Tuesday, December 29, 2015

Growing Cities Club: Menonton dan Meresapi Konsep Urban Farming

Kemarin saya mampir ke acara selamatan Kebun Komunitas RT02, Dusun Jenengan, Maguwoharjo, yang diinisiasi Kedai Rasayana. Selamatan ini semakin berkesan karena dilanjut dengan pemutaran film dokumenter Growing Cities + diskusi bareng Bu Janti @alterjiwo (yang punya lahan dan inisiatif), Pak Slamet @petanibertato, Pak Kun, Mas Rudi, dan teman-teman lain yang sudah antusias datang.

Logika nggak jalan tanpa logistik, maka sebelum nonton saya dengan lahap mamam tiwul beserta lauk pauk dan aneka sayuran dari #sekolahpagesangan juga minum bir mataram dan secang racikan @kebunkitajogja. Alhamdulillah, enak banget, sampe mau nangis.


Gambar diambil dari instagram @KedaiRasayana

How was the movie? Well, the movie was great and really edible!

Ceritanya ada dua anak muda asal Omaha, Nebraska, bernama Dan Susman dan Andrew Monbouquette melakukan perjalanan darat keliling Amerika Serikat mencari jawaban atas segala pertanyaan (tsah...). Mereka yang memang punya latar belakang sekolah tentang ketahanan pangan ini, berinteraksi dengan pegiat dan komunitas urban farming yang tak lain adalah para pejuang sumber makanan berkualitas di kota mereka masing-masing! Petualangan mereka dari Omaha-LA-SF-Portland-Detroit-(some cities I forgot the details)-New York-DC-Austin hingga kembali dari ke Omaha, membawa banyak sekali pelajaran yang bisa dipetik.

(((dipetik)))

Huehehehe ... Saya yang awam dengan istilah urban farming dan printilannya sekalipun tetap dibuat terkesan. Apalagi melihat tipe lahan, komposisi penduduk, dan kendala masing-masing di tiap kota, masih saja tak menyurutkan tekad mereka untuk terus menanam dan menyediakan bahan makanan segar. Jangan keluhkan masalah ketersediaan lahan, ada banyak sekali sebenarnya tanah-tahan bahkan bangunan tak terpakai yang bisa digunakan. Asal bisa paham sama aturan, nego pemerintah setempat, dan pemilik tanah, mereka bisa! Bahkan dari jendela apartemen atau atap gedung di kota sepadat New York pun bisa ditumbuhi sayuran enak! Oh that was really amazing and they said it's simply because they can, they want to do it, and everyone needs healthy and affordable food sources. Cara mereka mengumpulkan kompos via taksi kompos pun bikin geleng-geleng, niat tenan! Rawkz sekali!!! Film ini ditutup dengan Dan dan Andrew yang menanam sayuran di bagian belakang mobil bak mereka, yang bahkan bisa tumbuh dan dipanen! See, you sure can grow food anywhere, hah, hah.
 
 Trailer Growing Cities (2012)


Biarlah saya dikata Amerika-sentris banget, tapi ya emang baru mereka yang jago mengemas perkembangan #GrowingCities jadi semenarik itu. Namun sebenarnya, film ini dibuat untuk pesan yang universal.

Dari diskusi seru bareng para pegiat urban farming Jogja dan sekitar, saya jadi sadar kondisi masyarakat dan kota-kota di Indonesia nggak berbeda dari Amerika sana. Kendala yang dihadapi juga sebenarnya dihadapi oleh kita yang katanya gemar ripah loh jinawi tapi penduduknya masih kelaparan, gizi buruk, dan obesitas di mana-mana. Kalau kata Bu Janti, idealnya kita memang bisa menanam sendiri, merawat, melihat sendiri bahan-bahan itu tumbuh, memanen, dan mengonsumsinya. Untuk saya si bujangan tak bertanah dan tak berproperti ini, hal semacam itu seperti angan-angan yang disimpan buat hari tua. Huhuhu ... susah banget, ya. Kan nggak semua orang passionate bertanam seperti itu. Namun akhirnya saya dibuat ngeh kalau sebenernya pesan dari film ini sederhana, it's as simple as to know where your food comes from. 

Paling tidak sekarang saya harus mulai bijak memilih apa yang masuk ke badan ini. Jangan asal enak, asal gratis (:p), asal gampang, lantas puas. Belajar penasaran dari mana makanan yang tersaji ini berasal, bahan-bahannya dari mana? Kalau diimpor dari jauh, sejauh apa? Dikirim ke sini dikemasnya bagaimana? Ah, ribetttt amat sih, tapi semoga bisa melangkah kecil-kecil. Kalau kata Mba Citra dari Kedai Rasayana, "Boleh kok ikut ngolah kebun di sini, belajar aja bareng-bareng," aaaa Mba Citra you're so sweet. Bismillah, saya kapan-kapan dateng dan ikutan nanem/elus-elus sayuran.

Semangat!

For the love of good food,
Nadia.

Thursday, December 3, 2015

Dandelion - Monita Tahalea: Album yang Datang Bersama Pelangi


Mendengarkan sealbum Dandelion (2015) itu seperti duduk di pinggir kebun dandelion dengan kucuran sinar mentari yang pas (dan duduknya di pinggiran aja, nggak perlu di tengah-tengah kebun juga :p). Teduh, hangat, dan menyembuhkan. Selanjutnya saya akan mengulas album ini dengan lebih lebay dari biasanya. Hmmm kemungkinan karena pagi tadi saya (sekali lagi) habis menerima kabar kurang menyenangkan, menjurus mengecewakan. Tentang apa? Biarlah hanya keluarga dan teman-teman terdekat saja yang tahu. Pokoknya semua rencana dan khayalan sirna sudah. Menghilang, menguap, wushhh!

Saat tulisan ini dibuat, saya belum bisa menangis kencang-sekencangnya untuk meluapkan emosi. Mungkin saya belum 100% ngeh, mungkin masih shock. Yang ada sekarang saya masih bego banget, salahnya di mana, apa mungkin ini dan itu ya... Ah, sudahlah, kalau kata Mama saya: belum rejeki namanya... Mungkin saya bisa nangisnya  baru nanti malam.

Bingo bango bla bla bla ...

Saya akhirnya memutuskan untuk membeli album ini di iTunes, setelah mendengar cuplikan tiap lagu-lagu di dalamnya puluhan kali sejak dua hari terakhir. Dan karena saya nggak cukup sabar kalau harus menunggu CD fisiknya dirilis Januari nanti, jadi ya... kegiatan purchasing dilaksanakan hari ini saja. BANZAI!

Done purchasing this lovely album, iyeyyy!


Sejak awal saya langsung disapa "Hai" sebuah pembuka yang menjalankan tugasnya dengan terlalu baik. Senyum mulai mengembang, rasanya sedang dii-pukpuk seorang teman baik. Selanjutnya, saya reuni dengan lagu kebangsaan buat para gadis bingung dan pengembara, ini lah "168" si lagu favorit yang sudah saya dinanti rilisannya sejak pertama mendengar Monita membawakannya di Ngayogjazz 2013. Benarlah setelah dilahap, sensasinya tidak melenceng dari ekspektasi. Asli musiknya jadi semakin manis, manis! Lalu ada "Bisu" yang tiba-tiba melejit lagu favorit saya, belum bisa menjabarkan kenapanya, tapi langsung ini sungguh bertenaga. Liriknya nampar, terutama buat kita yang pasif-agresif, diem doang tapi kesel... hehehe. Ya, pastinya musiknya yang menghantui, petikan gitar si GeSit (Gerarld Situmorang) ini cakep punya. Sukaaa!

Kejutan hadir dari "Tak Sendiri" (masih) karena kerasa cocok sama kondisi saya sekarang *halah. Menurut saya, lagu ini lebih rohaniah/religius/begitulah, lebih seperti dialog dan ucapan syukur kepada Tuhan yang selalu ada buat kita. Gini nih penggalan liriknya: Aku kembali, tersenyum, menari, dan bernyanyi. Karena ku tahu ku tak sendiri, cintaMu selalu bersemi,  hadirMu selalu di sini, kasihMu selalu di hati. Ada lagi "I'll Be Fine" yang kira-kira pesannya miripramah di hati dan telinga.

Allah knows best. Allah knows best. Allah knows best.

*terus hening*

Yak yak yak dan pastinya ada "Memulai Kembali" single yang pertama dilepas Monita dari album ini. Setelah mendengarkannya, semuanya tak lagi sama. Bersyukur, itu saja yang tertinggal di kepala saya. Tuh kan, air mata jadi netes waktu ngetik kalimat barusan. Tuhan Maha Baik ngasih inspirasi ke makhluknya buat bikin formula penyembuh seperti ini... 

Saya jadi membatin, ini sealbum cocok biangettt buat momen pagi-pagi setelah bangun habis nangis semaleman. Hihihi ...


Monita Tahalea & The Nightingales - Memulai Kembali, Jazz Gunung 2014

#MemulaiKembaliVC Hangat, tenang, dan bikin kangen rumah di Lombok :)

Terima kasih dan selamat untuk Monita, atas penantian yang terbayar, 5 tahun yang menyenangkan setelah album pertama Dream, Hope, Faith (2010), sampai kini kami bisa menikmati album ini. Salut untuk Gerald Situmorang, gitaris berbakat, bassist sangar, produser sekaligus composer album ini. Sepertinya, musik yang baik memang lahir dari mereka jatuh cinta sama musik untuk kesekian kalinya, over and over again. *nah tuh sotoy lagi, tau dari manaaa?

Semoga review di atas bisa membuat kalian yang kebetulan lewat penasaran, dan dengan previewnya di iTunes atau Youtube, dan beli albumnya, dan nonton langsung kalau Monita lagi ditanggap di kotamu. IYAYYY JADI SEMANGAT LAGIII!



Update 23 November 2016

Alhamdulillah, akhirnya setelah 2 kali Monita manggung di Jogja tahun ini, dan dua-duanya saya malah sedang di luar kota atau bentrok sama acara penulis ... Saya berhasil menuntaskan kangen di Ngayogjazz, 19 November 2016 lalu. 
AAAAAA SO HAPPY I COULD BURST <3
Bisu - Monita Tahalea


Love & light,
Nadia

Wednesday, December 2, 2015

Le Top 5 Fixer Elixir


Huaaa tuh kan saya updatenya selang berminggu-minggu kemudian lagi. Nyahahaha, nggak apa-apa lah, yang penting update.

Kali ini saya mau berbagi sedikit tentang topik yang teramat menarik buat saya akhir-akhir ini, yaitu minimalisme! Widihhh, kesederhanaan yang bikin banyak hal jadi lebih mudah. Termasuk dalam hal makanan dan minuman, semakin sederhana dan sedikit prosesnya, semakin baik dan terjaga manfaat aslinya *weitsdah, sotoynya kumat!

Saya termasuk makan apa saja, dan banyaaak porsinya. Buat ngimbanginnya, di bagian minum-minumnya saya jadi lebih picky sedikit. Saya jarang banget minum minuman lucu-lucuan jaman sekarang, juga kopi (kehidupanku suram ya, tapi ya emang nggak fanatik kopi), setahun kadang bisa minum sekali.

Jadi selain the mighty air putih yang jangan ditanya lagi (minuman favorit nomor satu di dunia. Works on every level, lah!), saya punya beberapa minuman favorit yang memuaskan dan bermanfaat untuk dicoba *ah elah gaya benerrr :p

1. Air kelapa muda, enak banget banget seger, isotonik alami dengan sejuta guna. Semacam karunia terindah dari alam, rasanya ueenaaak tanpa dicampur apapun. Saya usahain minum ini minimal sekali seminggu, meski praktiknya bisa sampai 5x, karena ada penjual kelapa muda di dekat kantor. Beruntung amat!

2. Air lemon/jeruk nipis/jeruk. Minum ini hangat-hangat sesaat setelah bangun pagi, rasanya

3. Air jahe dengan lemon dan madu (kadang minus lemon), yang jadi favorit saya buat diminum sebelum tidur di malam yang hujan dan dingin dan karena aku masih bujangan jadi semakin dingin *what!

Le Air Jahe Madu Lemon

4. Air wortel dan jeruk. Wortel diblender dan disaring airnya, lalu dicampur dengan perasan jeruk.

5. Kombucha. Ini agak gaya-gayaan dikit, hahaha. Karena nggak semua orang bisa suka dan ngedapetinnya nggak segampang yang lain #ahelah. Meski sebenernya sederhana, teh fermentasi (attention: teh fermentasi ya bukan teh basi, hahaha) yang diramu dari teh, gula, dan difermentasikan oleh mikroba bernama kombucha. Nutrisinya silahkan googling karena banyak banget! Yang pasti saya bisa bilang rasanya enaaa, nyengat-nyengat suka!


Love,
Nadia

Tuesday, November 17, 2015

Menepati Janji di Selasa Sehat: 3 Resep Mudah Smoothie Super Yummm!

Halooo! Rasanya sudah sewindu saya mangkir lagi dari mengurus blog ini *MANA JANJI MANISSSMU NADDD??? HAHA*

Ok, ok, sebenarnya saya nggak sepenuhnya mangkir karena sudah tiga kali dalam dua minggu terakhir ini saya urun artikel resep di blog Bunda Noni yang tersohor itu!!! nonirosliyani.com :) :) Suatu kehormatan banget banget deh bisa diminta si Bun Non yang fokus di dunia parenting ini buat mejengin resep smoothie saya di sana. Jadwalnya pun dibuatin setiap Selasa, dan dinamai Selasa Sehat. Penuh rima kan namanya #UOPOOO

Harapannya sesederhana resep yang dibagi di sana, pengin nunjukkin kalau memulai hidup sehat itu bisa dari hal-hal/bahan-bahan paling sederhana. Modalnya cuma niat dan blender. Bahannya sebisa mungkin yang termudah, terjangkau, pastinya bakal yummy hasilnya.

Tiga resep yang sudah saya bagi setiap minggunya, antara lain:

1. Purple Spingo


 
2. Warm & Cozy




3.  Pinacolada on the Go!

 

Bismillah, semoga ada yang kecantol dan nggak males buat nyoba. Percaya deh, sesibuk-sibuknya gitu, pasti bisa nyisihin waktu buat bikin smoothie 5 menitan ini aja.

Dan, semoga saya tetap istiqomah dan nggak kendor meski halangan banyak melambai-lambai.

Jangan lupa follow Bunda Noni di blog & instagram ya, pssst... Bun Non dan suaminya Mas Doni baru aja meluncurkan produk sayur beku + bumbu jadi mereka lho. Go follow their instagram @cemplangcemplung too!

Salam Selasa Sehat!



Love & light,
Nadia

Monday, September 14, 2015

Seni Beres-beres yang Mengubah Hidup

Salah dua buku yang paling berpengaruh untuk saya akhir-akhir ini adalah Green for Life (Victoria Boutenko) dan The Life-Changing Magic of Tidying Up: The Japanese Art of Decluttering* and Organizing (Marie Kondo). Buku-buku nonfiksi yang sangat pop, favorit saya banget, lah. Kalau kata Mas Wisnu, dosen saya di Jurusan Ilmu Komunikasi UGM dulu, nge-pop di sini bisa dimaknai sebagai sesuatu yang mudah menyentuh hati karena akrab, merupakan bagian dari keseharian kita, dan terasa baik dan berguna.


*decluttering = anti menimbun barang 


Green for Life mengubah hidup saya dengan "penemuan" smoothie hijau yang benar-benar berharga itu. Saya menuliskan pengalaman menyenangkan dan resep smoothie hijau versi saya, di sini. Hope you'll find it useful enough.

Then, The Life-Changing Magic of Tidying Up was another story. Buku ini menjadi world wide best-selling book, dan berhasil menyebarkan metode KonMari (sebutan untuk metode buatan Marie). Menjadikan Marie salah satu dari 100 The Most Influential People-nya majalah TIME. Sebelumnya saya udah sering mendengar reviewnya dari CEO saya di Bentang, Mas Salman Faridi, Marie Kondo ini sudah jadi top of mind dalam dunia organizing. Wuihhh, saya pikir nih Marie pasti semacam ibu-ibu Jepang dengan OCD untuk hal-hal mengenai kerapian, clean-neat-freak yang tipikal, blablabla.

Ternyata ... ya, emang begitu sih si Marie, emang passionate mengorganisasi segala sesuatu sesuai kategori. Saya juga agak kaget, Marie ternyata masih muda dan kinyis-kinyis, kawaiii! *nggak penting kalau ini*. Apalagi setelah baca bukunya, saya tahu kalau dari kecil Marie lebih memilih untuk merapikan mainan dan  printilan di sekolahnya, dibanding keluar bermain di halaman bareng teman. Zzz .... Namun, justru passion ini yang menggerakkan Marie untuk menekuni bidang yang nggak disangka-sangka bisa jadi jenis profesi baru, yaitu ... *drumroll* it's an organizing consultant! Nah tuh, ada-ada aja ya profesi kreatif dan unik begini.

Perhaps enough about Marie. Kalau bukunya, saya belum menemukan versi terjemahan bahasa Indonesianya, soon, semoga segera ada. Namun, beruntung banget karena saya nemu buku ini Bookmate (dan masih berlabel "free"). Yippiyay! Mulailah saya menekuni buku ini dengan harapan yang sederhana, hidup saya bisa lebih terorganisir. Better, lighter, neater. Titik. Sampai ke hidup segala, Nad ... well, di buku ini saya belajar kalau suasana tempat kamu tinggal somehow bisa benar-benar berpengaruh pada badan dan pikiran.

Saya belajar bagaimana metode "KonMari" yang dijabarkan Marie di bukunya ternyata sangat mendasar, tapi kita sendiri yang masih abai dengan segala organizing stuff. Kepo dong, saya ngecek instagram Marie, dan menemukan hasgtag #KonMariMethod #sparkjoy, di mana banyak banget orang-orang yang terpengaruh Marie, berbagi pengalaman mereka.

Marie Kondo dan #KonMariMethod

Menurut Marie, prinsip beres-beres a la KonMari itu sebenernya sederhana. Ini tentang prinsip tidying up berdasarkan kategorisasi dan memaksimalkan penggunaan storage. Semua ini tentang proses, nggak ada yang instan, bertahap tapi menyeluruh. Setelah berhasil mengelompokkan semua barang berdasarkan kategorinya, bukan berdasarkan lokasi benda itu, seperti yang  selama ini biasanya kita lakukan.

Nggak ada tuh beda individu beda perlakuannya. Prinsipnya sama saja dan berlaku untuk semua orang. Semacam kalau kita punya barang baru, maka harus ada tempat menyimpan, untuk itu kadang kita harus mengurangi barang yang sudah ada, dan sudah tidak terpakai. Satu masuk, satu keluar. Dan semuanya harus berada pada tempat yang tepat, dengan kategori yang benar.

Seperti biasa, saya yang mudah terpengaruh ini tertohok. Rasanya saya pengin segera membereskan hal-hal kecil, terdekat, di sekitar saya. Sekarang juga.

Mostly my take on this book are more about organizing my life in general... It's all about:
  • De-clutter & re-organize your online history and stuff: image history, email, old "not you anymore" blog post, random account. Bersih-bersih, bersih-bersih! Ini yang paling gampang, karena bisa dilakukan sambil kerja sekalipun. Membereskan email dari spam dan promo feeds yang ngabis-ngabisin memori. Baru-baru ini saya mulai getol membereskan track record saya di internet, terutama "kenangan" lama yang sudah tidak relevan lagi. Berlaku juga untuk memori dalam smartphone, laptop, dan pc juga.
  • De-clutter & organize your working desk, your room, your house. Pelan-pelan, pelan-pelan. Kalau bagian yang ini sih saya akui sangat berat. Terutama buat kita yang berbakat penimbun (hoarder). Apa-apa disayang-sayang, dibuang sayang, disimpan tapi ujung-ujungnya nggak dipakai juga.
  • De-clutter your mind. Rapikan memori di otak, dengan merelakan hal-hal yang sudah tidak relevan untuk masuk ke recycle bin. Namun simpan memento yang sudah dikurasi, untuk waktu yang tak terduga, just in case. Caranya? Saya sendiri masih belajar, saya mencoba merapikan pikiran setiap pagi dengan meditasi singkat. Setiap habis sholat Subuh, 15 menit saja (pakai timer biasanya) memfokuskan diri pada napas. Tarik dan keluarkan udara dari hidung, sadari proses itu. Sederhana ya, tapi menyenangkan sekali efek setelahnya.
  •  
But still, it's nice to let yourself free a bit. Meski enak banget habis bebersih, buang-buang segala macem, sesekali enak juga kalau ngebiarin beberapa hal berantakan tanpa terburu-buru buat ngerapihinnya. Hehe, pokoknya saya penganut prinsip, lakuin aja segala hal yang saya suka, yang penting nggak kelewat freak aja.

Saya masih baca bukunya, jadi belum bisa membagi metode KonMari yang lebih praktikal. Huahhh, doakan saya bisa segera menulis bagian selanjutnya. AAMIIN!


Love & light,
Nadia


Tuesday, September 1, 2015

Pengalaman Membaca Buku Sepuasnya di Bookmate

There's no app for a good writing, I've said that all the time, but there's always some good apps to access a bunch of good books!


Mencoba Bookmate menjadi pengalaman pertama mengakses platform buku digital, surprisingly, ini jadi pengalaman yang menyenangkan dan mudah. Don't get me wrong, saya tetap sangat suka buku dengan fisik yang mantap, kertas tebal, dan cover menarik itu. Hampir setiap kali bepergian (terutama dengan mobil, bus, kereta, pesawat) saya pasti menyiapkan buku untuk menemani. Ada kalanya bikin perjalanan semakin ribet, karena harus ada 2-3 buku di tas. Huahahaha berat :'|

Jadi karena alasan kenyamanan, dan berkat ajakan rekan-rekan di kantor yang selalu selangkah lebih maju itu pula, saya mau membuka diri untuk nyobain Bookmate. Well, dan memang ternyata langsung bikin histeris segera setelah sign up! Gimana nggak histeris? Seenggaknya ada lebih dari 500.000 judul buku, luar dan dalam negeri yang bisa diakses. Sistemnya seperti menyewa buku, tapi ini bisa diakses sampai kapan aja selama kamu sudah berlangganan. Kalau belum berani berlangganan juga, dan pengin coba-coba gratisan dulu? Tenang ... masih sangat banyak buku yang bisa diakses gratis. Intinya, susah mencari alasan untuk nggak gatal mencoba aplikasi ini. Saya sendiri kaget melihat buku-buku incaran, seperti #GIRLBOSS (Sophia Amoruso), How to Be Parisian Wherever You Are (Anne Berest, Audrey Diwan, Caroline De Maigret, & Sophie Mas), Not That Kind of Girl (Lena Dunham), Bossypants (Tina Fey), buku terbitan Bentang seperti Kambing dan Hujan, buku-buku Haruki Murakami, sampai trilogi Lord of the Rings beserta The Hobbit bisa diakses gratis! Heaven on earth ini sih namanya!

Pssst ... selain lewat smartphone, Bookmate juga bisa diakses dengan PC. Saya biasa membaca lewat PC selama jam istirahat (dan kadang jam kerja, whattt? :p)


Bookmate versi PC
Dan kalau kamu termasuk mereka yang lebih ambisius alias ngiler untuk mengakses buku-buku berlabel "Standard" dan "Premium" di sana, kamu bisa mengandalkan credit card dan bahkan pulsa (khusus pelanggan Indosat). Dengar-dengar harga langganan bulanan Bookmate masih promo, jadi hanya Rp69.000,00 per bulannya. Sooo worth it, kalau ngebayangin privilege yang bisa kamu dapetin kalau dapat akses premium di Bookmate. Puyeng-puyeng dah tuh melototin koleksi buku segitu banyak.


Saya masih nggak percaya saya bisa "go digital" begini, lantaran saya ini pengguna iOS, jadi nggak mudah buat saya untuk mengakses Google Playbooks aka platform download e-book & e-pub yang lebih dulu tersohor itu. Lah, tapi kan ada Wayang Force, Scoop? Hmmm ... Buat yang nggak punya credit card, bisa jadi bakal ribet kalau mau akses content berbayarnya. Beda cerita sama si Bookmate ini, bisa banget prosesnya mulus lancar jaya.

Saya sendiri baru bisa mengakses edisi premium selama sebulan, terima kasih kepada kantor saya yang cihuy yang membuat ini terjadi. Dan sepertinya saya optimis bisa terus berlangganan. Hihihi (akhirnya) ada juga untungnya saya jadi pelanggan Indosat. Bisa bayar pakai pulsa itu bikin dunia aman harmonis. Gampang banget mameeennn!

Saya jadi ingat sama situs/app 8tracks yang memungkinkan penggunanya membuat playlist/mixtape lagu-lagu dengan deskripsi, judul, dan cover album sendiri. Bookmate juga mengizinkan kita membuat "bookshelf" versi sendiri, tinggal isi dengan buku-buku yang cocok bersanding dalam kategori pilihan, beri deskripsi, judul, dan cover. Tadda! Bookshelf pilihanmu siap dibagi dan mungkin jadi referensi teman-teman Bookmate lain yang kebetulan lewat.

Seru banget, ya? Ngabisin waktu sembari nunggu jemputan, bergulat sama macet, sampai nyempetin baca di sela-sela ngurus anak, tinggal buka hp/tablet/pc, udah bisa baca dengan damai.

Interface Bookmate versi mobile app
   

Semoga setelah ini koleksi buku di Bookmate makin nambah dan makin histerikal. Semoga makin banyak juga penerbit lokal yang kerja sama sama Bookmate. Semoga bisa jadi alternatif baru mengakses buku dengan legal dan mudah. Selamat mencoba!


Love & light,
Nadia

Monday, August 24, 2015

Mencoba 7 Hari Terapi Green Smoothies


Sejak h+3 lebaran kemarin, saya dan keluarga mulai secara rutin mengonsumsi smoothie hijau atau green smoothies. Hehe, sebenarnya ini merupakan perwujudan atau efek membaca Green for Life karya Victoria Boutenko di akhir tahun 2014 dan seketika terpana dengan pengalaman yang ia tulis di sana. Apa yang saya tulis di sini, sebagian besar terinspirasi dari buku itu. Jika ingin tahu lebih jauh, buku ini tersedia dalam terjemahan bahasa Indonesia, lho. Saking inspiratifnya isi buku ini, saya sendiri berencana membeli lagi 3 eksemplar, masing-masing untuk ibu saya, ibu kos, dan seorang sahabat.

Green for Life yang life-changing itu

Smoothie hijau atau green smoothie ini memang berbeda dengan jus biasa. Smoothie lebih bertekstur, karena bahan utamanya adalah sayuran berdaun (mis: bayam, caisim, kale, pakcoy, daun wortel, parsley, seledri, brokoli, dll) dan tidak disaring sama sekali, ooo yikes! Namun rasa langu dari sayuran hijau teredam dengan campuran buah segar pengendali  rasa (mis: pepaya, stroberi, nanas, pisang, dll).

Quick story behind it ... Ramuan ini *ceilah ramuan* ditemukan oleh seorang pegiat raw food bernama Victoria Boutenko. Victoria telah mencoba berbagai opsi makanan mentah untuk menyelamatkan diri dan keluarganya yang sakit-sakitan, it was like ‘there is no other way, you change to a better, healtier lifestyle or die’. Wihhh... lebay ya, tapi ya memang begitu keadaan keluarga Boutenko saat itu. Thankfully, beberapa percobaan (terhadap diri sendiri dan keluarganya) dan penelitiannya berhasil, dan telah dibukukan dan jadi world wide best-selling books. Meski begitu, setelah enam tahun mengonsumsi murni makanan mentah, kondisi kesehatan keluarganya mulai mengalami degradasi.

Lho? Apa yang salah?

Ternyata, makanan mentah yang selama ini mereka makan tidak cukup memenuhi kebutuhan utama mereka. Umbi-umbian, salad dengan mayones dan saus yang lezat, ternyata jika dikonsumsi terus-menerus dalam waktu yang lama tanpa pendamping yang cukup, malah akan menimbulkan efek kebalikan pada tubuh. Victoria pun mencari informasi baru, sampai akhirnya ia mendalami tentang diet simpanse. Simpanse, hewan yang paling mirip dengan manusia ini ternyata tidak hanya makan buah. Lebih dari 50% dietnya terdiri dari sayuran berdaun hijau, bunga, dan biji. Sementara untuk manusia, makanan seperti itu sangat sulit dimakan mentah-mentah dan dalam dosis besar setiap hari. Victoria yang sebelumnya hampir putus asa menemukan cara untuk bisa makan sayuran berdaun hijau tanpa mengolahnya dengan minyak atau margarin, menemukan bahwa membuat smoothie dengan sayuran hijau sangat lezat jika dicampur dengan buah. It’s refreshing! Bahkan tanpa gula dan pemanis buatan sekalipun.

Smoothie hijau yang halus meringankan kerja lambung, juga memastikan asam langgung berada pada kadar yang pas. Manfaat dari klorofil yang terdapat dalam sayuran hijau mampu melawat radikal bebas dan sel-sel jahat dalam tubuh. Serat dalam sayur dan buah membantu membersihkan usus, melancarkan pencernaan secara alami, dan menyuplai stok serat, sehingga tak ada lagi sembelit dan kulit kusam.

Ok, ini benar-benar penemuan yang berharga.


Saya, yang paling susah mengunyah tomat dan kemangi di lalapan pun tergiur dengan ide smoothie hijau ini. Dengan takaran yang tepat, saya setiap harinya bisa menghabiskan 1 liter smoothie hijau, dan tersenyum puas setelah tegukan terakhir. Yummm!

Dari pengalaman meminum ramuan ini lebih dari sebulan, saya punya resep terfavorit setelah percobaan dan berbagai zonk yang dialami sejauh ini. Kalau masih pemula dan takut minum sayur giling ini, tambahkan buah lebih banyak lagi.


Hari pertama:
Happineaple!
Blend sampai halus:
3 baby pakcoy
1 nanas madu
½ jeruk, ambil airnya
2 gelas air dan es batu sesuai selera
Untuk 1 liter

Hari ke-2:
Ten Fingers
Blend sampai halus:
½ ikat bayam merah
10 pisang emas
½ jeruk, ambil airnya
2 gelas air dan es batu sesuai selera
Untuk 1 liter


Hari ke-3
Popeye The Sailor Man
Blend sampai halus:
1 ikat bayam
½ pepaya california
10 stroberi
2 gelas air dan es batu secukupnya
Untuk 1 liter


Hari ke-4:
Heavenly Parsley
Blend sampai halus:
1 ikat parsley (bisa diganti dengan peterseli atau kemangi)
½ pepaya hawai
½ jeruk
2 gelas air dan es batu secukupnya
Untuk 1 liter

Hari ke-5:
Minty Snow White
Blend sampai halus:
1 gelas daging sirsak, buang bijinya
30 daun mint
½ jeruk nipis, ambil airnya
2 gelas air dan es batu secukupnya
Untuk 1 liter

Hari ke-6:
Purple Sky
Blend sampai halus:
7 terong belanda, kupas kulitnya
2 tomat
2 pisang
¼ pepaya
½ ikat bayam mera
10 daun mint
2 gelas air dan es batu sesuai seler
Untuk 1,5 liter

Hari ke-7
Bronana
Blend sampai halus:
1 bonggol brokoli
3 pisang cavendish
½ lemon, ambil airnya
2 gelas air dan es batu secukupnya
Untuk 1 liter


Catatan tambahan:
    • Smoothie hijau sangat cocok diminum saat pagi hari, sebelum ada makanan lain masuk ke tubuh.  Smoothie ini bukan pengganti makanan, kita bisa makan apa saja seperti biasa setelah satu-dua jam mengonsumsi smoothie.
    • Smoothie hijau yang baru di-blend sebaiknya langsung diminum untuk mendapatkan manfaat terbaiknya. Namun, smoothie hijau sebenarnya bisa disimpan sampai tiga hari di kulkas, jadi bisa diminum selama bepergian.
    • Rotasi sayuran hijau. Selain membuat kita tak mudah bosan pada sayuran yang sama setiap harinya, juga untuk menghindari tumpukan alkaloid dari tanaman yang sama.
    • Supaya hasil blend-nya halus, dan nggak nyusahin si blender, letakkan buah di susunan paling bawah, lanjut ke sayuran di bagian atas.
    • Setelah seminggu minum smoothie hijau, kita mungkin akan mengalami gejala detoksifikasi sepertinya munculnya jerawat, pusing, atau buang air lebih dari 3 kali dalam sehari (bukan diare). Itu bisa jadi hal yang baik, dan selama tidak mengganggu, silakan lanjutkan rutinitas minum smoothie hijaumu.
    • Tip untuk anak kos seperti saya, belilah blender, ini adalah sebuah investasi yang baik. Dan kalau susah mendapatkan es batu, saya biasanya membeli es jeruk tawar di warung makan (terpercaya) di depan kos setiap harinya. Gampang, ya?

    Sekian cerita smoothie hijau dari saya. Kalau ada yang tertarik, selamat mencoba, ya! Dan kalau bertahan lebih dari seminggu dan merasakan manfaatnya, mungkin kamu bisa melanjutkannya sampai hari ke-30 dan seterusnya.

    Bagi pengalaman dan resep kesukaanmu di sini, ya. Selamat mencoba!



    Love & light,
    Nadia

    5 Alternatif Latar Foto OOTD

    Ahem.

    Bermula dari beberapa teman pernah bertanya di mana saja lokasi foto yang sering mereka lihat di instagram saya (uhuk, sekalian promosi, diikuti ya kalau suka :p). Saya selalu menjawab jujur sedikit ngawang, “Itu di tembok di jalanan komplek, dalam perjalanan berangkat ke/pulang dari kantor.” Ooo... trus siapa yang fotoin? “Ya nggak ada lah, pake namanya teknologi bernama self-timer, cari sandaran yang tegak dan kuat, soal angle belakangan, dapat sandaran yang steady buat naroh hape aja udah syukur."

    Karena itulah kali ini saya menyempatkan diri mereview tembok-tembok kesayangan yang sering saya manfaatkan, yang semuanya telah memenuhi kriteria saya yang pemalas dan pemalu ini (nggak mungkin saya repot foto ke studio dan difotoin orang, hiii ngebayanginnya aja udah geli duluan); permukaan luas, warna menarik, lingkungan sekitar relatif sepi pada jam-jam tertentu, dan pastinya ada sandaran untuk hape bata saya. Iya, saya pakainya smartphone biasa, dan nggak punya (dan nggak bisa pakai) kamera beneran sih. Lagian pasti ribet lah, kalaubawa kamera segeda gaban nanti nggak bisa curi-curi foto sembarangan. Ya sudah langsung aja direview tembok-temboknya, Nad. Ok ok.


    Here we go ...

    #1 Tembok peach/pink/salem/krem (tergantung pencahayaan)

    Sekitar 50 meter dari kos saya di Jalan Irian, tepatnya di sebuah jalan tikus antara kebun pepaya kuning dan kos putra. Kebayang saya yang kagok karena kepergok lagi pose depan depan tembok. Tengsin cyin .... Untungnya jalan ini hanya dilewati sama pejalan kaki dan pesepeda (dan sesekali pengendara motor yang nekadszzz). Tempat meletakkan kamera hp pun difasiitasi (ooh tentu kita punya monopod tancap aka pipa paralon), meski jadinya cuma tampak ½ badan. Hasilnya ... foto minimalis a la sampul majalah Kinfolk ini pun siap dilempar ke pasaran. Fixed, tembok ini adalah favorit saya selama-lamanya!

    Lokasi tembok peach favorit, di depannya ada si monopod built-in
    Si monopod tancap



    #2 Tembok hitam abstrak + sulur-sulur

    Ini yang agak lebih hardcore, selain karena di jalan umum (di salah satu percabangan Jalan Kalimantan) yang semua orang bisa lalu lalang pake apapun itu, juga karena langsung berseberangan dengan kos putra. Untuk menyiasati supaya saya bisa foto dengan aman dan selamat tanpa kepergok, saya sengaja berangkat ke kantor lebih pagi. Setelah jam 7 lah, lebih dikit. Untuk sandaran kamera hape tentunya ada pagar rumah orang yang cukup bagus angle-nya. Lumayan ye ... kalau pakai tembok ini fotonya bisa sebadan penuh, bonus sulur-sulur pula.

    Lokasi tembok hitam abstark dan tempat hape bersandar
    Pagar tempat hape saya bersandar
    Hasil foto a la-a la


    #3 Tembok biru

    Terletak di sebelah Masjid Nurul Hidayah Purwosari, tembok biru ini segar banget kalau udah dikasih filter #VSCO, hihihi. Kekurangannya temboknya nggak mulus 100% masih ada garis seperti tembok rumah kebanyakan, bukan latar belakang foto studio (dipikir???). Namun saya selalu maklum, namanya juga tembok rumah orang tak dikenal. Dan ternyata justru itu yang membuat tembok ini lebih cocok untuk foto produk ketimbang #ootd.





    #4 Tembok merah

    Terletak di salah satu percabangan Jalan Sulawesi. Tembok merah ini cocok untuk #ootd dan foto produk. Efek tembok yang luasss ini bikin hasilnya jadi ciamik dan ada kesan rustic a la-a la begitulah. Kekurangannya ada di lalu lintas mereka yang hilir mudik, paling sering ada tukang sayur dan anak-anak kos. Kalau kepergok, makin lama saya makin tebal muka, pura-pura bego aja dan lanjut jalan.

    Tembok merah polosan no-filter
    Hasil setelah difilter #vsco, lumayan lah



    #5 Gerbang besar peach karatan

    Nah, ini dia gerbang super gede yang cocok untuk foto seluruh badan. Sedikit deg-degan, karena tiap foto dekat-dekat gerbang ini ada suara anjing gonggong cari perhatian, potensial mendatangkan perhatian warga sekitar komplek perumahan mini itu. Saking seringnya kepergok di jalan yang juga adalah salah satu percabangan Jalan Sulawesi ini, saya udah nggak punya image classy lagi. Pada taunya, “Itu si mbak yang suka lewat dan taruh handphone di pagar rumah orang”. Hakdesss!





    Sebenarnya masih ada lagi tembok-tembok yang tidak sengaja saya temukan dalam perjalanan ke kantor. Saking banyaknya saya sampai lupa tempatnya di mana aja. Dan di balik semua cerita di atas, hikmah yang terkandung sangatlah mulia. Untung banget ya saya pejalan kaki, jadi mata ini awas banget tiap liat tembok photogenic. Hihi, coba deh kalau saya naik motor, pasti nanti mencolok banget ... kok ada motor parkir nggak jauh dari si anak yang lagi #ootd-an ini? *siapa juga yang bakal peduli Naaaad!*  Kalau jalan kaki kan kesannya kasual, innocent, explorer gimana gitu, jadi pas kepergok tinggal lanjut jalan lagi, pura-pura bego dan tinggal senyum sama yang mergokin. Hidup pejalan kaki! Muahahahaha.


    Love & light,
    Nadia