Friday, October 1, 2010

The Stalker

Sebagian di antara kalian, empat tahun yang lalu pasti masih ingat situs jejaring sosial idola kita, Friendster. Friendster adalah yang paling hip saat itu. Berbeda dengan Facebook si raja jejaring sosial masa kini, si Friendster membiarkan kita mengetahui siapa saja yang berkunjung ke profile kita. Ada juga yang memilih untuk jadi tak terlihat, saya lupa istilahnya apa, pokoknya begitulah.


Bingung?

Jangan.


Paragraf di atas cuma pengantar saja, menuju kata "Stalker", bisa berarti seseorang yang prowls (perampas), atau tentang sneaks (menyelinap), dengan konotasi yang cenderung negatif. Bagi saya anggaplah stalker sebagai penguntit, pemerhati banget, sampai bisa menjurus ke pengagum juga. 


Dan jangan bohong ketika kita tidak pernah sekalipun menjadi stalker. Mungkin, hanya saja dengan kepentingan dan intensitas yang berbeda. Saya sendiri sering iseng, kadang memang niat, berkelana ke profile Facebook orang-orang yang menarik, maupun orang-orang yang menyebalkan, hingga organisasi yang menyeramkan. Halah. Facebook seperti menjadi database orang-orang, ada perlu dengan orang ini, add account Facebook-nya, bersyukur ketika tawaran itu approved dan Voila! Selamat menikmati kehidupan a la Facebook-nya. 


Sama hal-nya ketika Twitter lahir, hore! Hore! Super hore! Kita bisa mengetahui apa saja yang dipikirkan dan dilakukan oleh orang-orang favorit kita. Misalnya saja dengan sok tahu saya menyatakan bahwa "SMS Selebriti" mendadak bangkrut, karena mengikuti timeline di Twitter si artis itu jauh lebih orisinil dan gratis. Langsung dari Blackberry mereka.


Satu lagi, mengamati blog orang dan membayangkan kehidupan mereka. Menjelajah blog ke blog kontan menjadi salah satu hobi paling merdeka sedunia. Yea... you go, blogwalker!


Ahem, ahem, masuk ke hal memuakkan, seperti mengagumi seseorang, jejaring sosial mempermudah kita melakukan tindak penguntitan via internet. Menambah pengatahuan tentang orang yang kita suka, mencari tahu kabar teman lama, atau gosip rakyat jelata. Ahem sekali lah pokoknya aktivitas bernama stalking ini. 

Terlalu unyu untuk dijabarkan.



Sampai Jumpa, Salam Kuntit!



*Saya sebenarnya sudah lama ingin menulis soal kuntit-menguntit ini. Dimulai dengan terbawa lagu pshyco bin manis si Adhitia Sofyan, The Stalker . Dilanjutkan dengan membaca tulisan di blog Andin, dan sedikit pengaruh candaan Awe tentang aktivitas stalking-nya di Twitter. Akhirnya sekarang ditunaikan sudah.

11 comments:

  1. cek lagi coba followermu siapa aja, jangan nuduh2 stalker dulu, hahaha

    ReplyDelete
  2. Iyaaa situs jejaring sosial emg sarana yg ajib bgt bwt cari info ttg gebetan,xixixii..

    ReplyDelete
  3. saya sudah membuktikan zizizizizizizi

    ReplyDelete
  4. akhir akhir ini malah fb anak2 kampus aku hide dari home ku. abis mereka udah upload foto foto wisuda sama pendadaran sih. aku kan pengen.

    ReplyDelete
  5. butuh pendamping wisuda ra ? mumpung ono cah 2007 sing selo

    ReplyDelete
  6. pasti dia mau mendampingimu mbak depe

    ReplyDelete
  7. gimana tuh caranya pe? waduh mau banget tuh aku!

    ReplyDelete
  8. saya po?? nek aku ALhamdulillah wes pol...
    oh ya bener juga mungkin saya terbuka melalui twitter? hmmm... skrg saya ganti status hape saya ja, hayooo ada yang tahu? hehehe

    ReplyDelete