Tuesday, October 12, 2010

Siraman Wanita

Seorang teman baru-baru ini berkata,  “Nanti pasti mata kamu akan terbuka.”

Tanpa tendensi selain apa yang disebutnya siraman wanita, dan ialah Evin sang penyiram itu. Saya dan Pipit hanya terpana mendengar ocehannya siang itu, tepatnya kami merumpikan sesuatu yang berat. Evin pun bercerita banyak, panjang-lebar. Dalam ingatan saya, semua celotehannya yang ditimpali kami itu pasti berujung tentang wanita, pekerjaan, kapan menikah, punya anak, prospek calon suami, sampai pensiun, pokoknya tentang segala hal yang lumrahnya mulai dikhawatirkan wanita usia 20-an.

Saya awalnya belum begitu khawatir, tapi jelas jadi makin khawatir setelah itu.

Sederhana saja, para pendengar saat itu sangat terkesan dengan apa yang Evin sampaikan. Kebenaran bahwa dalam hitungan detik, pikiran kami yang masih kekanak-kanakan ini bisa berubah. Mata kamu nanti akan terbuka. Tak bosan Evin melontarkan kalimat idolanya itu. Bahwa dunia ideal yang diinginkan wanita salah satunya bisa kami raih melalui pekerjaan dan dukungan pria yang mapan. Realistis. Dia tidak bermaksud membuat kami seketika muram hari itu, sekedar berbagi katanya. Saya rasa inilah oleh-oleh dari magang di Pertamina selama hampir dua bulan itu. Evin yang makin terorientasi.

Sip, ucapan Evin sangat mengena. Saya, Pipit, dan (mendadak muncul) Fathur, teman rumpi kami, jadi sedikit mengulasnya setelah berpisah dari sesi Evin. Mengiyakan pasti. Pipit pun punya pandangannya, sedikit berbeda dengan Evin, tapi ia jelas sudah tegas membayangkannya. Sementara bagi saya, samar saja. Hingga seenaknya saya menyimpulkan sendiri, adalah proyeksi sosok ideal bagi diri setiap orang pasti berbeda-beda. Mungkin mirip dengan paparan Evin, mungkin seperti yang Pipit pikirkan entah apa itu, mungkin seperti yang Fathur ternyata idamkan, atau malah mungkin seperti saya, mengalir saja.

Ah, saya memang tidak pernah jauh dari kata menggantung. Detik-detik berikutnya mungkin saja mata saya yang akan terbuka. Dan si pemberi siraman wanita berikutnya, bisa jadi adalah SAYA.

Oh waw...

:)



* Sebelumnya saya sempat memberi judul tulisan ini, 'Mata Terbuka' saya ganti dengan alasan, mata saya belum sungguh-sungguh terbuka :D

4 comments: