Monday, February 1, 2016

Jin Shin Jyutsu Self-Healing: Merawat Diri dan Orang Tercinta secara Mandiri



Awal ketertarikan saya dengan self-healing sangat sederhana, rasa penasaran saya terhadap banyak hal. Saya juga termasuk seseorang yang mudah stres. Segitu inginnya melepaskan beban dan ketegangan akibat rutinitas pekerjaan dan masalah pribadi, I'll do everything. Saya pun melihat poster tentang kelas Setu Selo Kedai Rasayana edisi Self-Healing Keluarga dengan guru Ibu Diwien Hartono, seorang praktisi kesehatan holistik, Sabtu, 30 Januari 2015 yang lalu di Pendopo Maguwo. Keberuntungan itu ada.

Sebenarnya, sih, juga karena seringnya saya mendengar sepak terjang Reza Gunawan sang master Praktisi Kesehatan Holistik dan pengajar self-healing yang sekaligus suami dari Mamak Suri Idolaku (Dewi “Dee” Lestari). Hanya saja, saya belum pernah mengerti benar seperti apa sih itu sehat holistik dan metode-metodenya. Saya pikir hanya ada meditasi dan akupuntur aja. Ternyata ada juga yang dinamakan Jin Shin Jyutsu, seperti yang didalami Ibu Diwien, yang aktif menjadi praktisi Jin Shin Jyutsu di True Nature Holistic (klinik penyembuhan holistik milik Reza Gunawan).

Baru duduk sebentar di Joglo Bersama Pendopo Maguwo, suasana sudah sangat mendukung. Hening, gemericik air sungai di bawah, angin sepoi (hal langka untuk cuaca yang panas nggak menentu bahkan di musim hujan saat ini), bahkan denting musik yang dihasilkan tiupan angin pada hiasan gantung. Ah, syahdu. Ibu Diwien yang ternyata sudah tiba sejak pagi, pesawatnya dari Bali sudah mendarat sejak pagi buta. Beliau menyapa kami yang sudah hadir, ada saya, empat peserta lain, dan Citra, dari Kedai Rasayana. Beliau memulai paparan awalnya tentang apa itu sehat holistik, dan mengingatkan kalau nanti kami akan lebih banyak diberi tahu cara menerapkan dan praktek langsung. YAYSSS!

Sesi dua jam ini padat berisi dan berasa banget. Total saya menghasilkan notula 9 halaman ms.word (hasil dari transkrip rekaman yang disimpan di ponsel, karena pada saat sesi berlangsung saya nggak mau riweuh mencatat, fokus mencerna dulu pokoknya.), yang akan coba saya mampatkan jadi satu blog post di Selasa Sehat kali ini. Bismillah. Doakan saya nggak ngalor-ngidul yaaa!

Well ... Penyembuhan holistik itu intinya fokus pada perawatan batin dan energi.  Kita, manusia, sebenarnya sudah diberi modal untuk merawat diri kita sendiri. Merawat badan tentu saja, ini sepertinya yang sering menjadi fokus utama kita. Merawat jiwa, tidak mungkin, karena bagian ini adalah teritori Sang Maha Pencipta, Dia-lah yang akan memutuskan sampai kapan jiwa ini akan berdiam di badan kita. Nah, yang sering dianak-tirikan adalah merawat batin (memori, pikiran) dan energi (alasan kita bisa beraktivitas). Dengan mengerti self-healing atau penyembuhan diri, kita sudah berbaik budi pada diri sendiri. Dan kalau ingin lebih lagi, untuk diterapkan untuk merawat orang-orang tercinta di sekitar kita.


Modal yang dibutuhkan semuanya sudah disediakan Tuhan: Napas, Sentuhan, Gerak, dan Keheningan. Keheningan pun jangan diartikan harus selalu menyepi di tempat sepi, keheningan juga bisa didapat dalam keramaian. Dalem ya :)

Sebelum menolong orang, pertama kita harus sudah menolong diri sendiri. Makanya kita perlu nih menerapkan dua teknik sederhana yang bisa dilakukan setelah bangun pagi, diulang saat siang, atau saat-saat yang dibutukan seperti ketika panik menyerang.

1.       Zip up
Sudah bukan berita baru, kalau energi orang-orang di sekitar kita bisa memengaruhi diri kita. Mood, tenaga, suasana hati, dan lainnya. Namun, tahukah kalau sebenarnya kita bisa melindungi diri dengan cara yang sederhana?

Caranya adalah dengan menarik napas dan menggerakkan jari dari atas tulang pubis (tulang kemaluan) seakan menutup retsleting diri, digerakkan sambil menarik napas dalam sampai ke bawah bibir, lakukan gerakan mengunci, dan buang “kunci” itu. Ulangi sampai 3 kali.


Kami yang hadir di kelar sudah mencobanya, sebelum dan sesudah zip up. BIG BIG DIFFERENCE :D

2.       Napas 478
Bernapas dengan sadar adalah kunci self-healing. Napas perlahan dengan pola ini, membuat kita tak hanya semakin nyaman, rileks, tapi juga fokus. Caranya adalah dengan menarik napas dari hidung, lakukan dengan durasi 4 hitungan/4 detik versi yang sesuai dengan kapasitas diri sendiri. Dilanjut dengan menahannya selama 7 hitungan, kemudian hembuskan perlahan melalu mulut, pelan-pelan selama 8 hitungan. Lakukan 5 kali.

Diterapkan pagi hari sehabis bangun tidur, saat akan tidur, juga bisa juga sebagai pertolongan pertama saat dilanda serangan panik atau emosi lain yang berlebih atau saat ingin menolong orang. Ketika panik itu datang, minggir sejenak, lakukan napas 478, 5 kali, lanjutkan dengan zip up, 3 kali.


Jin Shin Jyutsu
Well, mungkin kita akan langsung beralih ke Jin Shin Jyutsu (JSJ) . Apakah JSJ itu? Di Jepang, metode pengobatan ini telah dianggap seni dan berlaku turun temurun. Di Indonesia metode ini mulai diterapkan sekitar sepuluh tahun belakangan ini. Jin Shin Jyutsu, secara terjemahan berarti penyembuhan diri sendiri dengan bantuan Sang Maha Pencipta.

Dalam JSJ, tubuh kita punya apa yang dinamakan SEL (Safety Energy Lock) atau bahasa sederhananya saklar tubuh. Seperti rumah yang punya saklar, jumlahnya kadang tidak hanya satu, biasanya dibagi per bagian-bagian rumah, per sirkuit-sirkuit. Misal di pagi hari, dapur menjadi pusat penyedot listrik yang paling banyak. Beban di daerah dapur akan berat, dan ketika beban tersebut tidak mampu ditahan maka sekringnya akan turun. Bagian lain dari rumah mungkin tidak terpengaruh, maka kita akan fokus menyelesaikan masalah energi yang terjadi di daerah dapur. Apa ada yang terlalu membebani, kenapa konslet? Maka kita akan mencoba melepaskan beberapa kabel dan mencoba menaikkan sekring di bagian dapur lagi. Itu prinsip dasar yang sama di JSJ.  Jadi di tubuh manusia ada 26 titik yang disebut SEL, dengan hanya menekan/menyentuh salah satu SEL tersebut, kita bisa mengharmoniskan energi ke daerah-daerah tertentu. Bukan mentransfer energi, tapi kita menaikkan saklar itu, agar energinya mengalir.

Sekarang kita akan langsung praktek teknik utama dalam JSJ, yang disebut Main Central & Miracle Flow. Di kelas kemarin, kami para peserta yang semuanya buk-ibuk mbak-embak  dipasang-pasangkan, dan secara bergantian menjadi terapis dan klien.

1.       Main Central
Atau metode yang diperuntukkan untuk situasi saat kita/orang yang akan kita tolong (klien) merasa nggak enak badan, tapi nggak tahu akar masalahnya secara detail. Pokoknya semacam kemrungsung, linu. Hingga masalah yang lebih mendetail letaknya, seperti pusing, demam, gejala-gejala spesifik, sinusitis, pilek, flu, batuk, sesak napas, maag, gas, asam lambung, mens tidak teratur, diare, sembelit, sakit punggung, dan skoliosis.

Caranya adalah dengan salah satu tangan (kanan/kiri) diletakkan di puncak kepala. Misal saya pakai tangan kiri diletakkan di atas kepala, maka tangan kanan yang akan berpindah-pindah ke titik yang dituju. Begitu pula sebaliknya. Selama terapi berlangsung, bisa sambil duduk atau lebih enak tiduran. Bisa merawat diri sendiri atau menjadi terapis bagi orang lain. Sebelum merawat diri/orang lain, lakukan napas 478 sebanyak 3 kali dan tetaplah rileks. 

Kalau sedang sendiri, kita juga bisa merawat diri sendiri lho. Saya coba dengan diri saya sendiri, ilustrasi di bawah mungkin bisa membantu. Kita coba ya, here we go.
  1. Pejamkan mata, cari posisi serileks mungkin. Bisa berbaring, bisa duduk. Tangan kiri diletakkan di puncak kepala. Letakkan dengan santai, tidak perlu tekanan yang berlebihan. Tangan kanan diletakkan di atas dahi. Di setiap titik yang disentuh, diamkan selama 2-3 menit (bisa lebih lama sesuai bagian yang dirasa bermasalah), untuk awal-awal bisa gunakan timer di handphone untuk memudahkan akurasi waktu.
  2. Tangan kanan dipindah ke puncak hidung, tangan kiri tetap di puncak kepala. Gunakan dua jari saja dan sentuh hidung dengan perlahan.
  3. Tangan kanan pindahkan ke tengah dada, tangan kiri tetap di puncak kepala.
  4. Tangan kanan dipindah ke ulu hati atau perut atas, tangan kiri tetap di puncak kepala.
  5. Tangan kanan dipindah ke atas tulang pubis, tangan kiri tetap di puncak kepala. (kalau sedang menerapi orang lain/klien, dan klien merasa risih dengan sentuhan di bagian ini. Kita bisa menggunakan tangan klien untuk menyentuh dirinya sendiri).
  6. Tangan kanan tetap di atas di tulang pubis, tangan kiri pindah ke tulang ekor.
Perlahan-lahan buka mata, bangun, dan rasakan energi yang mengalir lancar. Setiap sesi berlangsung sekitar 12-15 menit. Singkat, tapi hasilnya, luar biasaaa, rasanya seperti memanfaatkan waktu dengan sangat berkualitas. Selesai terapi bisa luruh, ngalir, rileks, dan ngantuk. Enaaak banget!

Saya mencoba Main Central untuk diri sendiri, sambil duduk


2.       Miracle Flow
Kenapa disebut sebagai Miracle Flow? Karena metode ini bisa dibilang sebagai sapu jagatnya JSJ. Teknik ini bisa mengharmoniskan organ dan emosi. Tanpa arus tahu emosi yang mana, Miracle Flow akan menyelaraskan emosi kita. Tanpa menghilangkan marah/sedih, tapi membantu menerangkan apa penyebab kemarahan/kesedihannya itu.

Miracle Flow ini menjadi favorit ketika menjenguk orang yang sakit. Ketimbang ngomong ngalor ngidul, sambil ngomong kita bisa melakukan Miracle Flow.

Caranya adalah seperti seperti teknik jumping cable, tangan kanan dengan kaki kiri, atau sebaliknya. Flow pertama adalah ketika salah satu jari tangan menyentuh jempol kaki kiri, maka jari tangan kanan yang disentuh adalah kelingking. Berkebalikan, terus bergantian. 

·         Sentuh jempol  kaki kiri, pada saat yang sama sentuh kelingking tangan kanan. Lakukan selama 2-3 menit, berlaku untuk seterusnya.
·         Sentuh telunjuk kaki kiri, pada saat yang sama sentuh jari manis tangan kanan.
·         Sentuh jari tengah kaki kiri, pada saat yang sama sentuh jari tengah tangan kanan.
·         Sentuh jari manis kaki kiri, pada saat yang sama lanjut sentuh telunjuk tangan kanan.
·         Sentuh kelingking kaki kiri, dan sentuh jempol tangan kanan. 

Ibu Diwien sebagai terapis, menerapkan Miracle Flow pada seorang klien

Total durasi terapi Miracle Flow berkisar antara 10-12 menit. Hasilnya huaaa ... nyaman kuadrat. I don’t know why :):) Pas sekali karena pada saat terapi kepala saya sedang berkecamuk dengan berbagai isu yang sulit dihilangkan. Oh, rasanya seperti ditenangkan.

Yang perlu diingat: air putih dan obat dokter.

AIR PUTIH. Jadi pada saat kita menerapi orang atau merawat diri sendiri dengan teknik-teknik tadi, jangan lupa air putihnya dicukupkan. Karena semua masalah di kesehatan kita, awal mulanya adalah karena kekurangan air putih atau dehidrasi. Ada yang mungkin bilang, “Saya udah minum 2 liter kok setiap hari,” atau, “Saya udah minum 8 gelas kok setiap hari.” Eh belum tentu lho, bisa jadi 2 liter atau 8 gelas itu kebanyakan. Jadi patokannya adalah cukup. Cukup itu berbeda di masing-masing orang, bahkan di keadaan tertentu setiap orang akan berbeda-beda kebutuhannya. Hari ini akan beda dengan besok, atau minggu depan, atau bulan depan. Rumusnya adalah 33 x berat badan kita dalam kilogram = jumlah liter air yang kita butuhkan. 

Misalnya, saya ternyata membutuhkan, 1,55 liter (33x47), nggak sampai 2 liter seperti asumsi saya sebelumnya. Kalau kebanyakan, nggak bagus juga, karena akan banjir melarutkan zat-zat yang penting. Kalau kekurangan, jadi tidak ada sarana penyebaran yang cukup bagi zat-zat penting yang dibutuhkan. 

Ada jam-jam penting ketika tubuh paling membutuhkan air, antara lain:
·         Saat bangun tidur
·         30 menit sebelum makan x3
·         90 menit setelah makan x3
·         Sebelum tidur

Ooo ... O saya panjang banget karena saya ternyata minum air berlebih. Hiks. Pantesan sebelumnya, kayaknya ada yang salah ini ... Hmmm.

OBAT DOKTER. Kalau sedang merawat orang lain, jangan pernah “sotoy” menyarankan orang itu berhenti dari terapi obat medisnya. Karena sebenarnya pengobatan holistik membantu batin, untuk obat tidak akan dicampuri karena dokter yang memegang pasien seharusnya sudah mengerti dosis yang tepat. Dan akan dikurangi ketika waktunya sudah pas. Terutama untuk pasien penyakit berat.

---

Dari semua metode yang kami praktekkan, dan hasil diskusi dan tanya jawab yang intim. Ada benang merah  yang menarik yang sama-sama disetujui. Yaitu tentang berserah, tapi tidak asal ikhlas. Berdamai dan jujur dengan diri sendiri. Saat energi diaktifkan dan dialirkan ntah kenapa hal-hal yang terpendam jadi keluar lagi. Tersadarkan, yang belum diikhlaskan, jadi terpikirkan, pada saat yang sama ilham itu muncul untuk mencoba mencari jalan keluar. Does it sounds that too good to be true? Hahaha.

Ah, saya pun bakal bilang absurd sebelumnya, tapi setelah mencoba memahami hal-hal yang jadi pondasi Self-Healing metode Jin Shin Jyutsu ini, I couldn’t ask for better. Ibu Diwien is the coolest! (Makasih Ibuuuu :))

Eri, Ira, Mba Nancy, Victoria, Bu Diwien, dan saya. Foto oleh Citra Kirana.

Kalau untuk pertama kali, lakukan metode-metode tadi, sekaligus atau salah satu, setiap hari dalam satu minggu. Untuk minggu kedua, bisa dilakukan setiap dua hari sekali atau sesuai kebutuhan. Untuk anak, baik dilakukan dua hari sekali, untuk menjaga mood dan daya tahan tubuh mereka. Misalnya akan diberi untuk orang tua kita, yang sedang ada masalah kimiawi darah (asam urat, tensi tinggi, dan lainnya), bisa diterapi dua hari sekali. Bisa gunakan Main Central atau Miracle Flow, ask yourself, you know best apa dan metode yang paling nyaman kamu gunakan.

Sementara, saya suka semuanya :) :)

Selamat mencoba dan jangan pernah malu bertanya dan mencari ilmu sebanyak-banyaknya!


Love & light,
Nadia


2 comments: