Tuesday, February 3, 2009

Saya (menolak untuk) Trauma


Sabtu, akhir Januari lalu. Lagi-lagi saya harus mengalami peristiwa yang tidak begitu menyenangkan. Lagi-lagi motor saya melakukan manuver aneh, em, mungkin saya maksudnya, hampir jatuh.

Kalau melihat sejarah hidup saya, kenangan buruk saya bersama motor bukan hal yang baru sekali terjadi. Bahkan banyak kejadian yang lebih parah.
Dulu saat saya baru belajar mengendarai motor, tepatnya kelas 3 SMP, saya seperti kesurupan menubruk motor yang sedang berjalan pelan di lajur kiri.

Wah, waktu itu urusannya jadi panjang. Mas pemilik motor Jupiter itu alias si tertabrak mendesak bertemu orang tua saya, ya mau tak mau saya pulang dalam kedaan motor (dan badan tentunya) yang ringsek ringan. Sial untuk si tertabrak, entah dengan cara apa waktu itu ibu saya bisa memenangkan perang mulut diantara mereka. That’s my Mom!

Sehabis kejadian itu, saya tidak sempat trauma lama. Kejadian kedua terjadi antara saya dan seorang bapak yang kita sebut saja ”Si tertabrak 2”. Suatu sore di selang beberapa minggu setelahnya saya kembali menabrak sebuah motor yang datang dari arah bersebrangan. Kerasukan apa lagi saya... kejadian setelahnya hampir sama. Saya mendapat simpati dari orang-orang di jalanan, muka polos, tampak bodoh, dan sedikit berurai air mata. Saya dan motor di gotong beramai-ramai ke rumah saya yang tidak jauh dari tempat kejadian. Lagi-lagi saya dan motor yang malah lebih mengenaskan dibandingkan tertabrak 2 menjadikan saya tidak terlalu menerima kesulitan besar sesudahnya. Tapi sudah pasti semua orang di rumah satu per satu mengomeli saya tanpa henti. Saat itu pula saya mendapatkan bekas luka kecil −super tipis tapi awet − di pipi saya.

Setelah itu saya sempat trauma beberapa bulan. Tidak mau naik motor. Minta diantar ke sekolah naik mobil terus, kalu tidak ya naik angkot dan cidomo (andong Lombok) rasanya sudah lebih aman. Ternyata tidak praktis. Saya lalu memutuskan kembali berkendara.

Saya seorang manusia berkemampuan motorik di bawah standar ini dengan begitu percaya diri melewati hari-hari bahagia saat berkendara. Tidak samapi satu tahun, saya jatuh dari motor, lagi. Kali ini kejadiannya di sebuah perempatan lampu lalu lintas di jalan protokol paling penting seantero kota Mataram. Yap, di sana kami menyebutnya perempatan BI (Bank Indonesia). Saya tidak menabrak orang, tapi jatuh karena licinnya aspal yang basah karena air hujan. Saya belagu minta ampun berani-beraninya menerobos lampu merah, saya mengerem karena dari arah samping sudah lampu hijau. Dan you know what? Saya jatuh dengan tidak elegan. Kali ini saya dibantu para polisi dan pengendara yang ada di sekitar perempatan. Jangan tanya bagaimana malunya...

Yah, setidaknya rasa malu tadi bertambah afdol ketika besoknya seorang guru bahasa Indonesia yang terkenal cerewet, mengoceh di kelas saya mengenai seorang siswa berseragam khas SMA 1 yang jatuh dengan elegannya di tengah perempatan jalan yang licin. Lucky me, dia ternyata tidak mengenali itu saya, malah dia ngotot menuduh salah seorang teman saya yang kebetulan mirip saya.

”Lian, kamu kan yang kemarin itu? Ngaku!,” Bu Guru terus mendesak Lian mengaku bahwa yang kemarin jatuh itu dia.

Hahahahahaha! Saat itu rasanya saya ingin tertawa sekencang-kencangnya.
Itu bukan kejadian terakhir, setelah itu berselang 3 tahun saat saya rasa kemampuan berkendara saya (seharusnya) sudah dalam tingkatan expert, saya masih juga tetap jatuh, oleng, kolaps, kepleset, hingga nabrak.
Saat kuliah entah kenapa orang tua saya mengijikan saya membawa motor yang biasanya menemani masa-masa SMA saya itu diboyong ke Jogja. Mereka percaya saya mampu. Yap, mereka memang orang tua...

Alhamdulillah hingga saat ini dan yang akan datang, saya belum pernah mengalami kejadian yang parah. Meskipun begitu sudah sering kali kemampuan mengemudi saya membuat gusar dan was was merek yang saya boceng. Dari Yur, Pipit, Dini, dan entah siapa lagi pernah merasakan bahwa dibonceng saya bukan kenangan yang mengasyikkan. Teman saya Tity bahkan selalu memaksa untuk mengendarai motor saya jika saya mengantarnya. Saya sih maklum, bukan tanpa alasan mereka panas-dingin begitu.

Kembali ke alasan saya menulis ini, tanggal 31 januari, pukul 17.00 WIB saya menuju sebuah rental komik di daerah Karang Malang dengan perasaan aneh. Sempat berdoa minta dilindungi Allah karenan merasa akan ada sesuatu. Benar sekali, persis ketika saya akan memarkir motor di depan rental (kontur papin blok di situ agak naik, berlumut dan sucks!) motor saya selip. Saya hampir jatuh.

Seeeep! Saya cukup gesit kali ini, kaki kanan saya dengan cepat menahan berat kami (saya dan si motor). Mengelus-ngelus dada sebentar, saya coba naik lagi, ehhh...! masih selip juga, berkali-kali saya coba, it doesn’t work! Perasaan saya campur aduk karena semua perhatian orang-orang di rental, warung makan Bamara, Dewi Ratih, dan disaksikan para makhluk di lembah UGM tertuju pada saya. Dengan berusaha lagi, akhirnya saya bisa parkir dengan selamat.

Congratulation, Nadia!
Begitu masuk rental komik itu, mas-mas penjaganya tertawa dengan nista. Mereka bilang:
”Wah, kalo mau parkir di sini jangan pake teknik kayak tadi, Mbak!” si mas yang berambut keriting tidak jelas itu.

”Dari tadi kita nungguin kapan ’bruk!’-nya, eh malah gak jadi, hehehehehehe...” mas satunya yang lebih rapi dan sedikit ganteng itu berkata dengan nista seperti itu. How dare you, Mas!

Selebihnya kejadian tadi terus mereka ungkit. Senang deh dapat hiburan gratis sore-sore... Bodohnya, setelah itu kelakuan saya jadi aneh, saya jadi salah tingkah dan banyak bergerak karena malu. Saya malah pinjam komik winter sonata yang romantis yang berlinang itu (kemana rencana pinjam Yotsuba-mu, Nad!?).

Tapi saya malah senang, yang paling penting bukan semua rasa malu itu, saya baru merasa lega, lega tidak jatuh, lega karena selamat dari lecet, lega karena si motor tidak tambah beret.

Sebuah langkah bijaksana saya lakukan untuk menenangkan diri saya. Saya minum segelas coca cola dan makan ayam panggang madu di warung sebelah rental. Saya minum coke karena terinspirasi sebuah chapter di buku Twilight (heran, lagi-lagi Twilight). Waktu itu Bella yang baru terkena musibah minum dua gelas coke untuk menstabilkan mood dan menambah gula dalam darahnya. (Em, maksa juga sih kalau disama-samain)

Oke, oke, saya tidak trauma. Cuma selip waktu parkir saja, kan?
Allah yang maha menolong itu ternyata tidak pilih-pilih orang, saya si durjana ini masih diingatkan dengan cara-cara seperti itu.

Setidaknya, hari ini memberi pelajaran bahwa kemampuan motorik saya yang rendah ini tidak boleh berhenti diasah. Setidaknya demi diri sendiri dan kalau bisa orang-orang di sekitar saya.

2 comments:

  1. udah.. jalan aja klo ngga jago naik motor.

    hahaha... :D :D

    ReplyDelete
  2. wah aku nggak mau dibonceng mba nadia ah..
    hehe

    ReplyDelete