Thursday, May 18, 2017

Si Jenius Multifungsi: Dari Tabungan, Dana Darurat, hingga Pengganti Kartu Kredit.

Suatu hari saya pernah di sebuah mal di bilangan Bundaran HI, dan seperti biasa saya ada perlu ambil uang ke ATM, eh di luar sudah ada petugas yang menawari aplikasi kartu kredit. Saya sebenernya serem juga sama kartu kredit, takut sama urusan perhutangan dan kekhawatiran nggak bisa bertanggung jawab di kemudian hari. Tapi setelah dipikir-pikir ya sebenernya perlunya juga banyak kok, misal kalau mau bayar Airbnb, beli buku di Amazon, naik Uber (dulu sebelum Uber bisa bayar pake cash), langganan Netflix, Spotify, beli lagu di iTunes, beli aplikasi di Playstore/Appstore, hingga bayar tiket konser atau festival di luar negeri. Blablabla, singkatnya saya pun apply kartu kredit tersebut. Selang sekitar dua bulan kemudian, saya dikabari kalau aplikasi saya ditolak. Ya udah belum dianggap mampu nih buat punya kartu kredit di sana. Kejadian yang sama terjadi lagi, harapan itu timbul saat saya sedang antre di customer service Bank yang sama sekitar enam bulan kemudian, ada petugas yang nawarin kartu kredit, saya apply lagi. Ditolak sebulan setelahnya. AGAIN? Sedih HIKSSS.

Fyi, I am a sucker for the good products.
Saya “murah” banget dalam hal memberi rekomendasi kalau sudah mengalami pengalaman menyenangkan dengan jasa atau produk, hihihi. Meski selalu saya tekankan kalau itu berdasarkan pengalaman saya ya, bisa berbeda kalau misal dialami orang lain. Saya usahakan untuk selalu jujur dari lubuk hati terdalam, nggak ada untungnya juga terlalu dibagus-bagusin, saya dibayar sebagai buzzer juga nggak. Eh tapi tapi kali ini saya  khusus memuji sebuah produk perbankan yang menurut saya adalah pelipur lara dari masalah penolakan kartu kredit yang saya ceritakan sebelumnya. Everyone, meet Jenius. Jenius, meet everyone *dadah-dadah*

Pertama kali tahu Jenius itu lantaran saya datang ke acara launching buku Finchickup 2 di Cilandak Townsquare awal Desember 2016 lalu. Booth produk urban keluaran Bank BTPN ini ramai kayak cendol, Jenius crews bertebaran di mana-mana, saya jadi penasaran dan memutuskan untuk daftar setelah dijelaskan secara garis besarnya. Karena itu event khusus,  saya dapat bonus flasdisk dan phone holder, serta bisa langsung dapat kartu fisik (bentuknya mirip ATM) tanpa menunggu dua minggu.

Ngobrolin Jenius dan pengelolaan keuangan ala Finchickup

Sampai dua bulan kemudian kartu dan aplikasi Jenius ini saya anggurin aja. Belum dapat hidayah untuk mempelajarinya lebih lanjut *alasan* Sampai sekitar tiga bulan yang lalu ketika saya sedang beberes dan decluttering aplikasi di smartphone, saya nemu lagi aplikasi Jenius ini. Iseng buka lagi, ternyata saldo saya sudah nambah Rp100.000, padahal nggak pernah diisi. Well, cashtag saya $baiqnadia yang sebelumnya dipakai sebagai kode referensi oleh dua orang teman yang daftar Jenius ternyata sudah aktif. Setelah itu adik saya terhasut untuk daftar jenius juga dengan cashtag saya, dan saya dapat lagi, dia juga dapat. Lumayan banget, kan?



Secara umum, ini semua keunggulan Jenius.

Mau berbagi dikit aja nih ya, ada beberapa poin penting Jenius yang jadi favorit saya:
  • PENGGANTI FUNGSI KARTU KREDIT. Nah, ini dia fitur primadona kesayangan saya. Sengaja saya taruh di poin teratas karena inilah inti kenapa saya mempertahankan Jenius *halah*. 
Pada aplikasi Jenius terdapat yang dinamakan m-Card atau kartu debit fisik berlogo Visa yang berfungsi juga sebagai kartu ATM di ATM Bank BTPN maupun mesin ATM yang berlogo Prima dan ATM Bersama. (Amit-amit nih ya, tapi kalau sampai kejadian kartu hilang atau tertelan, kita nggak perlu repot dan ngeluarin pulsa buat menghubungi call center. Tinggal buka aplikasi Jenius dan diblokir dari sana. Aduan akan ditindaklanjuti dan dikirimi kartu baru.)

m-Card dan e-Card
Lalu ada yang dinamakan e-Card atau kartu elektronik berlogo Visa yang bisa membantu memuluskan transaksi online shopping. Kebayang dong karena pakai logo Visa, otomatis kartu ini berlaku secara internasional seperti kartu kredit, mau belanja di e-commerce luar negeri sudah pasti akan berjalan lancar. Yang jualan dan transaksinya lintas negara sehingga butuh bikin akun Paypal (yang untuk bikinnya membutuhkan kartu kredit juga) jadi bisa. Terutama buat anak muda yang perlu membeli aplikasi di App Store atau Play Store, langganan Spotify, Uber, beli filter VSCO, langganan Netflix, atau yang lain semua bisa dilakukan tanpa ngutang, jadi nggak perlu kartu kredit lagi, cukup gunakan nomer kartu dan CVV code yang ada di e-Card. Semuanya bisa, selama  saldo e-Card kita tetap ada isinya ya. Cara ngisinya? Gampang, tinggal top up dari saldo utama, 5 detik selesai.
Udah, dua kartu ini dulu yang saya kenalkan di awal. Masih ada satu lagi yaitu x-Card, yang bisa diaktifkan, tapi gapapa ya tau dua jenis kartu di atas dulu saja. Itu dibahas kalau udah pengin lebih, yaaa.
Penampakan e-card di aplikasi smarphone saya

  • Untuk daftar dan punya aku Jenius, kita nggak harus datang ke Bank BTPN, selama kita punya smartphone dan koneksi internet (kalau bisa yang stabil dan oke). Semuanya dimulai dengan men-download aplikasi di Google Playstore atau Appstore, setelah itu kita diminta untuk selfie (iya foto muka sendiri), foto KTP, foto NPWP*, dan menyelesaikan beberapa langkah sisanya. Canggih! Kartu jenius  virtual (e-card) bisa langsung dipakai saat itu juga, sedangkan kartu fisik (m-card) akan dikirim ke alamatmu dua minggu setelah daftar, kira-kira. Berlaku untuk segala macam transaksi. Bebas biaya kalau transfer ke Bank lain lho (jatah bebas transfernya maksimal 25 kali dalam sebulan), cuma ya kalau mau ngisi saldo dari Bank lain ke Jenius tetap dikenakan biaya antarbank kayak biasanya.
*Kalau belum punya NPWP gimana? That’s not really a problem I think (meskipun sebagai warga negara yang baik, kalau udah cukup umur sebaiknya sih kita segera bikin, buat kebaikan jangka panjang lho ini), meski saya nggak yakin awalnya tapi ternyata pas googling ada yang bilang bisa. Adik saya yang belum punya NPWP memilih cari aman dan berhasil bikin rekening Jenius, tapi dia langsung ke Bank BTPN, dibantu sama CS. Hehehe...

Penampakan halaman utama aplikasi ini

  • Alih-alih sekadar nomor rekening, Jenius punya tanda pengenal khusus yang disebut cashtag ($), misalnya saya punya username rekening $baiqnadia serasi dengan semua akun medsos saya, hehe. Fungsinya jadi bisa transfer* dan menerima ke sesama akun Jenius dengan bekal masukin cashtag tok. Nggak susah inget-inget atau buka catatan no.rekening.
*Kalau transfer ke bank lain bisa? Atau terima dari bank lain? Tentunya bisa. Untuk top up dari bank lain per transaksi dikenakan tarif antar bank, tapi kalau mengirim dari rekening Jenius ke bank lain? Itu gratis, setidaknya kita diberi kuota transaksi 25 kali gratis setiap bulannya.

Fitur Flexy Saver & fasilitas gratis transfer ke Bank lain, hahaha gils abisss

  • Tabungan yang bisa kamu beri nama dan target sendiri. Wih, saya misalnya bikin tabungan buat kurban, nah itu dianggarkan sejumlah nominal tertentu dan didebet tiap bulan. Bisa buat tabungan* sesuai tujuan dari tabungan darurat, Dream Saver (tabungan impian: liburan, beli gadget, dll), semua bisa kita buatkan pos-posnya sendiri. Jadi sudah disisihkan dan tidak saling mengganggu jatah.

*Batal pengin nabung dan nggak mau melanjutkan lagi rencana menabung? Semudah tap-tap rencana menabung sudah bisa dibatalkan dan uang pindah lagi ke saldo utama

  • Fitur Split Bill atau memisahkan dan menagih tagihan kalau habis makan bersama, men...  fitur yang nggak kalah JENIUSSS! Berhubung saya sendiri belum pernah mempraktikkannya jadi cek video di bawah ini, ya. Demi menghindari pertumpahan darah karena ada pihak yang nggak sadar dengan utang-utangnya. Hihihi. Jenius, isn't it?


That’s it. Intinya, saya cuma mau share dikit aja, karena saya beneran merasa terbantu oleh fitur Jenius produk Bank BTPN ini. Sebetulnya saya ini tipikal yang cemen dan malas sama kampanye segambreng dari produk perbankan. Tapi saya akhirnya nyobain Jenius karena penasaran dan sempat baca kalau fungsinya bisa seperti kartu kredit rasa kartu debit. Wah, kece juga nih daftarnya gampang tinggal download aplikasinya, user interfacenya juga gampang dipelajari, dan ternyata beneran bisa menggantikan fungsi kartu kredit. Alhamdulillah, seneng bangettt.

Akhir kata, selamat membaca, semoga bermanfaat. Sila komen dan tanya jika ada yang penasaran. Masih banyak sih yang bisa digali dari si aplikasi Jenius ini. Yuk kalau ada yang tahu lebih banyak, kita saling bagi atau bahkan mengoreksi saya di sini. Btw, sekali lagi ini bukan endorse. Cuma suka sharing aja soalnya produknya beneran bagus. Kalo biasa-biasa aja dan nggak ada yang baru, saya juga malas bikin tulisan khusus (ya tahu dong saya gimana tingkat kemalasannya, hahaha). Saya cuma pesan satu kepada calon Jeniuser yang budiman, kalau pas daftar dan mengisi referal code silakan pakai cashtag saya $baiqnadia, saya dapat saldo tambahan Rp50.000, kamu yang sudah mengaktifkan kartu juga dapat nominal yang sama (saldo tambahan ini masuk dua minggu kemudian). Terima kasih :).



Love & light,
Nadia

Thursday, March 16, 2017

Unqualified Advice #1

Salah seorang teman baik saya punya standard kesempurnaan seorang wanita tertentu yang dia tetapkan untuk dirinya sendiri. Beberapa di antara yang ia ungkapkan ke saya, antara lain:

1. Bisa menyetir mobil
2. Bisa berenang
3. Bisa memasak (layak)
4. Bisa menjahit (bukan cuma jahit kancing baju, ya)
5. (Belakangan saya baru mendapati ini) rajin traveling, ntah itu di Indonesia lebih bagus luar negeri dengan suasana perkotaan.
... Hingga semuanya berhasil ia wujudkan satu demi satu.

Itu sangat keren lho, menurut saya, karena dia menetapkan goals tersebut untuk dirinya dan semuanya sudah tercapai. Sebagai tambahan dia juga sudah menikah di usia yang ia idamkan, kini hidup bahagia dengan suami dan seorang anak yang lucu dan cerdas. Tanpa bermaksud mengecilkan ibu rumah tangga (oh come on, kita semua tahu profesi full-time ibu rumah tangga itu super duper keren nothing can change that fact), tapi teman saya ini punya pekerjaan—yang kadang sering dia keluhkan, tapi siapa sih yang mau menyombongkan pekerjaannya—sesuai dengan passionnya, she’s living the dream! Hidupnya sempurna karena dia keras berusaha menyempurnakannya. Hats up!

Bagaimana dengan kekurangan? Ah, kalau menurut saya sih hampir tidak ada: yang dia anggap sebagai kekurangan justru saya anggap keunggulan. Jadi lebih sempurna, kan?

Kalau saya mau pakai falsafah iri dengki, wah dari kapan tau sudah bunuh diri atau minimal berakhir di rumah sakit jiwa lah saya (ekstremnya begitu, but naudzubillahimindzalik, amit-amit). In fact, saya yang nggak ada seujung kukunya mendekati standard teman saya tadi, masih hidup dengan mental yang ulala-yeyeye hingga saat saya meluncurkan tulisan ini. Terlepas dari itu hanya pencitraan yang saya bangun, atau saya murni tidak ambil pusing dengan kesempurnaan orang lain. Bingung juga ya, kalau mau diambil pusing. Habis pusing memikirkan kesempurnaan teman yang satu, eh, di luar sana masih banyak jenis seperti teman saya ini nggak hanya satu, tapi banyaaak. Nggak kelar-kelar depresi karena menatap kesempurnaan orang lain.

Saya bukan orang yang secara sengaja membanding-bandingkan (mungkin kalau secara nggak sengaja beberapa kali, ya, namanya juga orang biasa) hidup saya dengan orang lain. Penyebabnya mungkin sejak kecil saya terbiasa dibandingkan dari lingkungan terdekat saya: dibandingkan dengan saudara kandung, dibandingkan dengan kakak sepupu, dibandingkan dengan anak tetangga, dibandingkan dengan teman sekelas, bahkan dibandingkan dengan some random girls yang dibaca di media massa, the list goes on and on and on. Kita, sepertinya kenyang mengalaminya.

Lantaran gerahnya udah pol sekian tahun dibanding-bandingin melulu, sejak bisa mikir (usia 20an kayaknya, ups ... late bloomer alert! wkwkwk) saya belajar menumbuhkan kekebalan terhadap godaan membanding-bandingkan sesuatu dengan sesuatu, saya dan orang itu, orang itu dengan orang lain, kelompok dengan kelompok, hidup yang satu dengan hidup yang lain. I believe that life is not a race. Seklise, setiap orang punya jalan yang digariskan berbeda untuknya. Maka saya memutuskan untuk tidak menyakiti diri dengan membandingkan diri saya dengan orang lain. Sebuah goal yang sesungguhnya tidak mudah sama sekali.

"Hidup kamu tenang dong, ya, Nad?"

Oh, tidak dong. Saya menyadari kalau hidup saya terlalu sering out of balance yet kind of far from the ideal standard of our society. Saya merasa Nadia edisi mahasiswa S1 yang selalu tersenyum dan outgoing itu sudah menghilang perlahan, diganti oleh Nadia 28 tahun yang masabodo ini. I don’t like the world but I plan to live long, and I don’t care as much as I used to be. (Ironis, karena keseharian saya diisi mengurusi dan mereview buku-buku motivasi dan penyemangat hidup.)

Seiring dengan berjalannya waktu mendekati umur 30 tahun mendatang, saya malah nggak seperti dikejar target. Malah makin pasrah gitu. Something is utterly  freakin wrong with me, it must be!

Seorang motivator pernah disewa kantor saya akhir tahun lalu, tujuannya untuk menantang kami semua (para karyawan) dan “membakar” semangat kami untuk membuat goals tahun 2017. Saya paling males ya, sama motivasi dan resolusi, tapi akhirnya tetap membuat target dengan malas-malasan. Ya, kali bakalan terwujud. Bullshit semuaaa! (Kalau-kalau ibu saya baca lagi tulisan ini: Nggak kok, Mam. Becandaaa). Tapi ya, nggak ada yang nggak mungkin selama manusia niat, berdoa, dan berusaha. Ehmmm.

Nah, daripada target suruhan Bapak Motivator/Trainer kemarin bikin stress sendiri, mending saya coba set some goals yang ringan-ringan dulu aja nih, lebih ke reparasi kejiwaan saya.

·    Tidak membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Apapun tujuannya, ntah yang disebut bertujuan positif atau memacu sekali pun. Juts don’t. Kesempurnaan ala teman saya, biarlah buatnya, saya ikut senang. Saya cuma berharap mendapatkan karma baik, sehingga tidak ada juga yang repot-repot membandingkan dirinya dengan saya. *ya kali -_________-

·    Stop repot-repot memikirkan apa kata orang. Mereka yang tidak akan membantumu, tidak perlu menjadi beban di pikiranmu. Ini nih yang masih menjadi PR besar buat saya. Saya mungkin masih terlalu susah nggak mikirin orang bilang apa, apalagi kalau urusannya dengan penolakan. Ntah nggak digubris atau ditinggal kabur sama calon penulis yang sudah saya gadang-gadang sebagai unggulan. Sedihnya bisa meraung-raung dan langsung menyalahkan diri sendiri. Padahal harusnya saya berkaca ya, mungkin saya waktu meeting salah ucap atau tawaran yang saya beri kurang pas di hati mereka. But that was really hurt, ditolak nggak pernah membuatmu senyam-senyum semalaman. Hmmm. Okay, okay, I’ll try to deal with this as soon as I can. 

·    Sometimes, it’s good to run a conversation in your own head. I did this too often.

Sane version of me: “Kurang-kurangin lah bilang ‘Aku nggak suka kalo blabla’ sama semua hal yang ditawarkan ke kamu, Nad. Tanpa sadar sebenernya itu bikin kamu semakin males involve sama sesuatu. “
Real me: “Tapi gimana dong, kadang raut wajah nggak bisa bohong. Lambat laun pasti ketahuan, lah, palsu gitu jatohnya.”
Sane version of me: “Give more efforts lah, Nad. It won’t hurt you anyway.”
Real me: “Lho kok jadi aku yang dipojokin gini ... errr.”
Sane version of me: “Jadi maunya apa, mau takut-takut terus. Cari aman terus...”
Real me: “-______-“

(Shuhh, shuhh, percakapan imajiner di kepala saya kayak gini yang berusaha saya mediasi setiap kali saya bermeditasi. Lumayan lah, bikin nggak depresi)

·    Mencari kelebihan diri sendiri, sekecil apa pun, buat daftarnya. Rangkul dan kalau bisa tambah pelan-pelan. Misal: saya punya badan yang in sha Allah sehat dan pas menurut standard saya, I look good in clothes or in birthday suit. Hahaha, namanya juga belum beranak empat *tiba-tiba ada yang nimbrung nggak terima* ya, nggak apa-apa, dinikmati dulu aja. Dan ternyata saya punya photographic memory untuk hal-hal kurang penting seperti iklan, lagu dangdut, sampai acara TV 90an. Udah terlambat untuk dibukukan, tapi masih bagus untuk bahan lawakan (Apaan sih Nad nggak pentingggg!).  Mungkin, I’m too good at being young. Susah menebak usia asli saya kalau sudah masuk lingkungan baru. Adik saya yang lebih muda tiga tahun selalu dianggap Kakak saya, dan rekan-rekan di kantor jarang yang menambahkan panggilan “Mba” di depan nama saya, meski mereka lebih muda 2-3 tahun sekalipun. Kelebihan apa kekurangan ya, ini? Haha
Tip: Oh ya, setiap merasa kesulitan menemukan kelebihan diri sendiri, saya cari teman yang dianggap paling objektif dan bukan sahabat superdekat (dan apalagi, bukan keluarga, terlalu banyak potensi untuk jadi subjektif).

Kalau bisa mencapai target buat di atas tadi, baru deh bisa petantang-petenteng sedikit. Hehe...

Dan saya cukup pede meyakini bahwa banyak yang merasakan seperti apa yang saya rasa, menjadi generasi yang punya standard versinya sendiri. Asyik, saya ada temennya :')

And that’s true—everything was fine, the world didn’t end.

Love & light,
Nadia

Wednesday, February 22, 2017

The Time When I Needed Some Headspace


Hampir dua minggu belakangan saya merasa kurang nyaman dengan kondisi tubuh saya, memang sih nggak sampai jatuh sakit (alhamdulillah). Saya jadi susah tidur, padahal saya bukan tipe manusia nokturnal lho normalnya, jam 9 saya udah ngantuk, leren-leren, jam 10 sudah lelap. Sudah dalam taraf mengkhawatirkan deh kalau udah begini, dan terjadi hampir setiap hari. Nggak pengaruh walaupun saya sehabis memeras otak seharian di kantor, lalu langsung pengin tidur awal ... tetep nggak bisa. Paginya jadi grumpy :(


Hmmm ....

Selalu ya, setiap saya mulai menyadari kalau ini adalah masalah, mulai deh saya gelisah banyakin baca macem-macem artikelself-help, namatin ulang bacaan saya berbulan-bulan belakangan ini, The Circle (malah makin puyeng), maraton serial Black Mirror-nya Netflix (kayaknya ini deh pangkal masalahnya, wkwkwk). Nggak membantu sama sekaliii.

Kesimpulan pertama: banyakin baca Al-Qur’an sampai ke makna yang sebenernya, deh, Nad. Oh it’s sounds easy, but not really, but I’ll keep trying Insha Allah. *Mama saya biasanya baca blog ini, nih. Ehem ...
Kesimpulan dua: pastilah ini karena saya terlalu banyak punya waktu luang. Stamina single bertemu dengan badan yang malas gerak. Deadly, wahahaha.

Atau ... kesimpulan ketiga (mulailah saya sotoy menganalisasi asupan gizi saya): oh, iya sih saya kebanyakan karbohidrat dan gula. Bahkan sampai malam pun saya masih ngunyah makanan manis. Yang artinya metabolisme saya masih terus aktif sampai larut malam, pantesan pikiran saya aktif wandering out nggak jelas menolak lelap. Ok, I got it. Saya akan mencoba disiplin ngurangin karbohidrat dan gula di kala malam. Gula dari buah (fruktosa) juga termasuk ya, namanya tetep gula.

 ...

Sampai guliran jempol ini akhirnya berpapasan artikel di blog Mamak Suri, the one and only, Mba Dee Lestari.Tersebutlah trilogi artikel “Menulis Sehat” yang sebenarnya nggak 100% related dengan masalah susah tidur saya tadi. Namun ntah kenapa tulisan bagian ke-3 yang saya baca itu sejak awal terasa begitu menyegarkan untuk saya.

Ibarat komputer yang sesekali perlu di-defrag agar kembali optimal, dan ibarat hunian yang sesekali perlu di-declutter agar kembali lapang, batin kita pun membutuhkan proses bersih-bersih. Meski bukan seorang penulis ataupun pekerja kreatif, dan tanpa perlu menjadi terapis ataupun spiritualis, berikut ini saya pilihkan beberapa keterampilan yang cukup praktis dan sederhana untuk dilakukan oleh siapa pun. Apa pun profesi Anda.


Jadi mungkin masalah tidur saya tadi ada hubungannya dengan ini, kurangnya ruang lapang di kepala. Aka, “Banyak pikiran, nih,” Kebayang kalau teman saya si Awe sampai baca, kalimat tadi pasti langsung diucapkannya sekadar untuk membuat saya kesal -_-

Ok, balik lagi ke artikel Mba Dee (yang sebenarnya bisa langsung kamu buka di sini), keterampilan praktis bin sederhana yang disarankan pertama kali adalah meditasi. Jangan tanya lagi manfaat meditasi, terlalu banyak terlalu mulia untuk disangkal.

Right.

Saya nggak punya waktu, ah. Sekalian sholat aja, lah. Nggak sanggup ngeluangin waktu dan uang untuk ikutan retret khusus meditasi. Huft. Kira-kira begitu ya pikiran spontan saya. Namun setelah baca lagi sampai tuntas, merembet ke baca artikel-artikel prekuelnya, maaan, I think I do really need to make some space in my head.

Ya, menurut pengalaman Mba Dee, cara terbaik merasakan perubahan dan manfaat meditasi tadi adalah dengan mengikuti retret. Kehadiran seorang guru atau pemandu akan sangat membantu meditator pemula. Cara terbaik kedua adalah dengan memanfaatkan apa yang sudah kita punya sekarang: smartphone dan internet! Coba deh install aplikasi seperti Headspace atau Calm. Lakukan rutin 10-20 menit saja setiap hari, hasilnya berbeda pada setiap orang pastinya.

Sebagai manusia reaktif dan gemar bereksperimen dengan diri sendiri, saya install Headspace, mungkin setelah ini akan coba Calm. Baby steps, Nad, baby steps ... Surprisingly, tampilan muka aplikasi ini nggak seperti bayangan saya yang bakalan serius dan serba zen. Malah kita akan langsung disambut video animasi tentang memulai meditasi. Sederhana, seperti video di bawah:

Bagaimana memulainya

 Kubonusin presentasinya Andy Puddicombe (Headspace's founder) di Ted Talk

Selanjutnya, saya yang mudah terpengaruh ini pun terjerumus. Saya mulai mencoba paket dasar 10 hari meditasi, 10 menit setiap harinya. Bukan merem-merem sendiri diiringi musik mendayu ternyata, melainkan hening dipandu sama suara penuh damai dari konsultan meditasi sekaligus founder aplikasi ini, Andy Puddicombe di sana. Lumayan. Setiap hari saya coba secara random sesempatnya saya, kadang pagi sehabis bangun, kadang sebelum tidur, pernah saat siang dan penat sama kerjaan. Bebaaasss. Belum kerasa manfaat drastisnya, tapi mindset saya soal meditasi jadi berubah banget. Bisa ya, dibawa semenyenangkan sekaligus menenangkan gini. Kalau sudah tamat trial 10 hari, kita bisa pakai fitur lainnya dengan syarat harus berlangganan setiap bulannya, Rp189.000,00, dan bisa berhenti saat sudah tidak dibutuhkan. Mahal nggak mahalnya tergantung kebutuhan masing-masing orang, jadi saya sarankan mending coba trial 10 harian itu dulu.

Harus lulus 10 hari superbasic dulu.

Dipilih-dipilih sesuai kebutuhan.

Nah nah nah, my kind of concern.
 
Saya masih kurang sehari lagi nih dari paket dasar 10 hari saya, rencananya setelah 10 hari saya mau coba fitur lainnya menyasar masalah kesehatan dan harmoni secara spesifik. Misal tersedia paket khusus meditasi untuk penderita kanker, depresi, kepercayaan diri, stress, gelisah, masalah tidur (nah!), dan kehamilan. Ada pula meditasi untuk anak-anak. Ck ck ck, can modern apps be more helpful than this?

Well, manusia cuma bisa berusaha, coba-coba dan nyerocos di blog begini. Sisanya ditentukan dengan itikad untuk konsisten dan izin Allah SWT *apa sih, Nadddd, get a grip! Hahaha.

Segitu dulu untuk hari ini, pelampiasan curhat di blog sudah saya tunaikan juga akhirnyaaa. Dan saya rasa saya akan semakin berbunga-bunga kalau ada yang mau memberi saran lainnya. Terima kasih sudah berkunjung ke sini :)


Love & light,

Nadia

Thursday, February 9, 2017

Kagok-Kagok Seru di Workshop Membuat Daluang Clutch Bag


Semakin sering ikutan segala bentuk workshop, saya semakin sadar kalau saya bukan orang yang naturally gifted atau langsung jago saat melakukan sesuatu pada kali pertama. Lah, seperti layaknya orang, kan? So why are you make that such a big deal, my dear self? Hahaha, ya nggak apa-apa, dengan menyadari hal itu ada kalanya bisa bikin saya lebih rendah hati. Well, nggak ada yang bisa disombongin juga, sih :p

Sabtu lalu (4/2), saya berkesempatan ikut dalam sebuah rangkaian workshop yang digagas oleh Kriya Indonesia didukung oleh Brother Indonesia dan Pesona Jogja Homestay. Harus saya akui acara ini melebihi ekspektasi saya. Saya yang sudah melihat poster acara ini sempat berpikir acara ini bentuknya bakal seperti demo membuat clutch bag, diselingi dengan penjelasan mengenai daluang itu sendiri. Ternyata, workshop ini beneran workshop, yang sangat mengharuskan semua pesertanya turun tangan, pegang langsung, hands on. Panik dong saya, panikkk. Kan saya nggak bisa jahit sama sekali, terakhir kali saya pegang mesin jahit jadul merek “kupu-kupu” adalah saat umur 8 tahun, sisanya saya cuma dibekali skill jahit jelujur sisa pelajaran PKK saat SMP.

*tarik napas*

Ternyata nggak seserem itu kok, acara dimulai pukul 9.00 pagi itu dimulai dengan santai: sarapan, cipika-cipiki sesama peserta dan pihak penyelenggara. Lalu, mulailah Mba Astri Damayanti (crafter dan co-founder Kriya Indonesia), Mak Tanti Amelia (seniman doodle, edukator) dan Prof. Ishamu Sakamoto (ahli daluang). Masuk ke bagian seputar dunia daluang, bahasan jadi semakin membuka pikiran. Daluang yang sekilas terlihat seperti kertas papirus ini ternyata sangat bernilai jual tinggi (selembar daluang berukuran 90x70 cm harganya bisa mencapai Rp350.000, lho). Ternyata proses pembuatan daluang itu sendiri juga lumayan ribet, bahannya berasal dari kulit pohon mulberry harus diproses dalam tujuh tahapan yang harus diselesaikan dalam sehari saja. Fakta miris, sekaligus alasan mengapa Kriya Indonesia menggagas workshop ini ke berbagai kota, adalah karena daluang (—deluang, dalam bahasa Jawa) ini sedang terancam punah. Persebarannya di nusantara sendiri mulai berkurang, tinggal daerah-daerah seperti Jawa Barat, Jogja, Bali, Lombok, dan Kalimantan yang masih mengenalnya. Sementara, di Hawai dan Jepang, kain ini tetap semangat dilestarikan sama para ahli. Nah, saya yang dari Lombok aja baru mendengar nama kain ini kemarin saat workshop .... :(

*buang napas*

Mba Astri, Mak Tanti, dan Sakamoto Sensei

Setelah puas bertanya dan dijawab langsung oleh , kami mulai belajar dasar-dasar menggunakan mesin jahit GS2700 dengan 27 pola jahitan (whattt) yang disediakan sama tim Brother Indonesia. Menjahit clutch bag sederhana seharusnya tidak sulit, menurut mereka. Tetap ajaaa, saya merasa terintimidasi, jadi  berani liat dari jauh dulu aja. Mba Astri aja gemezzz karena saya kesannya kayak kagok  gitu sama mesin jahit, hahaha, untung nggak lama saya berani deh pegang mesinnya. Terus jadi malah ... keasyikaaaan! AAAAAA! Weeerrr ... werrr ... mesinnya canggih dan didorong gitu aja udah bisa bikin hasil yang rapi. Nggak usah keringetan gimana, jari megal-megol buat sekadar ngurusin jaitan yang lurus, semuanya berjalan smooth ... wussshhh. Kecanggihan teknologi dan harga emang nggak bisa bohong, membantu sekali. Fixed, mesin jahit itu masuk ke daftar keinganan saya!


Sayangnya urusan ternyata aku nggak bakat dan nggak sabaran ya, yang bikin saya beberapa kali  merombak apa yang sudah dijahit. Bongkar-jahit-setrika-jahit, huh haaah, trus bisa selesai dengan perjuangan selama dua setengah jam. Alhamdulillaaah!
 
Foto oleh Tim Kriya Indonesia

Udah kaku-kaku ya tangan saya, tegang takut gagal, hahaha. Makanya setelahnya kami digiring untuk melemaskan jari di sesi doodling bersama Mak Tanti. Kala itu bukan pertemuan pertama saya dengan Mba Tanti sih,  tapi itu kali pertama saya disadarkan kalau Mak Tanti memang sangat pro di bidang doodling, terutama sebagai pengajar untuk anak-anak. Saya suka prinsip beliau yang teramat membebaskan kami mencorat-coret, nggak ada karya yang jelek baginya. Semringah, bisa rileks banget karena duduknya lesehan di salah satu ruang santai yang tersedia di Pesona Jogja Homestay. Sesi menggambar gambar doddle town —yang jadi ciri khas di tiap workshop Mak Tanti, juga kami jalani dengan sukacita. Sayangnya karena keterbatasan waktu dan bentrok sama sesi kedua (kloter lainnya yang mulai workshop siang jam 13.00), kami nggak sempat menggambar di atas daluang clutch bag bikinan kami. Eh, tapi tanpa digambarin sebeneranya clutch bag-nya udah memikat juga hasilnya lebih alami dan sederhana.

Mak Tanti yang semangatnya tingkat dewa, nular ke kami

Hasil doodle town + clutch buatan saya yang nggak sempurna.

Di luar drama saya yang kagok sama mesin jahit tadi, I had so much fun that day. Nggak kapok juga kalau disuruh jahit-menjahit dan gambar-menggambar sesuatu. Saya juga akan punya kesan yang beda saat melihat kain daluang dalam bentuk yang beragam, oh it's such a  precious natural fabric :’)

Terima kasih untuk semua mentor dan pihak yang sudah mendukung, we had so much fun!

Love & light,
Nadia

Tuesday, February 7, 2017

Cerita Perantara

Bekerja di dunia penerbitan membuat saya sangat sering mendengar ungkapan, ”Kalau penulis itu raja, maka editor adalah dewa.” It makes so much sense for me. Dalam kondisi tertentu, setiap penulis harus menghormati pendapat editornya, begitu juga sebaliknya, demi kebaikan bersama.

Ok, editor dewa, penulis adalah raja ya, got it.

Nah. Kalau saya, mungkin lebih memilih analogi editor sebagai “Perantara”. Bukan karena gimana-gimana, saya lebih nyaman saja merasa di posisi itu, posisi perantara penulis untuk menyebarkan gagasannya dalam medium buku. Perantara perasaan pembaca, sedekat mungkin supaya bisa klop dengan apa yang disampaikan penulis. Mana jadi “dewa” kesannya berat, luhung, ah saya belum sampai di posisi itu, masih jauh kalau harus menengok editor senior seperti Mba Mirna Yulistianty (editor senior Gramedia), Mba Windy Ariestanty (mantan CEO Gagas Media, editor senior), atau Mas Imam Risdiyanto (editor senior Bentang, pemred saya sendiri).

Dengan menjadi “perantara” tadi, saya berharap bisa live up the name. Saya sih inginnya terus menemukan, menyambut, menghubungkan penulis dengan pihak-pihak strategis supaya membantu mewujudkan ide-ide apapun itu, dan bergerak bersama mengenalkan buku itu ke pembaca. Tak ada yang harus merasa lebih tinggi dari yang satu, it’s a partnership. Kompromi sudahlah dan akan selalu jadi makanan sehari-hari.

Empat tahun terasa seperti sekedipan mata. Cepet bangettt, nggak kerasa April mendatang sudah 4 tahun saya berada di dunia penerbitan. Saya sering mengernyit kalau ingat di awal saya sangat kagok, dunia majalah yang tempat saya berkarya sebelumnya punya flow yang berbeda, dunia penerbitan adalah rimba lainnya. Saya belajar dari bawah, benar-benar bersusah-susah dahulu. Dalam proses pembelajaran tadi, beberapa kali saya mengacau, membuat rugi, membuat teman-teman terpaksa ikut belajar dari kesalahan yang saya lakukan. Huhuhu... sedih? Iya banget, beberapa kali pengin bilang, "I've had enough, I wanna quit..." Apalagi sampai sekarang saya masih menyimpan memori sedih saat saya mengecewakan penulis-penulis yang sudah bekerja sama dengan saya, maaf sepertinya sudah nggak relevan diutarakan terus-terusan. Butuh waktu bertahun-tahun sampai saya berani meyakinkan diri saya untuk bertahan —saya menyebutnya sebagai momen kebangkitan klasik, saat saya memutuskan untuk berjalan lagi, mengasah diri lebih keras supaya bisa lebih berkembang.

Apa yang saya lakukan sekarang?

Kilas balik selama setahun kemarin, saya merasa semakin menikmati pekerjaan saya. Saya menangani sejumlah buku yang tak cuma bagus tapi sudah dalam tahap mengubah hidup (setidaknya, pada hidup saya). Itu lah risikonya memiliki karakter mudah terpengaruh, hehe, jadi sangat mudah ya terinspirasi oleh ide dalam buku. Sebagai editor nonfiksi dengan pangsa pembaca muda (18-35 tahun), buku-buku yang saya bantu kelahirannya semuanya punya korelasi nyata dengan kehidupan saya, dan semuanya bermutu tinggi —I’m not just bragging, that’s just the truth. 


Beberapa buku yang saya tangani pada 2016, masih banyak yang belum terfoto. Ahh, sistem arsip yang ambyar di perpus kantor saya memang kadang bikin buku lebih sulit ditemukan daripada di toko buku, hihihi.

 Buku yang mengubah hidup banyak jiwa, termasuk editornya sendiri.

I had a great time working with her, Mba Sophie itu superhumble, perfeksionis, tapi masih mau mendengar saran dari saya. Rasanya terberkati sekali.

Tak perlu banyak cingcong, buku The Naked Traveler 7 dan penulisnya sudah menunjukkan taringnya. Best travelogue made by an Indonesian ever!


Saya SELALU bersyukur dengan kesempatan untuk bekerja sama dengan para penulis yang tak hanya berbakat, tapi juga baik budinya luar dan dalam. Ini yang saya sebut dengan rezeki berlimpah, semoga bisa terus menjadi perantara mereka ke pembacanya, dan semoga saya bisa terus bertemu dengan penulis (((ber-poison))) lainnya dengan segala keunikan, bakat, dan karakter.

Mungkin salah seorang di antaranya adalah kamu, wahhhaaaiii pembaca blog yang budiman? :)



Love & light,
Nadia

Friday, January 20, 2017

Review 2016 yang Superterlambat

Selamat datang di 2017! (jangan protes dulu, ini tahun baru versi blog saya, ya biasalah memang suka delay gini orangnya).

Sebenarnya tulisan ini jadi semacam pelunasan untuk hutang saya lebih dari setengah tahun absen menulis blog. Haha, gaya, padahal di awal tahun udah sempat on fire banget tuh menulis rangkuman apa saja yang saya pelajari dari workshop & pergaulan Jogja.  Let me make it up for now.

Ok, sejak berumur 27 saya keukeuh selalu menyederhanakan resolusi, fokus nggak macam-macam. Satu-dua-tiga terwujud sudah bikin sangat bersyukur. Sekarang masih sama, penginnya begitu. Menjadi lebih sederhana, semakin mengakrabi diri saya beserta sisi yang sebelumnya saya pojokkan di tiap sudut pikiran. Saya ingin merangkul "Nadia versi 24 tahun" yang babak belur dan masih menangis itu. Sini Nad, kupeluk. You know what? We're going to be fine... I mean look at us now, we're looking much much better, right? :).

Now, I only feel nothing but gratefulness. Bukan mau terlihat sok-sok gimana, tapi bersyukur membuat segalanya lebih ringan.

Sebelum menulis ini saya sebenarnya sudah menyiapkan tulisan yang lebih panjang tentang rencana-rencana, pertanyaan-pertanyaan, mimpi-mimpi, dan beberapa definisi kebahagiaan, lengkap curahan tentang tekanan-tekanan yang dirasakan sepanjang tahun lalu. But in the end, I just don't want to post it, saya simpan sendiri saja, ya. Lantas saya menemukan alternatif untuk menulis pendek saja (as usual), tipikal saya banget, yang penting mulai dulu. Tentang apa yang saya pelajari sampai ke bulan 12 terakhir kemari. Baby steps, baby steps ....

  • Resolusi sehat yang dengan pede saya canangkan di awal tahun lalu, sempat saya jalankan sampai tengah tahun. Kendor setelah tengah tahun, yang mengakibatkan saya ke dokter sampai 3 kali di bulan November dan Desember. Namun, akhirnya menyala lagi di akhir Desember dan awal Januari ini. Too typical, huh? Tahun ini harus lebih seimbang lagi.
  • Semakin menyadari dalam diri ini ada jiwa yang sama sekali tidak merasa semakin tua, meski saya harus bilang kalau saya mulai memperhatikan kesehatan kulit selayaknya wanita yang bersiap menginjak usia 30. Makanya suka sebal dengar mereka yang mengeluh tentang penuaan, for God's sake you're freaking young and you should be grateful for everything, your face and your body, it's actually great that you look your age than look no age at all.
  • Meskipun daya tahan tubuh saya sempat berkurang, but I've gained something more too. Saya berkesempatan menyaksikan penyanyi/band-band lokal yang ada dalam bucket list saya tahun lalu. Beberapa sudah sering saya saksikan live, juga ada yang saya saksikan untuk kali pertama: The Trees & the Wild, Efek Rumah Kaca (versi komplit saat Cholil balik ke Indonesia), Polka Wars, L’Alphalpha, Elephant Kind, Monita Tahalea, Konser Solitute Gerald Situmorang, Scaller, Homogenic, bahkan NDX. Mungkin masih belum kesampaian satuuu lagi: Kimokal. Semoga tahun ini bisa menyaksikan mereka live.
  • Semakin menyadari kalau dalam urusan finansial saya masih berantakan. Haaa, si boros yang tiap bulan beli sepatu ini, sepertinya harus dipecut untuk lebih giat lagi menabung dan teliti berinvestasi. Saya sempat menuai keuntungan reksadana saat pasar saham lagi bagus-bagusnya dan sampai bisa dipakai beli laptop baru. Lumayan seneng sih, tapi tetap masih ngerasa nol besar kalau disuruh baca laporan bulanan. Errr, biasain deh Nad, banyakin baca-baca, apalagi baru aja nanganin buku tentang saham, kan? (Editor bleong oh... editor bleong).
  • I did open my heart again, unfortunately it didn’t went as I expected, again. I messed up. But that’s ok, at least I’ve tried (Yeaaa, that's the spirit, girl!). Tahun ini saya semakin mantap pengin fokus sama urusan percintaan, karena target ya itu: menikah. Klise, ya? Ya, tujuan saya sudah bukan lagi flarta-flirty-main-main-jawabin-sudah-makan-apa-belum kind of date. Saya ingin menjalani hari-hari saya bersama partner yang bisa diandalkan, yang serius mau diajak menjalani visi bersama.
  • Pernah ikut kursus online (meskipun nggak selesai -_-) dan offline. Ok, saya memang bukan penggemar kegiatan perkuliahan, dulu saya kuliah aja empot-empotan tugas dikelarin sampai subuh *huft. Namun, saya punya kepercayaan kalau belajar itu adalah kegiatan yang nyenengin bangettt. Gimana nggak seru kalau ini saatnya kepala yang kopong ini diisi perspektif baru, mulut yang seringkali rewel ini disuruh diam dan boleh bersuara pada saatnya, dan interaksi dengan manusia lain yang nggak melulu nggosip dan nyinyirin orang. Jadi, tahun ini saya pengin coba belajar lebih banyak lagi, paling deket nih: kursus bahasa Spanyol sampai agak mahir, paling nggak bisa nulis kegiatan sehari lah. Aamiin. I won't ever I let my mind retired, haiyalah ....

Udah deh, gitu doang. Saya janji, tulisan selanjutnya akan lebih bermutu. Saya merencanakan rubrik rutin setiap bulannya: buku, musik, dan balanced lifestyle (HALAH HAHAHAHA), yang kalau terwujud merupakan suatu keajaiban tersendiri, hihihi. We'll see!

Love & light,
Nadia