Thursday, October 21, 2010

Perpus Idola


Halo!


Hari ini saya ngendon di perpus lagi. Itu, Perpustakaan Fisipol, bagian referensi. Sepertinya sudah seperti rutinitas berada di sini setiap hari. Eits, bukannya saya semangat belajar berlebih, cuma lebih tersugesti saja bahwa di perpus saya bisa lebih berpikir, fokus, dan tentunya tidak main plants vs zombies terus menerus.


Rutinitas di perpus adalah menata gundukan skripsi yang sama setiap harinya, padahal, belum tentu membacanya. Menatap laptop dengan muka seperti serius, padahal bengong kebingungan. Jika sial, saya akan bertemu rekan seperjuangan atau malah yang sudah lulus, yang akhirnya akan berujung ngerumpi yang tak berujung.


Jika lapar, break sholat, tinggal turun ke bawah (Perpus Fispol itu di lantai 3, saudara-saudara). Kelar, naik lagi.  Dan akan pulang menjelang diusir. Monoton sekali.


Bosan


Sekarang saya masih di perpus. Saya rasa betapa senangnya perpus ini punya fans seperti saya, ditambah pula fans fanatik lainnya seperti Anji, Dama, Dimas, Irham, hingga Aldi (bocah ingusan).


Masih bosan.


Semoga tidak bosan  berjuang.

Tuesday, October 12, 2010

Siraman Wanita

Seorang teman baru-baru ini berkata,  “Nanti pasti mata kamu akan terbuka.”

Tanpa tendensi selain apa yang disebutnya siraman wanita, dan ialah Evin sang penyiram itu. Saya dan Pipit hanya terpana mendengar ocehannya siang itu, tepatnya kami merumpikan sesuatu yang berat. Evin pun bercerita banyak, panjang-lebar. Dalam ingatan saya, semua celotehannya yang ditimpali kami itu pasti berujung tentang wanita, pekerjaan, kapan menikah, punya anak, prospek calon suami, sampai pensiun, pokoknya tentang segala hal yang lumrahnya mulai dikhawatirkan wanita usia 20-an.

Saya awalnya belum begitu khawatir, tapi jelas jadi makin khawatir setelah itu.

Sederhana saja, para pendengar saat itu sangat terkesan dengan apa yang Evin sampaikan. Kebenaran bahwa dalam hitungan detik, pikiran kami yang masih kekanak-kanakan ini bisa berubah. Mata kamu nanti akan terbuka. Tak bosan Evin melontarkan kalimat idolanya itu. Bahwa dunia ideal yang diinginkan wanita salah satunya bisa kami raih melalui pekerjaan dan dukungan pria yang mapan. Realistis. Dia tidak bermaksud membuat kami seketika muram hari itu, sekedar berbagi katanya. Saya rasa inilah oleh-oleh dari magang di Pertamina selama hampir dua bulan itu. Evin yang makin terorientasi.

Sip, ucapan Evin sangat mengena. Saya, Pipit, dan (mendadak muncul) Fathur, teman rumpi kami, jadi sedikit mengulasnya setelah berpisah dari sesi Evin. Mengiyakan pasti. Pipit pun punya pandangannya, sedikit berbeda dengan Evin, tapi ia jelas sudah tegas membayangkannya. Sementara bagi saya, samar saja. Hingga seenaknya saya menyimpulkan sendiri, adalah proyeksi sosok ideal bagi diri setiap orang pasti berbeda-beda. Mungkin mirip dengan paparan Evin, mungkin seperti yang Pipit pikirkan entah apa itu, mungkin seperti yang Fathur ternyata idamkan, atau malah mungkin seperti saya, mengalir saja.

Ah, saya memang tidak pernah jauh dari kata menggantung. Detik-detik berikutnya mungkin saja mata saya yang akan terbuka. Dan si pemberi siraman wanita berikutnya, bisa jadi adalah SAYA.

Oh waw...

:)



* Sebelumnya saya sempat memberi judul tulisan ini, 'Mata Terbuka' saya ganti dengan alasan, mata saya belum sungguh-sungguh terbuka :D

Friday, October 1, 2010

The Stalker

Sebagian di antara kalian, empat tahun yang lalu pasti masih ingat situs jejaring sosial idola kita, Friendster. Friendster adalah yang paling hip saat itu. Berbeda dengan Facebook si raja jejaring sosial masa kini, si Friendster membiarkan kita mengetahui siapa saja yang berkunjung ke profile kita. Ada juga yang memilih untuk jadi tak terlihat, saya lupa istilahnya apa, pokoknya begitulah.


Bingung?

Jangan.


Paragraf di atas cuma pengantar saja, menuju kata "Stalker", bisa berarti seseorang yang prowls (perampas), atau tentang sneaks (menyelinap), dengan konotasi yang cenderung negatif. Bagi saya anggaplah stalker sebagai penguntit, pemerhati banget, sampai bisa menjurus ke pengagum juga. 


Dan jangan bohong ketika kita tidak pernah sekalipun menjadi stalker. Mungkin, hanya saja dengan kepentingan dan intensitas yang berbeda. Saya sendiri sering iseng, kadang memang niat, berkelana ke profile Facebook orang-orang yang menarik, maupun orang-orang yang menyebalkan, hingga organisasi yang menyeramkan. Halah. Facebook seperti menjadi database orang-orang, ada perlu dengan orang ini, add account Facebook-nya, bersyukur ketika tawaran itu approved dan Voila! Selamat menikmati kehidupan a la Facebook-nya. 


Sama hal-nya ketika Twitter lahir, hore! Hore! Super hore! Kita bisa mengetahui apa saja yang dipikirkan dan dilakukan oleh orang-orang favorit kita. Misalnya saja dengan sok tahu saya menyatakan bahwa "SMS Selebriti" mendadak bangkrut, karena mengikuti timeline di Twitter si artis itu jauh lebih orisinil dan gratis. Langsung dari Blackberry mereka.


Satu lagi, mengamati blog orang dan membayangkan kehidupan mereka. Menjelajah blog ke blog kontan menjadi salah satu hobi paling merdeka sedunia. Yea... you go, blogwalker!


Ahem, ahem, masuk ke hal memuakkan, seperti mengagumi seseorang, jejaring sosial mempermudah kita melakukan tindak penguntitan via internet. Menambah pengatahuan tentang orang yang kita suka, mencari tahu kabar teman lama, atau gosip rakyat jelata. Ahem sekali lah pokoknya aktivitas bernama stalking ini. 

Terlalu unyu untuk dijabarkan.



Sampai Jumpa, Salam Kuntit!



*Saya sebenarnya sudah lama ingin menulis soal kuntit-menguntit ini. Dimulai dengan terbawa lagu pshyco bin manis si Adhitia Sofyan, The Stalker . Dilanjutkan dengan membaca tulisan di blog Andin, dan sedikit pengaruh candaan Awe tentang aktivitas stalking-nya di Twitter. Akhirnya sekarang ditunaikan sudah.