Tuesday, February 23, 2016

Berguru dan Meramu: Klub Sarapan Sehat bersama Janti Alterjiwo

Saya menikmati betul saat-saat belajar dan menilik perspektif baru dalam menerapkan pola hidup yang lebih sehat. Ada banyak sekali sumber, pakar, pegiat yang bisa diserap ilmunya. Lewat Kelas SetuSelo di Rumah Pendopo Maguwo (ya, saya semacam cult sama rumah keren ini) Sabtu, 20 Februari kemarin salah satunya, belajar langsung dari Her Awesomeness Janti Wignjopranoto @alterjiwo atau akrab disapa Bude Janti.

View dari Joglo Bersama, Rumah Pendopo Maguwo. Breathtaking.

Terlihat cerah, segar, dan merepresentasikan semua yang ia citrakan, Bude menyapa kami dengan salam hangat di depan meja panjang berisi semua bahan-bahan yang sudah disiapkan segar, bahkan sudah ada hasil jadi bahan makan fermentasi di dalam cool box. This going to be so awesome, saya sampai memekik pelan.

Bahan-bahan segar dan bersih yang sudah dipersiapkan Bude Janti. Credit: @alterjiwo

Kami habiskan pagi hingga siang hari untuk berdialog mengenai pentingnya sarapan, serta tahapan dan pilihannya. Mengapa sebegitu pentingnya, karena tubuh ini semalaman sudah diistirahatkan, didinginkan. Untuk memanaskannya kembali, maka dibangkitkannya pun harus lembut. Lembut~

Sembari terus diingatkan, bahwa menentukan apa yang paling cocok untuk tubuh adalah tugas diri kita sendiri, perlu lebih sensitif mendengar apa maunya tubuh. Karena tubuh setiap orang berbeda-beda, nggak ada standar yang saklek harus makan apa, kapan, dsb. Yang ada, di sini diberi referensi baik yang sayang kalau nggak diamalkan ke tubuh.


Bude menyiapkan pisang panggang dengan kayumanis dan gula aren

Bagian paling seru, kami "diwajibkan" icip-icip/ngabisin semua minuman dan hasil olahan. Dari air lemon, kombucha, air kelapa muda, peppermint tea, golden turmeric mylk, banana-cacao-peanutbutter smoothie, pisang panggang kayumanis gula aren, coconut yogurt, fruit salad, green salad, roti dengan 4 spread yummy, sampai scrambled tofu, that many oh holy mother earth! (Hihi,meski nggak sempat difoto semua, keburu kami sikat duluan). Semua sudah termasuk belasan catatan pinggir dan tip supaya nggak ada bahan dan ampas yang tersia-sia.

Icip-icip Banana-Cocoa-Peanut Butter Smoothie, yang lebih enak dari es krim!
Membuat Scrambled Tofu yang ternyata gampang dan "suka-suka" takaran dan bahannya.
Pada akhirnya, ilmu kalau tidak dituliskan, disebar, dan dipraktekkan, cuma bakalan nganggur di pinggiran sudut pikiran. Jadi, mulai Selasa ini pelan-pelan saya akan mencoba tahapan hingga resep yang saya dapat. Semoga cukup baik untuk siapapun yang kebetulan lewat.

Untuk kali ini, sebuat saja berupa catatan umum tentang kelas kemarin sekaligus cerita awal dari "Kebiasaan Sehat di Pagi Hari" tentunya dengan tahapan yang tidak saklek. Bude terus mengingatkan, bahwa menentukan apa yang paling cocok untuk tubuh adalah tugas diri kita sendiri, perlu lebih sensitif mendengar apa maunya tubuh. Karena tubuh setiap orang berbeda-beda, nggak ada standar yang pasti, kapan, dsb. Yang ada, di sini kami diberi referensi baik yang sayang kalau nggak diamalkan ke tubuh.

Menurut saran Bude, ada baiknya kita terbangun alami setelah tidur cukup, sesaat sebelum subuh merupakan waktu yang pas. Lakukanlah ibadah sesuai kepercayaan (sholat/sembahyang/berdoa pagi) dilanjut bermeditasi, stretching. Pilih atau gabungkanlah aktivitas yang paling bisa dinikmati.

#1 Oil holding
Lebih bagus kalau sebelum memulai semuanya, pertama-tama kita menerapkan yang namanya "Oil Holding" hmmm interesting. Oil holding ini suatu kebiasaan yang baru banget saya ketahui. Tujuannya untuk membersihkan semua sisa kotoran di mulut serta memperkuat gusi dan gigi. Caranya dengan mengoleskan cold-pressed coconut oil atau minyak kelapa murni, balurkan ke seluruh mulut, kumurkan selama lebih kurang 3 menit. Setelah dibuang, pijat gusi dan dan sekitar mulut. Lalu gosok gigi dengan atau tanpa pasta gigi. Hmmm ... saya kayaknya belum pede melakukan ini (ketergantungan pasti gigi pabrikan, huks huks, pelan-pelan deh), Bu Janti mengakui kalau dirinya cukup religius menerapkan oil holding ini setiap pagi, dan sudah tidak menggunakan pasta gigi lagi, fluoride's miracle is way that overrated.

Saat ditanya tentang risiko bau mulut atau kesan kurang bersih dari oil holding plus hanya bersiwak, ia menggeleng. Nope, mulut malah lebih bersih dan jelas sangat menguntungkan bagi keseimbangan enzim di mulut. Mungkin kita sering abai sama mulut sebagai gerbang utama dan salah satu penentu kualitas makanan yang akhirnya kita cerna. It does makes sense, dan meski sedikit ragu kalau oil holding tanpa dibilas pasta gigi, saya pikir saya harus berani mencobanya suatu hari nanti.

#2 Konsumsi air lemon
Dengan meminum 1-2 gelas air lemon atau jeruk nipis dicampur jahe atau kunyit (suhu ruang atau dalam keadaan hangat), kita sudah membersihkan tubuh dari dalam. It sounds pretty effortless, tapi jangan ditanya lagi manfaatnya, pembersih, kaya vitamin c, you name it. Sepakat sama hal ini karena saya juga penggemar berat air lemon hangat di pagi hari atau kapanpun kamu butuh untuk mereset suasana mulut.

#3 Meditasi
Meditasi/streching/olah tubuh/yoga, lakukan apa yang menjadi favoritmu. Favorit saya adalah ngulet barang 3 menit, berwudhu, subuhan, dan setelah itu bersila sejenak. Bernapas 478, rasakan napas, resapi, it makes a big difference dibanding saat bangun kesiangan dan tergesa-gesa mempercepat semua aktivitas,

#4 Minum minuman hangat
Tubuh tiap orang berbeda-beda (sekali lagi bilang ini dapet payung deh Nad), tapi setiap orang sebenarnya berbakat dalam mengenali dirinya sendiri. Apa yang cocok apa yang tidak. I used to be a big milk drinker. Pernah, saya tak lepas dari susu lantaran percaya akan kemampuannya sebagai trigger untuk melancarkan proses BAB di pagi hari. Lama-lama jadwal saya tetap bisa teratur dan nyaman setelah saya fokus mencukupi sayur dan buah setiap hari. Susu hangat menjadi kebiasaan occasional saja. Minuman hangat ternyata membantu pelan-pelan menyesuaikan tubuh yang baru saja terbangun. Dari kelas kemarin saya kepincut sama Golden Turmeric Milk, yang sangat mudah dibuat: coconut milk (santan) buatan sendiri, dipanaskan sebentar dengan kunyit, jahe, dan gula batu takaran sesuai selera. Disaring, kemudian diminum hangat-hangat. Nyesss ....

#5 Smoothie dan jus
Kalau scroll blog ini ke bawah, ketahuan kalau saya adalah peminum green smoothie yang cukup ulung. Saya suka banget tekstur creamy-krenyes, rasa sedikit langu, segar, asam, berpadu manis dari smoothie. Smoothie dan jus memang disarankan diminum di sekitaran jam 8 sampai 10 saat perut masih terasa lapang karena belum kemasukan makanan berat. Jus memberi energi instan yang dirilis cepat lantaran tekstur, sedangkan smoothie yang bertekstur lebih creamy bisa bertahan lebih lama. Green smoothie andalan saya misalnya, pisang+kale+jeruk, juga beet+buah naga+air kelapa. Slurpeee!

Di kelas kami, salah satu resep smoothie yang dibuat adalah yang paling disuka siapa saja, basic banaan smoothie. Namun kali ini Bude memberi resep "to die for" dari 1-2 pisang beku, 2 sdm bubuk kakao, 2 sdm selai kacang homemade (kacang tanah sangrai, gula aren, garam, diblender sampai halus). Rasanyaaa klop, to die for beneran! Lebih enak dari es krim di supermarket dan mal-mal. Yums kuadrat.

#6 Sarapan
Kelas ini menawarkan alternatif sarapan sehat yang bisa jadi inspirasi kita: salad sayuran dengan dressing bawang putih, cuka apel, olive oil, dan lemon; coconut yogurt dengan toping potongan buah segar; pisang panggang dengan taburan kayumanis dan gula aren; roti dengan ragi alami (tanpa gula, tanpa pengawet pun) dari Kebun Roti idolaku, dicocol ke bermacam spread surgawi buatan sendiri seperti hummus, pesto, guacamole, coconut butter, ahhh~ ; scrambled tofu nikmat sebagai substitut scrambled egg; dan masih banyak lagi, saya pasti kelewat saking sibuknya megang dan icip-icip. Hihi.

CoYo aka Coconut Yogurt dengan toping semangka, nanas, pepaya, dan markisa.
Scrambled Tofu, Salad, Roti Galaxy dari Kebun Roti dengan speard surgawi.

Sekali lagi disampaikan kalau saran-saran baik ini bisa dikembangkan atau disesuaikan dengan kondisi tubuh masing-masing, waktu, dan ketersediaan bahan. Eits, tapi kalau sudah sebanyak tadi referensinya, udah nggak bisa pakai alasan ribet dan sebagainya, ya.

Oh ya, beberapa resep yang disebut di atas akan saya ceritakan dan sekalian dipraktekkan ulang pada post-post mendatang. Semoga saya nggak males-males amat ya buat nulis dan foto. Mudah-mudahan cacatan Kelas Sarapan Sehat bersama Bude Janti ini bisa menambah referensimu about how to start your day properly.


I'll see you soon!


Love & light,
Nadia

Thursday, February 11, 2016

Current Project: The Art of Thrifting



Saya percaya kalau style itu dibentuk, alih-alih “dibeli”. Kita mungkin bisa menghabiskan jutaan bahkan ratusan juta untuk one timeless and very rare to find item/stuff. Namun kalau tidak bisa memakainya dengan pembawaan yang pas ... rasanya lebih baik tidak perlu sebegitunya. I mean, just don't go broke trying to look rich or cool.

Saya lebih suka berinvestasi dengan menyimpan merek-merek middle berkualitas, seperti Casio untuk jam tangan, Levi’s untuk jeans, Converse untuk sepatu sehari-hari, Jansport untuk backpack andalan saat bepergian, Uniqlo untuk kemeja, basic blouse, khaki pants, yang akan sering sekali dipakai, H&M untuk sepatu, kaus kaki, sweater, dan scarf. Barang-barang itu kebanyakan umurnya pasti lebih dari 5 tahun dan masih awet dipakai sampai sekarang. Di samping itu, saya lebih suka membeli merek-merek online buatan lokal, terutama untuk sepatu, tas, dan aksesoris lucu seperti patch/emblem. Dan sebagai pelengkap, saya gemar mencari barang-barang unik seperti coat, cardigan, celana gaya 80an, sampai tas di flea market/vintage market/preloved bazaar/awul-awul.

 

Hobi ini ditularkan oleh Mama saya, way back then ketika beliau baru menemukan surga berupa pasar baju bekas di dekat kediaman kami di Lombok sana. Awalnya saya yang masih SMA itu merasa risih, tapi begitu diajak langsung sama Mama dan melihat beliau yang sangat terampil memilah “emas” di antara tumpukan berdebu dan apek itu, saya ikut tergerak dan mencoba. Saya pun menemukan blus yang sudah lama saya incar, mirip seperti yang dipakai seleb di majalah. Selanjutnya, saya dapat jaket dan celana hampir seperti baru kondisinya. Wuihhh, saya ketagihan. Maklum, kami di sana, sering tidak punya banyak pilihan untuk pakaian dengan bahan berkualitas dan tidak norak. Ya, terlepas dari berbagai kontra tentang fetish mengubek-ubek pasar loak, saya dan Mama puas dengan temuan kami. Kenapa cuma saya dan Mama, karena kedua adik perempuan saya yang lain tidak begitu suka melakukannya. Atau kalau kata mereka, mereka nggak berbakat mencari. Bakatnya adalah ketika pakai yang sudah direndam dalam cairan antiseptik, dicuci, diberi pewangi, dan digosok rapi. Hhhhhh >:| >:|

Eits ... satu lagi yang nggak terbantahkan adalah sensasinya itu ... bukan hanya karena bisa mendapatkan 3-4 potong baju unik hanya dengan Rp50.000,00, tapi juga lantaran ada kepuasaan tersendiri yang susah dijelaskan. Nggak selalu sukses dapat yang diincar, tapi justru di situ seninya.

Beranjak ke sini, saya baru ngeh kalau aktivitas yang Mama dan saya lakukan itu punya istilah tersendiri. Yang di luar negeri sana, biasa disebut thrifting. Well ... kalau menurut urban dictionary, thrifting berarti sebuah kegiatan mencari barang bekas, baik di toko barang bekas (thrift shop), toko vintage (vintage store), maupun pasar loak (flea market), dengan tujuan untuk membeli barang bekas yang unik dan dengan harga yang murah.

Then guess what, ternyata dalam beberapa tahun terakhir ini koleksi vintage atau secondhand atau preloved tadi ternyata malah semakin diminati! Saya yang semasa kuliah di Jogja tahunya cuma lapak-lapak di sekitar jalan Parangtritis dan sebelah barat Jalan Malioboro, kini dibuat berbinar-binar dengan makin seringnya melihat toko-toko online, butik recycle offline (yang sangat bersih), preloved pop-up bazaar bermunculan menawarkan barang-barang bekas yang mereka kurasi sendiri (dijual dengan harga yang lebih mahal, tentunya). Excited sekaligus gemes gemes gemes. Karena bermacam parka, jaket, sampai pernik interior unik yang one-of-a-kind itu sebenarnya bisa saja diburu sendiri.

Kemudian saya mengenal Nazura Gulfira atau yang akrab disapa Ozu. Saat suatu hari saya saya sedang blogwalking dan menemukan blognya, blognya benar-benar menyegarkan mata dan jiwa. Kebanyakan yang dia tulis merupakan hal-hal personal, perjalanan-perjalanan yang dia lakukan, hobi, dan hal-hal ringan. Satu lagi yang membuat kami sepaham, dia hobi thrifting juga!!! Meski ia berkesempatan thrifting di Eropa dan Jepang, sementara saya masih di sebatas di kawasan Indonesia aja, but that's okay. It's still a YAYYY! Seperti menemukan saudara jauh rasanya :')

Akhirnya saya memberanikan diri untuk mengiriminya email dan mengajaknya ngobrol, ujung-ujungnya saya mengajaknya bergabung ke sebuah project iseng. Kami bahkan sempat (((kopi darat))), waktu itu saya sedang ke Jakarta, dan Ozu (yang saat itu masih tinggal di Jakarta) sedang punya waktu, kami yang sebelumnya hanya berinteraksi via email, line, dan instagram akhirnya bisa tahu gimana pribadi masing-masing dalam versi tatap muka. Hihihi.

Nadia dan Nazura
Saat ini, Ozu baru saja tiba di Rotterdam dan akan melanjutkan pendidikan S3-nya di sana sampai 4 tahun ke depan. Namun sebelum pergi, saya sudah lebih dulu menodongnya untuk mewujudkan project kami. It's a Thrift Journal everyone! Platform yang dipakai adalah instagram. Beberapa pertimbangan melatarbelakangi, tapi satu yang kami tahu, niat baik harus segera disegerakan.

Jadilah, Thrift Journal menjadi sebuah project gagasan Nazura Gulfira (dikompori oleh saya) yang dibuat lantaran kecintaan terhadap dunia thrifting yang teramat sangat. Di sana secara bertahap kami akan memberi informasi dan catatan seputar thrifting dan istilah-istilah lainnya: flea market, secondhand stuff, car boot sale, charity shop. Kami juga akan memberi tip mencari, hingga referensi dan tempat-tempat yang asik untuk mencoba peruntunganmu dalam thrifting.

thrift.journal on Instagram

Kalau kamu ingin ikut berbagi tempat andalanmu saat thrifting atau nunjukkin barang temuan kebanggaanmu (clothes, home decor stuff, cassette/CD/vinyl, bags, shoes, all kind of accessories, etc.), berbagi tip mencari, sampai cara membersihkan dan merawat barang-barang itu agar selalu terlihat apik dan pantas ... oh dear, please feel free to visit us, tag your post, and poke us there.


*

*

*Photo by Nazura Gulfira

Akhir cerita, terima kasih telah membaca paparan yang sedemikian panjang ini, dan semoga kalian di luar sana berkenan berinteraksi dengan kami di instagram @thrift.journal. We'll see you there!


Love & light,
Nadia

Monday, February 1, 2016

Jin Shin Jyutsu Self-Healing: Merawat Diri dan Orang Tercinta secara Mandiri



Awal ketertarikan saya dengan self-healing sangat sederhana, rasa penasaran saya terhadap banyak hal. Saya juga termasuk seseorang yang mudah stres. Segitu inginnya melepaskan beban dan ketegangan akibat rutinitas pekerjaan dan masalah pribadi, I'll do everything. Saya pun melihat poster tentang kelas Setu Selo Kedai Rasayana edisi Self-Healing Keluarga dengan guru Ibu Diwien Hartono, seorang praktisi kesehatan holistik, Sabtu, 30 Januari 2015 yang lalu di Pendopo Maguwo. Keberuntungan itu ada.

Sebenarnya, sih, juga karena seringnya saya mendengar sepak terjang Reza Gunawan sang master Praktisi Kesehatan Holistik dan pengajar self-healing yang sekaligus suami dari Mamak Suri Idolaku (Dewi “Dee” Lestari). Hanya saja, saya belum pernah mengerti benar seperti apa sih itu sehat holistik dan metode-metodenya. Saya pikir hanya ada meditasi dan akupuntur aja. Ternyata ada juga yang dinamakan Jin Shin Jyutsu, seperti yang didalami Ibu Diwien, yang aktif menjadi praktisi Jin Shin Jyutsu di True Nature Holistic (klinik penyembuhan holistik milik Reza Gunawan).

Baru duduk sebentar di Joglo Bersama Pendopo Maguwo, suasana sudah sangat mendukung. Hening, gemericik air sungai di bawah, angin sepoi (hal langka untuk cuaca yang panas nggak menentu bahkan di musim hujan saat ini), bahkan denting musik yang dihasilkan tiupan angin pada hiasan gantung. Ah, syahdu. Ibu Diwien yang ternyata sudah tiba sejak pagi, pesawatnya dari Bali sudah mendarat sejak pagi buta. Beliau menyapa kami yang sudah hadir, ada saya, empat peserta lain, dan Citra, dari Kedai Rasayana. Beliau memulai paparan awalnya tentang apa itu sehat holistik, dan mengingatkan kalau nanti kami akan lebih banyak diberi tahu cara menerapkan dan praktek langsung. YAYSSS!

Sesi dua jam ini padat berisi dan berasa banget. Total saya menghasilkan notula 9 halaman ms.word (hasil dari transkrip rekaman yang disimpan di ponsel, karena pada saat sesi berlangsung saya nggak mau riweuh mencatat, fokus mencerna dulu pokoknya.), yang akan coba saya mampatkan jadi satu blog post di Selasa Sehat kali ini. Bismillah. Doakan saya nggak ngalor-ngidul yaaa!

Well ... Penyembuhan holistik itu intinya fokus pada perawatan batin dan energi.  Kita, manusia, sebenarnya sudah diberi modal untuk merawat diri kita sendiri. Merawat badan tentu saja, ini sepertinya yang sering menjadi fokus utama kita. Merawat jiwa, tidak mungkin, karena bagian ini adalah teritori Sang Maha Pencipta, Dia-lah yang akan memutuskan sampai kapan jiwa ini akan berdiam di badan kita. Nah, yang sering dianak-tirikan adalah merawat batin (memori, pikiran) dan energi (alasan kita bisa beraktivitas). Dengan mengerti self-healing atau penyembuhan diri, kita sudah berbaik budi pada diri sendiri. Dan kalau ingin lebih lagi, untuk diterapkan untuk merawat orang-orang tercinta di sekitar kita.


Modal yang dibutuhkan semuanya sudah disediakan Tuhan: Napas, Sentuhan, Gerak, dan Keheningan. Keheningan pun jangan diartikan harus selalu menyepi di tempat sepi, keheningan juga bisa didapat dalam keramaian. Dalem ya :)

Sebelum menolong orang, pertama kita harus sudah menolong diri sendiri. Makanya kita perlu nih menerapkan dua teknik sederhana yang bisa dilakukan setelah bangun pagi, diulang saat siang, atau saat-saat yang dibutukan seperti ketika panik menyerang.

1.       Zip up
Sudah bukan berita baru, kalau energi orang-orang di sekitar kita bisa memengaruhi diri kita. Mood, tenaga, suasana hati, dan lainnya. Namun, tahukah kalau sebenarnya kita bisa melindungi diri dengan cara yang sederhana?

Caranya adalah dengan menarik napas dan menggerakkan jari dari atas tulang pubis (tulang kemaluan) seakan menutup retsleting diri, digerakkan sambil menarik napas dalam sampai ke bawah bibir, lakukan gerakan mengunci, dan buang “kunci” itu. Ulangi sampai 3 kali.


Kami yang hadir di kelar sudah mencobanya, sebelum dan sesudah zip up. BIG BIG DIFFERENCE :D

2.       Napas 478
Bernapas dengan sadar adalah kunci self-healing. Napas perlahan dengan pola ini, membuat kita tak hanya semakin nyaman, rileks, tapi juga fokus. Caranya adalah dengan menarik napas dari hidung, lakukan dengan durasi 4 hitungan/4 detik versi yang sesuai dengan kapasitas diri sendiri. Dilanjut dengan menahannya selama 7 hitungan, kemudian hembuskan perlahan melalu mulut, pelan-pelan selama 8 hitungan. Lakukan 5 kali.

Diterapkan pagi hari sehabis bangun tidur, saat akan tidur, juga bisa juga sebagai pertolongan pertama saat dilanda serangan panik atau emosi lain yang berlebih atau saat ingin menolong orang. Ketika panik itu datang, minggir sejenak, lakukan napas 478, 5 kali, lanjutkan dengan zip up, 3 kali.


Jin Shin Jyutsu
Well, mungkin kita akan langsung beralih ke Jin Shin Jyutsu (JSJ) . Apakah JSJ itu? Di Jepang, metode pengobatan ini telah dianggap seni dan berlaku turun temurun. Di Indonesia metode ini mulai diterapkan sekitar sepuluh tahun belakangan ini. Jin Shin Jyutsu, secara terjemahan berarti penyembuhan diri sendiri dengan bantuan Sang Maha Pencipta.

Dalam JSJ, tubuh kita punya apa yang dinamakan SEL (Safety Energy Lock) atau bahasa sederhananya saklar tubuh. Seperti rumah yang punya saklar, jumlahnya kadang tidak hanya satu, biasanya dibagi per bagian-bagian rumah, per sirkuit-sirkuit. Misal di pagi hari, dapur menjadi pusat penyedot listrik yang paling banyak. Beban di daerah dapur akan berat, dan ketika beban tersebut tidak mampu ditahan maka sekringnya akan turun. Bagian lain dari rumah mungkin tidak terpengaruh, maka kita akan fokus menyelesaikan masalah energi yang terjadi di daerah dapur. Apa ada yang terlalu membebani, kenapa konslet? Maka kita akan mencoba melepaskan beberapa kabel dan mencoba menaikkan sekring di bagian dapur lagi. Itu prinsip dasar yang sama di JSJ.  Jadi di tubuh manusia ada 26 titik yang disebut SEL, dengan hanya menekan/menyentuh salah satu SEL tersebut, kita bisa mengharmoniskan energi ke daerah-daerah tertentu. Bukan mentransfer energi, tapi kita menaikkan saklar itu, agar energinya mengalir.

Sekarang kita akan langsung praktek teknik utama dalam JSJ, yang disebut Main Central & Miracle Flow. Di kelas kemarin, kami para peserta yang semuanya buk-ibuk mbak-embak  dipasang-pasangkan, dan secara bergantian menjadi terapis dan klien.

1.       Main Central
Atau metode yang diperuntukkan untuk situasi saat kita/orang yang akan kita tolong (klien) merasa nggak enak badan, tapi nggak tahu akar masalahnya secara detail. Pokoknya semacam kemrungsung, linu. Hingga masalah yang lebih mendetail letaknya, seperti pusing, demam, gejala-gejala spesifik, sinusitis, pilek, flu, batuk, sesak napas, maag, gas, asam lambung, mens tidak teratur, diare, sembelit, sakit punggung, dan skoliosis.

Caranya adalah dengan salah satu tangan (kanan/kiri) diletakkan di puncak kepala. Misal saya pakai tangan kiri diletakkan di atas kepala, maka tangan kanan yang akan berpindah-pindah ke titik yang dituju. Begitu pula sebaliknya. Selama terapi berlangsung, bisa sambil duduk atau lebih enak tiduran. Bisa merawat diri sendiri atau menjadi terapis bagi orang lain. Sebelum merawat diri/orang lain, lakukan napas 478 sebanyak 3 kali dan tetaplah rileks. 

Kalau sedang sendiri, kita juga bisa merawat diri sendiri lho. Saya coba dengan diri saya sendiri, ilustrasi di bawah mungkin bisa membantu. Kita coba ya, here we go.
  1. Pejamkan mata, cari posisi serileks mungkin. Bisa berbaring, bisa duduk. Tangan kiri diletakkan di puncak kepala. Letakkan dengan santai, tidak perlu tekanan yang berlebihan. Tangan kanan diletakkan di atas dahi. Di setiap titik yang disentuh, diamkan selama 2-3 menit (bisa lebih lama sesuai bagian yang dirasa bermasalah), untuk awal-awal bisa gunakan timer di handphone untuk memudahkan akurasi waktu.
  2. Tangan kanan dipindah ke puncak hidung, tangan kiri tetap di puncak kepala. Gunakan dua jari saja dan sentuh hidung dengan perlahan.
  3. Tangan kanan pindahkan ke tengah dada, tangan kiri tetap di puncak kepala.
  4. Tangan kanan dipindah ke ulu hati atau perut atas, tangan kiri tetap di puncak kepala.
  5. Tangan kanan dipindah ke atas tulang pubis, tangan kiri tetap di puncak kepala. (kalau sedang menerapi orang lain/klien, dan klien merasa risih dengan sentuhan di bagian ini. Kita bisa menggunakan tangan klien untuk menyentuh dirinya sendiri).
  6. Tangan kanan tetap di atas di tulang pubis, tangan kiri pindah ke tulang ekor.
Perlahan-lahan buka mata, bangun, dan rasakan energi yang mengalir lancar. Setiap sesi berlangsung sekitar 12-15 menit. Singkat, tapi hasilnya, luar biasaaa, rasanya seperti memanfaatkan waktu dengan sangat berkualitas. Selesai terapi bisa luruh, ngalir, rileks, dan ngantuk. Enaaak banget!

Saya mencoba Main Central untuk diri sendiri, sambil duduk


2.       Miracle Flow
Kenapa disebut sebagai Miracle Flow? Karena metode ini bisa dibilang sebagai sapu jagatnya JSJ. Teknik ini bisa mengharmoniskan organ dan emosi. Tanpa arus tahu emosi yang mana, Miracle Flow akan menyelaraskan emosi kita. Tanpa menghilangkan marah/sedih, tapi membantu menerangkan apa penyebab kemarahan/kesedihannya itu.

Miracle Flow ini menjadi favorit ketika menjenguk orang yang sakit. Ketimbang ngomong ngalor ngidul, sambil ngomong kita bisa melakukan Miracle Flow.

Caranya adalah seperti seperti teknik jumping cable, tangan kanan dengan kaki kiri, atau sebaliknya. Flow pertama adalah ketika salah satu jari tangan menyentuh jempol kaki kiri, maka jari tangan kanan yang disentuh adalah kelingking. Berkebalikan, terus bergantian. 

·         Sentuh jempol  kaki kiri, pada saat yang sama sentuh kelingking tangan kanan. Lakukan selama 2-3 menit, berlaku untuk seterusnya.
·         Sentuh telunjuk kaki kiri, pada saat yang sama sentuh jari manis tangan kanan.
·         Sentuh jari tengah kaki kiri, pada saat yang sama sentuh jari tengah tangan kanan.
·         Sentuh jari manis kaki kiri, pada saat yang sama lanjut sentuh telunjuk tangan kanan.
·         Sentuh kelingking kaki kiri, dan sentuh jempol tangan kanan. 

Ibu Diwien sebagai terapis, menerapkan Miracle Flow pada seorang klien

Total durasi terapi Miracle Flow berkisar antara 10-12 menit. Hasilnya huaaa ... nyaman kuadrat. I don’t know why :):) Pas sekali karena pada saat terapi kepala saya sedang berkecamuk dengan berbagai isu yang sulit dihilangkan. Oh, rasanya seperti ditenangkan.

Yang perlu diingat: air putih dan obat dokter.

AIR PUTIH. Jadi pada saat kita menerapi orang atau merawat diri sendiri dengan teknik-teknik tadi, jangan lupa air putihnya dicukupkan. Karena semua masalah di kesehatan kita, awal mulanya adalah karena kekurangan air putih atau dehidrasi. Ada yang mungkin bilang, “Saya udah minum 2 liter kok setiap hari,” atau, “Saya udah minum 8 gelas kok setiap hari.” Eh belum tentu lho, bisa jadi 2 liter atau 8 gelas itu kebanyakan. Jadi patokannya adalah cukup. Cukup itu berbeda di masing-masing orang, bahkan di keadaan tertentu setiap orang akan berbeda-beda kebutuhannya. Hari ini akan beda dengan besok, atau minggu depan, atau bulan depan. Rumusnya adalah 33 x berat badan kita dalam kilogram = jumlah liter air yang kita butuhkan. 

Misalnya, saya ternyata membutuhkan, 1,55 liter (33x47), nggak sampai 2 liter seperti asumsi saya sebelumnya. Kalau kebanyakan, nggak bagus juga, karena akan banjir melarutkan zat-zat yang penting. Kalau kekurangan, jadi tidak ada sarana penyebaran yang cukup bagi zat-zat penting yang dibutuhkan. 

Ada jam-jam penting ketika tubuh paling membutuhkan air, antara lain:
·         Saat bangun tidur
·         30 menit sebelum makan x3
·         90 menit setelah makan x3
·         Sebelum tidur

Ooo ... O saya panjang banget karena saya ternyata minum air berlebih. Hiks. Pantesan sebelumnya, kayaknya ada yang salah ini ... Hmmm.

OBAT DOKTER. Kalau sedang merawat orang lain, jangan pernah “sotoy” menyarankan orang itu berhenti dari terapi obat medisnya. Karena sebenarnya pengobatan holistik membantu batin, untuk obat tidak akan dicampuri karena dokter yang memegang pasien seharusnya sudah mengerti dosis yang tepat. Dan akan dikurangi ketika waktunya sudah pas. Terutama untuk pasien penyakit berat.

---

Dari semua metode yang kami praktekkan, dan hasil diskusi dan tanya jawab yang intim. Ada benang merah  yang menarik yang sama-sama disetujui. Yaitu tentang berserah, tapi tidak asal ikhlas. Berdamai dan jujur dengan diri sendiri. Saat energi diaktifkan dan dialirkan ntah kenapa hal-hal yang terpendam jadi keluar lagi. Tersadarkan, yang belum diikhlaskan, jadi terpikirkan, pada saat yang sama ilham itu muncul untuk mencoba mencari jalan keluar. Does it sounds that too good to be true? Hahaha.

Ah, saya pun bakal bilang absurd sebelumnya, tapi setelah mencoba memahami hal-hal yang jadi pondasi Self-Healing metode Jin Shin Jyutsu ini, I couldn’t ask for better. Ibu Diwien is the coolest! (Makasih Ibuuuu :))

Eri, Ira, Mba Nancy, Victoria, Bu Diwien, dan saya. Foto oleh Citra Kirana.

Kalau untuk pertama kali, lakukan metode-metode tadi, sekaligus atau salah satu, setiap hari dalam satu minggu. Untuk minggu kedua, bisa dilakukan setiap dua hari sekali atau sesuai kebutuhan. Untuk anak, baik dilakukan dua hari sekali, untuk menjaga mood dan daya tahan tubuh mereka. Misalnya akan diberi untuk orang tua kita, yang sedang ada masalah kimiawi darah (asam urat, tensi tinggi, dan lainnya), bisa diterapi dua hari sekali. Bisa gunakan Main Central atau Miracle Flow, ask yourself, you know best apa dan metode yang paling nyaman kamu gunakan.

Sementara, saya suka semuanya :) :)

Selamat mencoba dan jangan pernah malu bertanya dan mencari ilmu sebanyak-banyaknya!


Love & light,
Nadia