Saturday, September 17, 2016

Alasan Tidak Menulis di Blog

WOWZAAA kita bertemu lagi oh dear blog dan penghuninyaaa!

Kali ini saya menulis tulisan edisi poin suka-suka berdasarkan  pengalaman saya yang tega membiarkan blog kosong selama hampir 3 bulan ini—jadi diterima saja ya, pretty please.

And you guys are very welcome to add something. Monggo. Silakan boleh menambahkan kalau merasa senasib dengan saya.

1. Ada media sosial, Facebook, Instagram, Twitter, Path, Snapchat, Ask.fm, Periscope, Bigo, you name it.

Buat saya, distraksi media sosial ini menjadi semenjak ditambahkannya fitur instagram stories di Instagram. Setiap harinya, seharian menelusur timeline instagram saja seolah tak ada habisnya, selalu saja ada akun dan tagar seru yang ingin diamati. This is alarming, I know. Makanya saya kurangi … Dang ding dong … Dua bulan lalu meluncurlah instagram stories, fitur yang membuat saya semakin terlena. Rasanya jadi mudah menceritakan hal-hal remeh temeh dalam bentuk foto/video, sekali pencet, hempas, toh akan hilang 24 jam kemudian seperti di Snapchat. Dan karena sudah laporan di instagram stories, dianggap sudah cukup. Menulis di blog jadi terasa seperti membutuhkan energi berkali-kali lipat oh beratnya. Duh instagram, nasibmu dijadikan kambing hitam melulu.

2. Terlalu banyak nonton serial televisi.

 Beruntung bagi yang mengikuti serial TV Amerika dan Inggris dengan sistem ‘ketengan’ (bukan maraton yaaa), karena serial dari negara-negara itu punya musim sendiri (September-Mei). Ada jeda untuk bernapas di tiap minggunya, ada liburan natal dan tahun baru. Naas, bagi mereka penggemar drama drama Korea, karena drama-dramanya nggak kenal musim Allahuakbarrr, tiap minggu merilis 2 episode pula, membius! Terutama bagi orang seperti saya yang kalau udah penasaran harus benar-benar diselesaikan, benar-benar harus selektif memilih tontonan supaya nggak terhanyut/terjerumus sia-sia. Hahaha. Apasih, this is superpointless-total garbage excuse, Nad! X)

3. Banyak pekerjaan lain.

Hahaha, ini sih alasan paling sering dan paling cocok dipakai. Distraksi seperti ini selalu menang. Bagaimanapun saya sehari-harinya sudah banyak menulis … (Are you sure? emm pretty much yesss), jadi lelahnya kalau harus menyelesaikan tulisan untuk blog. Ah ini sih harus belajar dari teman-teman Komunitas Emak Blogger yang disiplinnya tingkat dewa itu, mereka mengagumkan luar dalam!

4. Tidak ada yang menarik untuk diceritakan.

Tidak ada kelas baru. Tidak ada hal-hal layak review. Well, nggak sepenuhnya benar, kecuali kamu termasuk orang yang hanya bercerita tentang hal-hal aktual dengan standard keseruan tertentu di kehidupanmu. Kalau nggak ada yang terjadi atau terjadi tanpa melewati standardmu, ya nggak ada ditulis. Padahal ada yang bilang kalau menulis juga bisa dari hal-hal sederhana, ditulis secara rutin, ditulis untuk dirimu sendiri dan orang lain karena suatu hari itu akan berguna.

5. Malas menyelesaikan tulisan, itu saja.

Saya punya 5 draft tulisan yang buntung belum dijahit bagian akhirnya, alasannya? Mungkin karena saya pikir bisa dibuat lebih keren. Mungkin, alasannya sesederhana karena satu kata: malas. Period.

Kalau sudah begini, tinggal menggetok kepala sendiri. “Eh, gimana mau maju?”
.

So this is my first move, tulisan tentang hal-hal yang membuat saya menelantarkanmu wahai blog. Semoga bisa dibaca berulang-ulang, supaya ingat. Supaya bisa kembali menulis lagi.

Ah, ah. :)


Love & light,
Nadia

No comments:

Post a Comment