Thursday, February 11, 2016

Current Project: The Art of Thrifting



Saya percaya kalau style itu dibentuk, alih-alih “dibeli”. Kita mungkin bisa menghabiskan jutaan bahkan ratusan juta untuk one timeless and very rare to find item/stuff. Namun kalau tidak bisa memakainya dengan pembawaan yang pas ... rasanya lebih baik tidak perlu sebegitunya. I mean, just don't go broke trying to look rich or cool.

Saya lebih suka berinvestasi dengan menyimpan merek-merek middle berkualitas, seperti Casio untuk jam tangan, Levi’s untuk jeans, Converse untuk sepatu sehari-hari, Jansport untuk backpack andalan saat bepergian, Uniqlo untuk kemeja, basic blouse, khaki pants, yang akan sering sekali dipakai, H&M untuk sepatu, kaus kaki, sweater, dan scarf. Barang-barang itu kebanyakan umurnya pasti lebih dari 5 tahun dan masih awet dipakai sampai sekarang. Di samping itu, saya lebih suka membeli merek-merek online buatan lokal, terutama untuk sepatu, tas, dan aksesoris lucu seperti patch/emblem. Dan sebagai pelengkap, saya gemar mencari barang-barang unik seperti coat, cardigan, celana gaya 80an, sampai tas di flea market/vintage market/preloved bazaar/awul-awul.

 

Hobi ini ditularkan oleh Mama saya, way back then ketika beliau baru menemukan surga berupa pasar baju bekas di dekat kediaman kami di Lombok sana. Awalnya saya yang masih SMA itu merasa risih, tapi begitu diajak langsung sama Mama dan melihat beliau yang sangat terampil memilah “emas” di antara tumpukan berdebu dan apek itu, saya ikut tergerak dan mencoba. Saya pun menemukan blus yang sudah lama saya incar, mirip seperti yang dipakai seleb di majalah. Selanjutnya, saya dapat jaket dan celana hampir seperti baru kondisinya. Wuihhh, saya ketagihan. Maklum, kami di sana, sering tidak punya banyak pilihan untuk pakaian dengan bahan berkualitas dan tidak norak. Ya, terlepas dari berbagai kontra tentang fetish mengubek-ubek pasar loak, saya dan Mama puas dengan temuan kami. Kenapa cuma saya dan Mama, karena kedua adik perempuan saya yang lain tidak begitu suka melakukannya. Atau kalau kata mereka, mereka nggak berbakat mencari. Bakatnya adalah ketika pakai yang sudah direndam dalam cairan antiseptik, dicuci, diberi pewangi, dan digosok rapi. Hhhhhh >:| >:|

Eits ... satu lagi yang nggak terbantahkan adalah sensasinya itu ... bukan hanya karena bisa mendapatkan 3-4 potong baju unik hanya dengan Rp50.000,00, tapi juga lantaran ada kepuasaan tersendiri yang susah dijelaskan. Nggak selalu sukses dapat yang diincar, tapi justru di situ seninya.

Beranjak ke sini, saya baru ngeh kalau aktivitas yang Mama dan saya lakukan itu punya istilah tersendiri. Yang di luar negeri sana, biasa disebut thrifting. Well ... kalau menurut urban dictionary, thrifting berarti sebuah kegiatan mencari barang bekas, baik di toko barang bekas (thrift shop), toko vintage (vintage store), maupun pasar loak (flea market), dengan tujuan untuk membeli barang bekas yang unik dan dengan harga yang murah.

Then guess what, ternyata dalam beberapa tahun terakhir ini koleksi vintage atau secondhand atau preloved tadi ternyata malah semakin diminati! Saya yang semasa kuliah di Jogja tahunya cuma lapak-lapak di sekitar jalan Parangtritis dan sebelah barat Jalan Malioboro, kini dibuat berbinar-binar dengan makin seringnya melihat toko-toko online, butik recycle offline (yang sangat bersih), preloved pop-up bazaar bermunculan menawarkan barang-barang bekas yang mereka kurasi sendiri (dijual dengan harga yang lebih mahal, tentunya). Excited sekaligus gemes gemes gemes. Karena bermacam parka, jaket, sampai pernik interior unik yang one-of-a-kind itu sebenarnya bisa saja diburu sendiri.

Kemudian saya mengenal Nazura Gulfira atau yang akrab disapa Ozu. Saat suatu hari saya saya sedang blogwalking dan menemukan blognya, blognya benar-benar menyegarkan mata dan jiwa. Kebanyakan yang dia tulis merupakan hal-hal personal, perjalanan-perjalanan yang dia lakukan, hobi, dan hal-hal ringan. Satu lagi yang membuat kami sepaham, dia hobi thrifting juga!!! Meski ia berkesempatan thrifting di Eropa dan Jepang, sementara saya masih di sebatas di kawasan Indonesia aja, but that's okay. It's still a YAYYY! Seperti menemukan saudara jauh rasanya :')

Akhirnya saya memberanikan diri untuk mengiriminya email dan mengajaknya ngobrol, ujung-ujungnya saya mengajaknya bergabung ke sebuah project iseng. Kami bahkan sempat (((kopi darat))), waktu itu saya sedang ke Jakarta, dan Ozu (yang saat itu masih tinggal di Jakarta) sedang punya waktu, kami yang sebelumnya hanya berinteraksi via email, line, dan instagram akhirnya bisa tahu gimana pribadi masing-masing dalam versi tatap muka. Hihihi.

Nadia dan Nazura
Saat ini, Ozu baru saja tiba di Rotterdam dan akan melanjutkan pendidikan S3-nya di sana sampai 4 tahun ke depan. Namun sebelum pergi, saya sudah lebih dulu menodongnya untuk mewujudkan project kami. It's a Thrift Journal everyone! Platform yang dipakai adalah instagram. Beberapa pertimbangan melatarbelakangi, tapi satu yang kami tahu, niat baik harus segera disegerakan.

Jadilah, Thrift Journal menjadi sebuah project gagasan Nazura Gulfira (dikompori oleh saya) yang dibuat lantaran kecintaan terhadap dunia thrifting yang teramat sangat. Di sana secara bertahap kami akan memberi informasi dan catatan seputar thrifting dan istilah-istilah lainnya: flea market, secondhand stuff, car boot sale, charity shop. Kami juga akan memberi tip mencari, hingga referensi dan tempat-tempat yang asik untuk mencoba peruntunganmu dalam thrifting.

thrift.journal on Instagram

Kalau kamu ingin ikut berbagi tempat andalanmu saat thrifting atau nunjukkin barang temuan kebanggaanmu (clothes, home decor stuff, cassette/CD/vinyl, bags, shoes, all kind of accessories, etc.), berbagi tip mencari, sampai cara membersihkan dan merawat barang-barang itu agar selalu terlihat apik dan pantas ... oh dear, please feel free to visit us, tag your post, and poke us there.


*

*

*Photo by Nazura Gulfira

Akhir cerita, terima kasih telah membaca paparan yang sedemikian panjang ini, dan semoga kalian di luar sana berkenan berinteraksi dengan kami di instagram @thrift.journal. We'll see you there!


Love & light,
Nadia

8 comments:

  1. Hahaha tulisan kamu sangat ekspresif sekali nadiaa. Apalagi yang tentang adik-adik kamu baru pake pas udah digosok rapih :)) Seneng bacanyaa!

    insya Allah lancar yaaa thrift.journal kita inii. Bismillah! :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ozuuuuu, lah kamu jadi berkunjung ini sini *aku malu*

      Hihi, iya namanya juga adek-adek pemalas mau terima beres doang :))

      Bismillah, lancarrr ya!

      Delete
  2. Kereeen mba nad!! Good luck for both of you ;)
    *langsung follow ig*

    ReplyDelete
  3. awesoooomeeeee !!!!! aku gemeeesssh sama kalian berduaaaakk!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasihh Evaaa, boleh gemes selama nggak dicubitin :3

      Delete
  4. wah thrifting,, klo diluar barang2nya masik bagus2 ya,, kalao di Lombok gimana mbak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di sini, kalau belum masuk butik recycled emang terlihat lusuh semua kok, Mba. Di Lombok juga sama aja, harus gigih mencari di tumpukan dan deretan. Seperti berburu harta karun!

      Delete