stress sendiri, mending saya coba set some goals yang ringan-ringan dulu aja nih, lebih ke reparasi kejiwaan saya.

·    Tidak membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Apapun tujuannya, ntah yang disebut bertujuan positif atau memacu sekali pun. Juts don’t. Kesempurnaan ala teman saya, biarlah buatnya, saya ikut senang. Saya cuma berharap mendapatkan karma baik, sehingga tidak ada juga yang repot-repot membandingkan dirinya dengan saya. *ya kali -_________-

·    Stop repot-repot memikirkan apa kata orang. Mereka yang tidak akan membantumu, tidak perlu menjadi beban di pikiranmu. Ini nih yang masih menjadi PR besar buat saya. Saya mungkin masih terlalu susah nggak mikirin orang bilang apa, apalagi kalau urusannya dengan penolakan. Ntah nggak digubris atau ditinggal kabur sama calon penulis yang sudah saya gadang-gadang sebagai unggulan. Sedihnya bisa meraung-raung dan langsung menyalahkan diri sendiri. Padahal harusnya saya berkaca ya, mungkin saya waktu meeting salah ucap atau tawaran yang saya beri kurang pas di hati mereka. But that was really hurt, ditolak nggak pernah membuatmu senyam-senyum semalaman. Hmmm. Okay, okay, I’ll try to deal with this as soon as I can. 

·    Sometimes, it’s good to run a conversation in your own head. I did this too often.

Sane version of me: “Kurang-kurangin lah bilang ‘Aku nggak suka kalo blabla’ sama semua hal yang ditawarkan ke kamu, Nad. Tanpa sadar sebenernya itu bikin kamu semakin males involve sama sesuatu. “
Real me: “Tapi gimana dong, kadang raut wajah nggak bisa bohong. Lambat laun pasti ketahuan, lah, palsu gitu jatohnya.”
Sane version of me: “Give more efforts lah, Nad. It won’t hurt you anyway.”
Real me: “Lho kok jadi aku yang dipojokin gini ... errr.”
Sane version of me: “Jadi maunya apa, mau takut-takut terus. Cari aman terus...”
Real me: “-______-“

(Shuhh, shuhh, percakapan imajiner di kepala saya kayak gini yang berusaha saya mediasi setiap kali saya bermeditasi. Lumayan lah, bikin nggak depresi)

·    Mencari kelebihan diri sendiri, sekecil apa pun, buat daftarnya. Rangkul dan kalau bisa tambah pelan-pelan. Misal: saya punya badan yang in sha Allah sehat dan pas menurut standard saya, I look good in clothes or in birthday suit. Hahaha, namanya juga belum beranak empat *tiba-tiba ada yang nimbrung nggak terima* ya, nggak apa-apa, dinikmati dulu aja. Dan ternyata saya punya photographic memory untuk hal-hal kurang penting seperti iklan, lagu dangdut, sampai acara TV 90an. Udah terlambat untuk dibukukan, tapi masih bagus untuk bahan lawakan (Apaan sih Nad nggak pentingggg!).  Mungkin, I’m too good at being young. Susah menebak usia asli saya kalau sudah masuk lingkungan baru. Adik saya yang lebih muda tiga tahun selalu dianggap Kakak saya, dan rekan-rekan di kantor jarang yang menambahkan panggilan “Mba” di depan nama saya, meski mereka lebih muda 2-3 tahun sekalipun. Kelebihan apa kekurangan ya, ini? Haha
Tip: Oh ya, setiap merasa kesulitan menemukan kelebihan diri sendiri, saya cari teman yang dianggap paling objektif dan bukan sahabat superdekat (dan apalagi, bukan keluarga, terlalu banyak potensi untuk jadi subjektif).

Kalau bisa mencapai target buat di atas tadi, baru deh bisa petantang-petenteng sedikit. Hehe...

Dan saya cukup pede meyakini bahwa banyak yang merasakan seperti apa yang saya rasa, menjadi generasi yang punya standard versinya sendiri. Asyik, saya ada temennya :')

And that’s true—everything was fine, the world didn’t end.

Love & light,
Nadia

No comments:

Post a Comment