Monday, August 24, 2015

Mencoba 7 Hari Terapi Green Smoothies


Sejak h+3 lebaran kemarin, saya dan keluarga mulai secara rutin mengonsumsi smoothie hijau atau green smoothies. Hehe, sebenarnya ini merupakan perwujudan atau efek membaca Green for Life karya Victoria Boutenko di akhir tahun 2014 dan seketika terpana dengan pengalaman yang ia tulis di sana. Apa yang saya tulis di sini, sebagian besar terinspirasi dari buku itu. Jika ingin tahu lebih jauh, buku ini tersedia dalam terjemahan bahasa Indonesia, lho. Saking inspiratifnya isi buku ini, saya sendiri berencana membeli lagi 3 eksemplar, masing-masing untuk ibu saya, ibu kos, dan seorang sahabat.

Green for Life yang life-changing itu

Smoothie hijau atau green smoothie ini memang berbeda dengan jus biasa. Smoothie lebih bertekstur, karena bahan utamanya adalah sayuran berdaun (mis: bayam, caisim, kale, pakcoy, daun wortel, parsley, seledri, brokoli, dll) dan tidak disaring sama sekali, ooo yikes! Namun rasa langu dari sayuran hijau teredam dengan campuran buah segar pengendali  rasa (mis: pepaya, stroberi, nanas, pisang, dll).

Quick story behind it ... Ramuan ini *ceilah ramuan* ditemukan oleh seorang pegiat raw food bernama Victoria Boutenko. Victoria telah mencoba berbagai opsi makanan mentah untuk menyelamatkan diri dan keluarganya yang sakit-sakitan, it was like ‘there is no other way, you change to a better, healtier lifestyle or die’. Wihhh... lebay ya, tapi ya memang begitu keadaan keluarga Boutenko saat itu. Thankfully, beberapa percobaan (terhadap diri sendiri dan keluarganya) dan penelitiannya berhasil, dan telah dibukukan dan jadi world wide best-selling books. Meski begitu, setelah enam tahun mengonsumsi murni makanan mentah, kondisi kesehatan keluarganya mulai mengalami degradasi.

Lho? Apa yang salah?

Ternyata, makanan mentah yang selama ini mereka makan tidak cukup memenuhi kebutuhan utama mereka. Umbi-umbian, salad dengan mayones dan saus yang lezat, ternyata jika dikonsumsi terus-menerus dalam waktu yang lama tanpa pendamping yang cukup, malah akan menimbulkan efek kebalikan pada tubuh. Victoria pun mencari informasi baru, sampai akhirnya ia mendalami tentang diet simpanse. Simpanse, hewan yang paling mirip dengan manusia ini ternyata tidak hanya makan buah. Lebih dari 50% dietnya terdiri dari sayuran berdaun hijau, bunga, dan biji. Sementara untuk manusia, makanan seperti itu sangat sulit dimakan mentah-mentah dan dalam dosis besar setiap hari. Victoria yang sebelumnya hampir putus asa menemukan cara untuk bisa makan sayuran berdaun hijau tanpa mengolahnya dengan minyak atau margarin, menemukan bahwa membuat smoothie dengan sayuran hijau sangat lezat jika dicampur dengan buah. It’s refreshing! Bahkan tanpa gula dan pemanis buatan sekalipun.

Smoothie hijau yang halus meringankan kerja lambung, juga memastikan asam langgung berada pada kadar yang pas. Manfaat dari klorofil yang terdapat dalam sayuran hijau mampu melawat radikal bebas dan sel-sel jahat dalam tubuh. Serat dalam sayur dan buah membantu membersihkan usus, melancarkan pencernaan secara alami, dan menyuplai stok serat, sehingga tak ada lagi sembelit dan kulit kusam.

Ok, ini benar-benar penemuan yang berharga.


Saya, yang paling susah mengunyah tomat dan kemangi di lalapan pun tergiur dengan ide smoothie hijau ini. Dengan takaran yang tepat, saya setiap harinya bisa menghabiskan 1 liter smoothie hijau, dan tersenyum puas setelah tegukan terakhir. Yummm!

Dari pengalaman meminum ramuan ini lebih dari sebulan, saya punya resep terfavorit setelah percobaan dan berbagai zonk yang dialami sejauh ini. Kalau masih pemula dan takut minum sayur giling ini, tambahkan buah lebih banyak lagi.


Hari pertama:
Happineaple!
Blend sampai halus:
3 baby pakcoy
1 nanas madu
½ jeruk, ambil airnya
2 gelas air dan es batu sesuai selera
Untuk 1 liter

Hari ke-2:
Ten Fingers
Blend sampai halus:
½ ikat bayam merah
10 pisang emas
½ jeruk, ambil airnya
2 gelas air dan es batu sesuai selera
Untuk 1 liter


Hari ke-3
Popeye The Sailor Man
Blend sampai halus:
1 ikat bayam
½ pepaya california
10 stroberi
2 gelas air dan es batu secukupnya
Untuk 1 liter


Hari ke-4:
Heavenly Parsley
Blend sampai halus:
1 ikat parsley (bisa diganti dengan peterseli atau kemangi)
½ pepaya hawai
½ jeruk
2 gelas air dan es batu secukupnya
Untuk 1 liter

Hari ke-5:
Minty Snow White
Blend sampai halus:
1 gelas daging sirsak, buang bijinya
30 daun mint
½ jeruk nipis, ambil airnya
2 gelas air dan es batu secukupnya
Untuk 1 liter

Hari ke-6:
Purple Sky
Blend sampai halus:
7 terong belanda, kupas kulitnya
2 tomat
2 pisang
¼ pepaya
½ ikat bayam mera
10 daun mint
2 gelas air dan es batu sesuai seler
Untuk 1,5 liter

Hari ke-7
Bronana
Blend sampai halus:
1 bonggol brokoli
3 pisang cavendish
½ lemon, ambil airnya
2 gelas air dan es batu secukupnya
Untuk 1 liter


Catatan tambahan:
    • Smoothie hijau sangat cocok diminum saat pagi hari, sebelum ada makanan lain masuk ke tubuh.  Smoothie ini bukan pengganti makanan, kita bisa makan apa saja seperti biasa setelah satu-dua jam mengonsumsi smoothie.
    • Smoothie hijau yang baru di-blend sebaiknya langsung diminum untuk mendapatkan manfaat terbaiknya. Namun, smoothie hijau sebenarnya bisa disimpan sampai tiga hari di kulkas, jadi bisa diminum selama bepergian.
    • Rotasi sayuran hijau. Selain membuat kita tak mudah bosan pada sayuran yang sama setiap harinya, juga untuk menghindari tumpukan alkaloid dari tanaman yang sama.
    • Supaya hasil blend-nya halus, dan nggak nyusahin si blender, letakkan buah di susunan paling bawah, lanjut ke sayuran di bagian atas.
    • Setelah seminggu minum smoothie hijau, kita mungkin akan mengalami gejala detoksifikasi sepertinya munculnya jerawat, pusing, atau buang air lebih dari 3 kali dalam sehari (bukan diare). Itu bisa jadi hal yang baik, dan selama tidak mengganggu, silakan lanjutkan rutinitas minum smoothie hijaumu.
    • Tip untuk anak kos seperti saya, belilah blender, ini adalah sebuah investasi yang baik. Dan kalau susah mendapatkan es batu, saya biasanya membeli es jeruk tawar di warung makan (terpercaya) di depan kos setiap harinya. Gampang, ya?

    Sekian cerita smoothie hijau dari saya. Kalau ada yang tertarik, selamat mencoba, ya! Dan kalau bertahan lebih dari seminggu dan merasakan manfaatnya, mungkin kamu bisa melanjutkannya sampai hari ke-30 dan seterusnya.

    Bagi pengalaman dan resep kesukaanmu di sini, ya. Selamat mencoba!



    Love & light,
    Nadia

    5 Alternatif Latar Foto OOTD

    Ahem.

    Bermula dari beberapa teman pernah bertanya di mana saja lokasi foto yang sering mereka lihat di instagram saya (uhuk, sekalian promosi, diikuti ya kalau suka :p). Saya selalu menjawab jujur sedikit ngawang, “Itu di tembok di jalanan komplek, dalam perjalanan berangkat ke/pulang dari kantor.” Ooo... trus siapa yang fotoin? “Ya nggak ada lah, pake namanya teknologi bernama self-timer, cari sandaran yang tegak dan kuat, soal angle belakangan, dapat sandaran yang steady buat naroh hape aja udah syukur."

    Karena itulah kali ini saya menyempatkan diri mereview tembok-tembok kesayangan yang sering saya manfaatkan, yang semuanya telah memenuhi kriteria saya yang pemalas dan pemalu ini (nggak mungkin saya repot foto ke studio dan difotoin orang, hiii ngebayanginnya aja udah geli duluan); permukaan luas, warna menarik, lingkungan sekitar relatif sepi pada jam-jam tertentu, dan pastinya ada sandaran untuk hape bata saya. Iya, saya pakainya smartphone biasa, dan nggak punya (dan nggak bisa pakai) kamera beneran sih. Lagian pasti ribet lah, kalaubawa kamera segeda gaban nanti nggak bisa curi-curi foto sembarangan. Ya sudah langsung aja direview tembok-temboknya, Nad. Ok ok.


    Here we go ...

    #1 Tembok peach/pink/salem/krem (tergantung pencahayaan)

    Sekitar 50 meter dari kos saya di Jalan Irian, tepatnya di sebuah jalan tikus antara kebun pepaya kuning dan kos putra. Kebayang saya yang kagok karena kepergok lagi pose depan depan tembok. Tengsin cyin .... Untungnya jalan ini hanya dilewati sama pejalan kaki dan pesepeda (dan sesekali pengendara motor yang nekadszzz). Tempat meletakkan kamera hp pun difasiitasi (ooh tentu kita punya monopod tancap aka pipa paralon), meski jadinya cuma tampak ½ badan. Hasilnya ... foto minimalis a la sampul majalah Kinfolk ini pun siap dilempar ke pasaran. Fixed, tembok ini adalah favorit saya selama-lamanya!

    Lokasi tembok peach favorit, di depannya ada si monopod built-in
    Si monopod tancap



    #2 Tembok hitam abstrak + sulur-sulur

    Ini yang agak lebih hardcore, selain karena di jalan umum (di salah satu percabangan Jalan Kalimantan) yang semua orang bisa lalu lalang pake apapun itu, juga karena langsung berseberangan dengan kos putra. Untuk menyiasati supaya saya bisa foto dengan aman dan selamat tanpa kepergok, saya sengaja berangkat ke kantor lebih pagi. Setelah jam 7 lah, lebih dikit. Untuk sandaran kamera hape tentunya ada pagar rumah orang yang cukup bagus angle-nya. Lumayan ye ... kalau pakai tembok ini fotonya bisa sebadan penuh, bonus sulur-sulur pula.

    Lokasi tembok hitam abstark dan tempat hape bersandar
    Pagar tempat hape saya bersandar
    Hasil foto a la-a la


    #3 Tembok biru

    Terletak di sebelah Masjid Nurul Hidayah Purwosari, tembok biru ini segar banget kalau udah dikasih filter #VSCO, hihihi. Kekurangannya temboknya nggak mulus 100% masih ada garis seperti tembok rumah kebanyakan, bukan latar belakang foto studio (dipikir???). Namun saya selalu maklum, namanya juga tembok rumah orang tak dikenal. Dan ternyata justru itu yang membuat tembok ini lebih cocok untuk foto produk ketimbang #ootd.





    #4 Tembok merah

    Terletak di salah satu percabangan Jalan Sulawesi. Tembok merah ini cocok untuk #ootd dan foto produk. Efek tembok yang luasss ini bikin hasilnya jadi ciamik dan ada kesan rustic a la-a la begitulah. Kekurangannya ada di lalu lintas mereka yang hilir mudik, paling sering ada tukang sayur dan anak-anak kos. Kalau kepergok, makin lama saya makin tebal muka, pura-pura bego aja dan lanjut jalan.

    Tembok merah polosan no-filter
    Hasil setelah difilter #vsco, lumayan lah



    #5 Gerbang besar peach karatan

    Nah, ini dia gerbang super gede yang cocok untuk foto seluruh badan. Sedikit deg-degan, karena tiap foto dekat-dekat gerbang ini ada suara anjing gonggong cari perhatian, potensial mendatangkan perhatian warga sekitar komplek perumahan mini itu. Saking seringnya kepergok di jalan yang juga adalah salah satu percabangan Jalan Sulawesi ini, saya udah nggak punya image classy lagi. Pada taunya, “Itu si mbak yang suka lewat dan taruh handphone di pagar rumah orang”. Hakdesss!





    Sebenarnya masih ada lagi tembok-tembok yang tidak sengaja saya temukan dalam perjalanan ke kantor. Saking banyaknya saya sampai lupa tempatnya di mana aja. Dan di balik semua cerita di atas, hikmah yang terkandung sangatlah mulia. Untung banget ya saya pejalan kaki, jadi mata ini awas banget tiap liat tembok photogenic. Hihi, coba deh kalau saya naik motor, pasti nanti mencolok banget ... kok ada motor parkir nggak jauh dari si anak yang lagi #ootd-an ini? *siapa juga yang bakal peduli Naaaad!*  Kalau jalan kaki kan kesannya kasual, innocent, explorer gimana gitu, jadi pas kepergok tinggal lanjut jalan lagi, pura-pura bego dan tinggal senyum sama yang mergokin. Hidup pejalan kaki! Muahahahaha.


    Love & light,
    Nadia