Tuesday, May 17, 2011

Dari Yang Tersisa Yang Bercerita


"LEFT TO TELL" adalah sebuah novel berdasarkan kisah nyata yang terjadi pada masa pemusnahan etnis di Rwanda, akhir tahun 1994 silam. Saya menamatkan novel karangan Immaculee Ilibagiza dibantu Steve Erwin ini, cukup cepat, hanya dalam semalam. Selesai membaca novel ini di tengah malam ternyata bukan kondisi yang menguntungkan. Setelah itu saya hampir tak bisa tidur, masih terus terbayang bagaimana di tiap belahan dunia ini masih ada yang menganggap sesama manusia cuma seperti kecoa atau ular yang harus dibasmi. Tanpa menutup mata bahwa di Indonesia juga pernah terjadi tragedi di Sampit, perang atas nama agama, dan perang saudara di beberapa daerah rawan konflik lainnya. Ah membayangkannya hanya membuat saya tak nafsu sarapan..


Sang pencerita, Immaculee adalah sedikit dari perempuan Tutsi (suku Tutsi adalah suku yang diburu suku mayoritas saat itu, Hutu) yang selamat dari tragedi pemusnahan etsis di negara terkecil, terpadat, tapi salah satu yang termiskin di Afrika itu. Immaculee selamat dan beruntung bisa sukses sekarang ini. Bukan perkara mudah buatnya menceritakan ulang hari demi hari saat tiap orang keluarga dan orang-orang terdekatnya dibantai. Tapi selain mengenang memori ini dalam buku, dia lebih dari sekedar berhasil untuk melakukan hal yang sangat langka, memaafkan orang-orang yang tak termaafkan. Lembar-lembar di buku ini cukup hardcore buat saya, dengan detail dijelaskan bagaimana "perburuan manusia" itu dilakukan. Siang dan malam hanya diisi dengan pembunuhan di jalan-jalan, dan parahnya itu LEGAL! Bahkan mandat dari pemerintah yang disiarkan di radio secara resmi.


Saya nggak mau menyangkut-nyangkutkan dengan peristiwa yang juga terjadi di Indonesia. Perburuan PKI atau apapun. Selain saya nggak punya kapasitas dan bahan tentang aneka pembantaian di Indonesia. Semuanya sama saja mengerikan. Prinsip "mata dibalas mata, gigi dibalas gigi" jelas sungguh tidak IYE sekali.


Akhirnya untuk bisa tidur saya berdoa dan membuat pikiran baik sebanyak yang saya bisa. Tidak tahu kapan akhirnya saya tertidur, yang jelas saya bangun cukup siang. Masih terbayang pula paginya.. Huhu.. Ngilu banget. Tapi saya nggak menyesal meminjam buku ini dari perpus kantor. Paranoid pasti akan ada sampai saat saya menulis ini dan mungkin sampai besok. Saya jadi punya perspektif lain selain dari Glee dan Gossip Girl, hehehehe.


Oh dunia, oh manusia, hei nurani, jangan biarkan generasi ini dan anak-anak saya sampai keturunan-keturunan mereka yang kesekian, merasakan pertikaian apapun. Dunia ini sudah cukup keren sekarang. Please... buatlah lebih baik dan bermartabat lagi. Amin.


Gambar ngembat di sini

2 comments: