Thursday, February 26, 2009

Belajar saja dipaksa

Em...
Saya bukan orang yang pintar sih. Tapi heran, saya tidak sengaja 'keceblung' ke dalam satu mata kuliah yang membutuhkan otak canggih. Sebenarnya bukan 'mata kuliahnya juga sih'. dosennya mungkin yang super canggih. Aheemmmmm...!
Karena mata kuliah bertajuk "blablabla komunikasi" itulah, otak saya yang selama ini berisi sarang laba-laba akut ini dipaksa berpikir.
Saya yang melankolis bisa-bisa menangis karena ditimpa tugas multi tafsir secara beruntun. Beruntung, saya dikelilingi teman-teman yang ingin maju, penuh inisiatif dan rajin. Sedangkan saya hanya bisa bersyukur.
"Victims" begitu kami menyebut klub non resmi itu, berusaha memperjelas pemahaman kami dengan sistem gotong royong H-1 deadline. Oh well! Percaya saja, itu sangat membantu. Serasa beban terangkat.
Bahkan setelah berdiskusi kami masih sempat bersyukur karena diberikan kesempatan (meskipun terpaksa) mengingat dan mendalami teori komunikasi sekali lagi. Itung-itung untuk menyicil menyongsong kutukan skripsi di masa yang akan datang.
Setelah itu, tinggalah kemampuan individu saya yang bertugas. tik, tik, tik, ketik-ketik!

Thursday, February 19, 2009

Mental Pembantu Saya

Selama ini saya merasa masih menjadi salah seorang dari bangsa Indonesia yang punya mental pembantu a.k.a pembokat. Padahal pembantu sendiri malah tidak seperti itu.

why?


Saya dari dulu gemar menyapu, belakangan ini malah kian gemar membereskan gelas dan piring seusai bertamu di rumah orang.

Suka nunduk-nunduk kalau lewat di depan orang yang lebih tua (??)

Kalau ngeliat para TKW di kapal ferry dari Bali menuju Lombok, saya suka teringat, mungkin kalau tidak kuliah, saya adalah salah satu dari mereka (Ya Allah... Tidak se-ekstrim itu kok...)

Saya "suka mau tau aja" persis bibik-bibik tukang gosip.

Kalau liat bule-ekspatriat bawaaannya deg-deg-an aja. Padahal bulenya nggak ngapa-ngapain saya juga.

Bila melihat sesuatu yang keren banget di Indonesia saya appreciate sekali, tapi melihat sesuatu yang keren banget di luar sana saya bisa sampai tergila-gila! (contoh: ngeliat nicholas saputra: waaa... cakep, pinter lagi" tapi kalo ngeliat Emile Hirsch: "ya ampuuuu!!! tidak! pacarnya si Briana itu kurus banget...")


Sebenarnya kalau mau ditilik lagi, masih lebih banyak lagi kelakuan saya yang semakin menguatkan mental pembantu ini.

Mungkin lain kali saya akan menulis "tips meredam mental pembantu"

Monday, February 16, 2009

Multiply itu MLM ya?

(Perhatian-perhatian! tulisan kali ini kembali cheesy seperti sebelum "Lombok")

Heran.
Sebentar aja saya nggak nge-post tulisan. Penggemar udah pada panik...
Langsung saja, saya yang tidak tahan baca tulisan panjang ini mencoba menulis ini sesingkat mungkin.

Kenapa saya bisa sampai ke pikiran bahwa multiply itu MLM (multi level marketing)?
Ya gimana tidak, dua orang rekan (baca: para jejaka berinisial AW dan FZ) yang dulu memanas-manasi saya supaya segera bikin multiply itu psiko!
Mereka dengan girangnya menyebut satu per satu kepala yang jatuh ke lembah multiply.
Mereka menjadi sangat girang hingga terus mengoceh soal orang-orang penting yang berhasil mereka gaet di multiply. Pria macam apa mereka! sukanya gosip...

Kadang si AW mengungkit-ngungkit CHESSYmp saya ini. Udah deh, saya langsung teriak-teriak histeris! (sebenarnya yang kejiwaannya perlu dipertanyakan memang saya)

Setelah saya "terjerembab" dan jadi mp-ers, mereka bilang ajak Pipit lah, ajak Roby lah, persis kayak orang MLM.

Nah, kalau ada mp-ers baru, langsung deh ada yang mendatangi dan bilang: "Selamat bergabung!", "Satu lagi di Multiply", atau apalah. Benar-benar...

Nah, saya ada saran, sebaiknya mereka mengajak si bos Rocky Ismail si tukang ngintip multiply itu buat gabung. Itu baru asoy!

* Tulisan ini bukan bermaksud menyulut perang. Cuma biar ada yang bisa saya post aja.




Monday, February 9, 2009

Independent Image of Lombok

Dari curhatan seorang teman di Lombok Facebook Club, Zufri Hadi.
Setelah membaca message Pak Zufri, saya  jadi kepikiran dan berpikir (cukup dalam) tentang pulau kecintaan saya, Lombok, terutama mengenai statusnya yang sering diidentikkan sebagai Sister Island of Bali itu.
Dulu, saya biasa saja ketika Lombok mengikrarkan diri sebagai Sister Island of Bali. Kayaknya suatu kebanggaan gitu bisa bersanding dengan pulau dewata nan famous itu.

Dari cerita Pak Zufri, saya menangkap bahwa pulau yang saya anggap masih jauh pembangunannya dibandingkan Bali itu juga masih jauh dari kata terkenal, baik di dalam maupun luar negeri. Eh, ternyata lumayan famous juga lho! hahahahaha! (jadi bangga nih sebagai putra daerah)
Saat Pak Zufri sedang bertugas di Toronto, Kanada, dia sempat berbincang-bincang dengan asosiasi wisata Toronto dan masyarakat asing yang tergabung dalam Friends of Indonesia. Mereka sangat mengenal Lombok sebagai daerah yang indah, yang mungkin dapat kita istilahkan "surga dunia" bagi mereka.
Kebanyakan dari mereka malah sudah sering explore more ke Lombok. Bahkan dalam presentasinya waktu itu dalam visi "visit Indonesia" mereka menampilkan banyak slide tentang Lombok disamping daerah-daerah wisata lainnya.
Salah satu kelebihan Lombok dibandingkan sister island-nya menurut mereka adalah karena Lombok lebih alami dan masih terkesan Natural, dibandingkan dengan "sister island-nya tadi yang sudah banyak terjamah manusia.
Terbukti dengan banyaknya bangunan-bangunan modern yang justru menurut mereka merusak ke-alamian alam disitu.
Ternyata mereka begitu menyukai Lombok, dan bahkan salah satu diantara mereka sempat bercanda dan bilang, " Mungkin kalau Lombok sudah menyerupai sister island-nya, saya nggak mau lagi ah ke Lombok"
Could you imagine what he said? 
Hehehe. Saya jadi ingat, kalau baru sampai di Bandara Selaparang memang ada poster di gerbang kedatangan Bandar Udara Selaparang..."Welcome to Lombok, the sister Island of ......(you know lah)"...

Wah, apa Pemerintah Daerah sudah sedemikian mindernya? (Peace, Men!)
Saya mungkin mengerti apa yang dimaksud Pak Zufri dengan pentingnya Independet Image of Lombok. Memang tidak salah mendompleng popularitas Bali yang sudah sebegitunya itu untuk bisa semakin dikenal. Tapi tidak ada salahnya pula menggali lagi potensi sendiri yang sebenarnya tidak kalah menariknya. 
Memang sulit bisa lepas dari image "pulau di sebelah Bali itu tuh..." tapi setidaknya inget deh, ada slogan yang kayaknya dulu pernah dipakai: You Can See Bali in Lombok, but You Can't See Lombok In Bali.

Hah... Lombok is so special... at least for me.
Apalagi jika besok Bandara Internasional di Tanaq Awu, Lombok Tengah sudah rampung dibangun, saya sebagai anak Lombok juga pasti sangat mengharap wisatawan asing bisa dengan senang hati menjadikan Lombok sebagai tujuan utama, bukan lagi sekedar tujuan sampingan.



Tuesday, February 3, 2009

Saya (menolak untuk) Trauma


Sabtu, akhir Januari lalu. Lagi-lagi saya harus mengalami peristiwa yang tidak begitu menyenangkan. Lagi-lagi motor saya melakukan manuver aneh, em, mungkin saya maksudnya, hampir jatuh.

Kalau melihat sejarah hidup saya, kenangan buruk saya bersama motor bukan hal yang baru sekali terjadi. Bahkan banyak kejadian yang lebih parah.
Dulu saat saya baru belajar mengendarai motor, tepatnya kelas 3 SMP, saya seperti kesurupan menubruk motor yang sedang berjalan pelan di lajur kiri.

Wah, waktu itu urusannya jadi panjang. Mas pemilik motor Jupiter itu alias si tertabrak mendesak bertemu orang tua saya, ya mau tak mau saya pulang dalam kedaan motor (dan badan tentunya) yang ringsek ringan. Sial untuk si tertabrak, entah dengan cara apa waktu itu ibu saya bisa memenangkan perang mulut diantara mereka. That’s my Mom!

Sehabis kejadian itu, saya tidak sempat trauma lama. Kejadian kedua terjadi antara saya dan seorang bapak yang kita sebut saja ”Si tertabrak 2”. Suatu sore di selang beberapa minggu setelahnya saya kembali menabrak sebuah motor yang datang dari arah bersebrangan. Kerasukan apa lagi saya... kejadian setelahnya hampir sama. Saya mendapat simpati dari orang-orang di jalanan, muka polos, tampak bodoh, dan sedikit berurai air mata. Saya dan motor di gotong beramai-ramai ke rumah saya yang tidak jauh dari tempat kejadian. Lagi-lagi saya dan motor yang malah lebih mengenaskan dibandingkan tertabrak 2 menjadikan saya tidak terlalu menerima kesulitan besar sesudahnya. Tapi sudah pasti semua orang di rumah satu per satu mengomeli saya tanpa henti. Saat itu pula saya mendapatkan bekas luka kecil −super tipis tapi awet − di pipi saya.

Setelah itu saya sempat trauma beberapa bulan. Tidak mau naik motor. Minta diantar ke sekolah naik mobil terus, kalu tidak ya naik angkot dan cidomo (andong Lombok) rasanya sudah lebih aman. Ternyata tidak praktis. Saya lalu memutuskan kembali berkendara.

Saya seorang manusia berkemampuan motorik di bawah standar ini dengan begitu percaya diri melewati hari-hari bahagia saat berkendara. Tidak samapi satu tahun, saya jatuh dari motor, lagi. Kali ini kejadiannya di sebuah perempatan lampu lalu lintas di jalan protokol paling penting seantero kota Mataram. Yap, di sana kami menyebutnya perempatan BI (Bank Indonesia). Saya tidak menabrak orang, tapi jatuh karena licinnya aspal yang basah karena air hujan. Saya belagu minta ampun berani-beraninya menerobos lampu merah, saya mengerem karena dari arah samping sudah lampu hijau. Dan you know what? Saya jatuh dengan tidak elegan. Kali ini saya dibantu para polisi dan pengendara yang ada di sekitar perempatan. Jangan tanya bagaimana malunya...

Yah, setidaknya rasa malu tadi bertambah afdol ketika besoknya seorang guru bahasa Indonesia yang terkenal cerewet, mengoceh di kelas saya mengenai seorang siswa berseragam khas SMA 1 yang jatuh dengan elegannya di tengah perempatan jalan yang licin. Lucky me, dia ternyata tidak mengenali itu saya, malah dia ngotot menuduh salah seorang teman saya yang kebetulan mirip saya.

”Lian, kamu kan yang kemarin itu? Ngaku!,” Bu Guru terus mendesak Lian mengaku bahwa yang kemarin jatuh itu dia.

Hahahahahaha! Saat itu rasanya saya ingin tertawa sekencang-kencangnya.
Itu bukan kejadian terakhir, setelah itu berselang 3 tahun saat saya rasa kemampuan berkendara saya (seharusnya) sudah dalam tingkatan expert, saya masih juga tetap jatuh, oleng, kolaps, kepleset, hingga nabrak.
Saat kuliah entah kenapa orang tua saya mengijikan saya membawa motor yang biasanya menemani masa-masa SMA saya itu diboyong ke Jogja. Mereka percaya saya mampu. Yap, mereka memang orang tua...

Alhamdulillah hingga saat ini dan yang akan datang, saya belum pernah mengalami kejadian yang parah. Meskipun begitu sudah sering kali kemampuan mengemudi saya membuat gusar dan was was merek yang saya boceng. Dari Yur, Pipit, Dini, dan entah siapa lagi pernah merasakan bahwa dibonceng saya bukan kenangan yang mengasyikkan. Teman saya Tity bahkan selalu memaksa untuk mengendarai motor saya jika saya mengantarnya. Saya sih maklum, bukan tanpa alasan mereka panas-dingin begitu.

Kembali ke alasan saya menulis ini, tanggal 31 januari, pukul 17.00 WIB saya menuju sebuah rental komik di daerah Karang Malang dengan perasaan aneh. Sempat berdoa minta dilindungi Allah karenan merasa akan ada sesuatu. Benar sekali, persis ketika saya akan memarkir motor di depan rental (kontur papin blok di situ agak naik, berlumut dan sucks!) motor saya selip. Saya hampir jatuh.

Seeeep! Saya cukup gesit kali ini, kaki kanan saya dengan cepat menahan berat kami (saya dan si motor). Mengelus-ngelus dada sebentar, saya coba naik lagi, ehhh...! masih selip juga, berkali-kali saya coba, it doesn’t work! Perasaan saya campur aduk karena semua perhatian orang-orang di rental, warung makan Bamara, Dewi Ratih, dan disaksikan para makhluk di lembah UGM tertuju pada saya. Dengan berusaha lagi, akhirnya saya bisa parkir dengan selamat.

Congratulation, Nadia!
Begitu masuk rental komik itu, mas-mas penjaganya tertawa dengan nista. Mereka bilang:
”Wah, kalo mau parkir di sini jangan pake teknik kayak tadi, Mbak!” si mas yang berambut keriting tidak jelas itu.

”Dari tadi kita nungguin kapan ’bruk!’-nya, eh malah gak jadi, hehehehehehe...” mas satunya yang lebih rapi dan sedikit ganteng itu berkata dengan nista seperti itu. How dare you, Mas!

Selebihnya kejadian tadi terus mereka ungkit. Senang deh dapat hiburan gratis sore-sore... Bodohnya, setelah itu kelakuan saya jadi aneh, saya jadi salah tingkah dan banyak bergerak karena malu. Saya malah pinjam komik winter sonata yang romantis yang berlinang itu (kemana rencana pinjam Yotsuba-mu, Nad!?).

Tapi saya malah senang, yang paling penting bukan semua rasa malu itu, saya baru merasa lega, lega tidak jatuh, lega karena selamat dari lecet, lega karena si motor tidak tambah beret.

Sebuah langkah bijaksana saya lakukan untuk menenangkan diri saya. Saya minum segelas coca cola dan makan ayam panggang madu di warung sebelah rental. Saya minum coke karena terinspirasi sebuah chapter di buku Twilight (heran, lagi-lagi Twilight). Waktu itu Bella yang baru terkena musibah minum dua gelas coke untuk menstabilkan mood dan menambah gula dalam darahnya. (Em, maksa juga sih kalau disama-samain)

Oke, oke, saya tidak trauma. Cuma selip waktu parkir saja, kan?
Allah yang maha menolong itu ternyata tidak pilih-pilih orang, saya si durjana ini masih diingatkan dengan cara-cara seperti itu.

Setidaknya, hari ini memberi pelajaran bahwa kemampuan motorik saya yang rendah ini tidak boleh berhenti diasah. Setidaknya demi diri sendiri dan kalau bisa orang-orang di sekitar saya.