Thursday, September 22, 2016

Zaman, Zaman - The Trees and the Wild: Album (yang Bukan Sekadar) Pengobat Rindu


Rasanya kangeeen banget mendengar suara ngawang khas Remedy Waloni. Makanya saya gembira bukan main: Jumat, 16 September lalu The Trees and the Wild meluncurkan album kedua mereka secara resmi, rindu itu terbayar setengah tuntas. Melihat video ini di atas, rasanya tak tergambarkan.

Rasanya seperti masuk ke dunia antah-berantah ketika “Zaman, Zaman”, “Empati Tamako”, dan "Saija" versi rekaman ini akhirnya menelusup ke kuping. Seperti kerasukan. Aransemen "Empati Tamako" dan "Saija" bukanlah barang baru, empat tahun terakhir ini sudah khatam saya intip di berbagai channel youtube. Namun versi sealbum rilisan Black Orb Recordings berisi 7 lagu ini benar-benar game changer, this clearly is a total satisfaction for me (at least). Sebutlah genre mereka bergeser dari album Rasuk (2009) yang lebih gampang dicerna, menjadi lebih ke experimental noise, ambient post-rock, electronica, yang melodramatik.

Saya mengakses album ini kali pertama di itunes, pagi-pagi sekali saat sedang bedrest lantaran demam dan flu berat. Downloaded, loved, checked, alhamdulillah. Saya tidak menyangka ada satu lagu baru (yang kata Remedy, menjadi pendamping "Empati Tamako") berjudul "Srangan" yang durasinya paling pendek (2.55") tapi punya bius, mini tapi gils gils gils! Highlight untuk suara angelic khas Charita Utamy juga mengagumkan dan menghipnotis mulai dari track ini, ke "Monumen", ke "Tuah Sebak". Kenapa saya sebut berurutan? Karena album ini sesungguhnya disarankan untuk didengar secara runut, dari "Zaman, Zaman" sampai "Saija". Hahaha niscaya efek biusnya lebih parah dari obat dokter. Ingatan saya berkelana saat menonton pertunjukan mereka.
   
Terakhir kali menyaksikan mereka tampil live itu adalah di Joyland Festival, Sabtu 7 Desember 2013, tiga tahun lalu, aka sudah lama sekali.
Malam itu di saya duduk di tengah-tengah kerumunan orang, penuh, sambil duduk bersila. Khusuk. Seperti berasa dalam sebuah cult, karena setiap lagu yang dibawakan memang rata-rata menghabiskan sampai 10 menit per lagu. “The Trees and the Wild Therapy” saya menyebutnya begitu, beberapa kali saya merasa hampir teler (no booze needed, indeed. My sweet sweet Lord, seakan tahu saya tidak perlu alkohol untuk mabuk). Mendebarkan sekaligus menenangkan, mengobati kangen yang teramat dalam akan mendengarkan musik mereka secara langsung. 
Ah, memori. Indah bener ...

Setiap memuat album dalam blog begini banget deh, Nad. Tak ada protes hanya puja-puji *khas aku banget ya, cintaa butaaa, hahaaa. Sayangnya ada dua hal yang membuat saya sedih. Pertama, mereka tidak memasukkan "Nyiur"—lagu yang biasanya sepaket dibawakan bareng "Empati Tamako" dan "Saija", ke dalam album. Kenapa? Ya ... mereka pasti punya pertimbangan tersendiri, tapi saya tetap gemas sendiri. Kedua, bulan ini mereka tidak ada jadwal manggung di Jogja. Mungkin sampai akhir tahun ini juga tak bakal ke Jogja. Oh come ooon somebody please invite them over. Kalau tidak ya, semoga bisa menyaksikan mereka saat saya ke Jakarta, ntah kapan.

Sudah ada di itunes, Spotify, Deezer, dan album fisiknya juga tersedia di toko CD terdekat.


Update 23 November 2016

Lucky me, saya berhasil menyaksikan mereka tampil langsung, bela-belain ke Synchronize Fest di Gambir Expo Kemayoran tanggal 31 Oktober 2016 lalu. Alhamdulillah, dan nggak sabar menunggu konser tunggal mereka bertajuk 
"I'll Believe in Anything" 17 Desember nanti. Semoga berjodoh! :)

 Monumen - The Trees & the Wild



Love & light,
Nadia

Saturday, September 17, 2016

Alasan Tidak Menulis di Blog

WOWZAAA kita bertemu lagi oh dear blog dan penghuninyaaa!

Kali ini saya menulis tulisan edisi poin suka-suka berdasarkan  pengalaman saya yang tega membiarkan blog kosong selama hampir 3 bulan ini—jadi diterima saja ya, pretty please.

And you guys are very welcome to add something. Monggo. Silakan boleh menambahkan kalau merasa senasib dengan saya.

1. Ada media sosial, Facebook, Instagram, Twitter, Path, Snapchat, Ask.fm, Periscope, Bigo, you name it.

Buat saya, distraksi media sosial ini menjadi semenjak ditambahkannya fitur instagram stories di Instagram. Setiap harinya, seharian menelusur timeline instagram saja seolah tak ada habisnya, selalu saja ada akun dan tagar seru yang ingin diamati. This is alarming, I know. Makanya saya kurangi … Dang ding dong … Dua bulan lalu meluncurlah instagram stories, fitur yang membuat saya semakin terlena. Rasanya jadi mudah menceritakan hal-hal remeh temeh dalam bentuk foto/video, sekali pencet, hempas, toh akan hilang 24 jam kemudian seperti di Snapchat. Dan karena sudah laporan di instagram stories, dianggap sudah cukup. Menulis di blog jadi terasa seperti membutuhkan energi berkali-kali lipat oh beratnya. Duh instagram, nasibmu dijadikan kambing hitam melulu.

2. Terlalu banyak nonton serial televisi.

 Beruntung bagi yang mengikuti serial TV Amerika dan Inggris dengan sistem ‘ketengan’ (bukan maraton yaaa), karena serial dari negara-negara itu punya musim sendiri (September-Mei). Ada jeda untuk bernapas di tiap minggunya, ada liburan natal dan tahun baru. Naas, bagi mereka penggemar drama drama Korea, karena drama-dramanya nggak kenal musim Allahuakbarrr, tiap minggu merilis 2 episode pula, membius! Terutama bagi orang seperti saya yang kalau udah penasaran harus benar-benar diselesaikan, benar-benar harus selektif memilih tontonan supaya nggak terhanyut/terjerumus sia-sia. Hahaha. Apasih, this is superpointless-total garbage excuse, Nad! X)

3. Banyak pekerjaan lain.

Hahaha, ini sih alasan paling sering dan paling cocok dipakai. Distraksi seperti ini selalu menang. Bagaimanapun saya sehari-harinya sudah banyak menulis … (Are you sure? emm pretty much yesss), jadi lelahnya kalau harus menyelesaikan tulisan untuk blog. Ah ini sih harus belajar dari teman-teman Komunitas Emak Blogger yang disiplinnya tingkat dewa itu, mereka mengagumkan luar dalam!

4. Tidak ada yang menarik untuk diceritakan.

Tidak ada kelas baru. Tidak ada hal-hal layak review. Well, nggak sepenuhnya benar, kecuali kamu termasuk orang yang hanya bercerita tentang hal-hal aktual dengan standard keseruan tertentu di kehidupanmu. Kalau nggak ada yang terjadi atau terjadi tanpa melewati standardmu, ya nggak ada ditulis. Padahal ada yang bilang kalau menulis juga bisa dari hal-hal sederhana, ditulis secara rutin, ditulis untuk dirimu sendiri dan orang lain karena suatu hari itu akan berguna.

5. Malas menyelesaikan tulisan, itu saja.

Saya punya 5 draft tulisan yang buntung belum dijahit bagian akhirnya, alasannya? Mungkin karena saya pikir bisa dibuat lebih keren. Mungkin, alasannya sesederhana karena satu kata: malas. Period.

Kalau sudah begini, tinggal menggetok kepala sendiri. “Eh, gimana mau maju?”
.

So this is my first move, tulisan tentang hal-hal yang membuat saya menelantarkanmu wahai blog. Semoga bisa dibaca berulang-ulang, supaya ingat. Supaya bisa kembali menulis lagi.

Ah, ah. :)


Love & light,
Nadia