Wednesday, February 22, 2017

The Time When I Needed Some Headspace


Hampir dua minggu belakangan saya merasa kurang nyaman dengan kondisi tubuh saya, memang sih nggak sampai jatuh sakit (alhamdulillah). Saya jadi susah tidur, padahal saya bukan tipe manusia nokturnal lho normalnya, jam 9 saya udah ngantuk, leren-leren, jam 10 sudah lelap. Sudah dalam taraf mengkhawatirkan deh kalau udah begini, dan terjadi hampir setiap hari. Nggak pengaruh walaupun saya sehabis memeras otak seharian di kantor, lalu langsung pengin tidur awal ... tetep nggak bisa. Paginya jadi grumpy :(


Hmmm ....

Selalu ya, setiap saya mulai menyadari kalau ini adalah masalah, mulai deh saya gelisah banyakin baca macem-macem artikelself-help, namatin ulang bacaan saya berbulan-bulan belakangan ini, The Circle (malah makin puyeng), maraton serial Black Mirror-nya Netflix (kayaknya ini deh pangkal masalahnya, wkwkwk). Nggak membantu sama sekaliii.

Kesimpulan pertama: banyakin baca Al-Qur’an sampai ke makna yang sebenernya, deh, Nad. Oh it’s sounds easy, but not really, but I’ll keep trying Insha Allah. *Mama saya biasanya baca blog ini, nih. Ehem ...
Kesimpulan dua: pastilah ini karena saya terlalu banyak punya waktu luang. Stamina single bertemu dengan badan yang malas gerak. Deadly, wahahaha.

Atau ... kesimpulan ketiga (mulailah saya sotoy menganalisasi asupan gizi saya): oh, iya sih saya kebanyakan karbohidrat dan gula. Bahkan sampai malam pun saya masih ngunyah makanan manis. Yang artinya metabolisme saya masih terus aktif sampai larut malam, pantesan pikiran saya aktif wandering out nggak jelas menolak lelap. Ok, I got it. Saya akan mencoba disiplin ngurangin karbohidrat dan gula di kala malam. Gula dari buah (fruktosa) juga termasuk ya, namanya tetep gula.

 ...

Sampai guliran jempol ini akhirnya berpapasan artikel di blog Mamak Suri, the one and only, Mba Dee Lestari.Tersebutlah trilogi artikel “Menulis Sehat” yang sebenarnya nggak 100% related dengan masalah susah tidur saya tadi. Namun ntah kenapa tulisan bagian ke-3 yang saya baca itu sejak awal terasa begitu menyegarkan untuk saya.

Ibarat komputer yang sesekali perlu di-defrag agar kembali optimal, dan ibarat hunian yang sesekali perlu di-declutter agar kembali lapang, batin kita pun membutuhkan proses bersih-bersih. Meski bukan seorang penulis ataupun pekerja kreatif, dan tanpa perlu menjadi terapis ataupun spiritualis, berikut ini saya pilihkan beberapa keterampilan yang cukup praktis dan sederhana untuk dilakukan oleh siapa pun. Apa pun profesi Anda.


Jadi mungkin masalah tidur saya tadi ada hubungannya dengan ini, kurangnya ruang lapang di kepala. Aka, “Banyak pikiran, nih,” Kebayang kalau teman saya si Awe sampai baca, kalimat tadi pasti langsung diucapkannya sekadar untuk membuat saya kesal -_-

Ok, balik lagi ke artikel Mba Dee (yang sebenarnya bisa langsung kamu buka di sini), keterampilan praktis bin sederhana yang disarankan pertama kali adalah meditasi. Jangan tanya lagi manfaat meditasi, terlalu banyak terlalu mulia untuk disangkal.

Right.

Saya nggak punya waktu, ah. Sekalian sholat aja, lah. Nggak sanggup ngeluangin waktu dan uang untuk ikutan retret khusus meditasi. Huft. Kira-kira begitu ya pikiran spontan saya. Namun setelah baca lagi sampai tuntas, merembet ke baca artikel-artikel prekuelnya, maaan, I think I do really need to make some space in my head.

Ya, menurut pengalaman Mba Dee, cara terbaik merasakan perubahan dan manfaat meditasi tadi adalah dengan mengikuti retret. Kehadiran seorang guru atau pemandu akan sangat membantu meditator pemula. Cara terbaik kedua adalah dengan memanfaatkan apa yang sudah kita punya sekarang: smartphone dan internet! Coba deh install aplikasi seperti Headspace atau Calm. Lakukan rutin 10-20 menit saja setiap hari, hasilnya berbeda pada setiap orang pastinya.

Sebagai manusia reaktif dan gemar bereksperimen dengan diri sendiri, saya install Headspace, mungkin setelah ini akan coba Calm. Baby steps, Nad, baby steps ... Surprisingly, tampilan muka aplikasi ini nggak seperti bayangan saya yang bakalan serius dan serba zen. Malah kita akan langsung disambut video animasi tentang memulai meditasi. Sederhana, seperti video di bawah:

Bagaimana memulainya

 Kubonusin presentasinya Andy Puddicombe (Headspace's founder) di Ted Talk

Selanjutnya, saya yang mudah terpengaruh ini pun terjerumus. Saya mulai mencoba paket dasar 10 hari meditasi, 10 menit setiap harinya. Bukan merem-merem sendiri diiringi musik mendayu ternyata, melainkan hening dipandu sama suara penuh damai dari konsultan meditasi sekaligus founder aplikasi ini, Andy Puddicombe di sana. Lumayan. Setiap hari saya coba secara random sesempatnya saya, kadang pagi sehabis bangun, kadang sebelum tidur, pernah saat siang dan penat sama kerjaan. Bebaaasss. Belum kerasa manfaat drastisnya, tapi mindset saya soal meditasi jadi berubah banget. Bisa ya, dibawa semenyenangkan sekaligus menenangkan gini. Kalau sudah tamat trial 10 hari, kita bisa pakai fitur lainnya dengan syarat harus berlangganan setiap bulannya, Rp189.000,00, dan bisa berhenti saat sudah tidak dibutuhkan. Mahal nggak mahalnya tergantung kebutuhan masing-masing orang, jadi saya sarankan mending coba trial 10 harian itu dulu.

Harus lulus 10 hari superbasic dulu.

Dipilih-dipilih sesuai kebutuhan.

Nah nah nah, my kind of concern.
 
Saya masih kurang sehari lagi nih dari paket dasar 10 hari saya, rencananya setelah 10 hari saya mau coba fitur lainnya menyasar masalah kesehatan dan harmoni secara spesifik. Misal tersedia paket khusus meditasi untuk penderita kanker, depresi, kepercayaan diri, stress, gelisah, masalah tidur (nah!), dan kehamilan. Ada pula meditasi untuk anak-anak. Ck ck ck, can modern apps be more helpful than this?

Well, manusia cuma bisa berusaha, coba-coba dan nyerocos di blog begini. Sisanya ditentukan dengan itikad untuk konsisten dan izin Allah SWT *apa sih, Nadddd, get a grip! Hahaha.

Segitu dulu untuk hari ini, pelampiasan curhat di blog sudah saya tunaikan juga akhirnyaaa. Dan saya rasa saya akan semakin berbunga-bunga kalau ada yang mau memberi saran lainnya. Terima kasih sudah berkunjung ke sini :)


Love & light,

Nadia

Thursday, February 9, 2017

Kagok-Kagok Seru di Workshop Membuat Daluang Clutch Bag


Semakin sering ikutan segala bentuk workshop, saya semakin sadar kalau saya bukan orang yang naturally gifted atau langsung jago saat melakukan sesuatu pada kali pertama. Lah, seperti layaknya orang, kan? So why are you make that such a big deal, my dear self? Hahaha, ya nggak apa-apa, dengan menyadari hal itu ada kalanya bisa bikin saya lebih rendah hati. Well, nggak ada yang bisa disombongin juga, sih :p

Sabtu lalu (4/2), saya berkesempatan ikut dalam sebuah rangkaian workshop yang digagas oleh Kriya Indonesia didukung oleh Brother Indonesia dan Pesona Jogja Homestay. Harus saya akui acara ini melebihi ekspektasi saya. Saya yang sudah melihat poster acara ini sempat berpikir acara ini bentuknya bakal seperti demo membuat clutch bag, diselingi dengan penjelasan mengenai daluang itu sendiri. Ternyata, workshop ini beneran workshop, yang sangat mengharuskan semua pesertanya turun tangan, pegang langsung, hands on. Panik dong saya, panikkk. Kan saya nggak bisa jahit sama sekali, terakhir kali saya pegang mesin jahit jadul merek “kupu-kupu” adalah saat umur 8 tahun, sisanya saya cuma dibekali skill jahit jelujur sisa pelajaran PKK saat SMP.

*tarik napas*

Ternyata nggak seserem itu kok, acara dimulai pukul 9.00 pagi itu dimulai dengan santai: sarapan, cipika-cipiki sesama peserta dan pihak penyelenggara. Lalu, mulailah Mba Astri Damayanti (crafter dan co-founder Kriya Indonesia), Mak Tanti Amelia (seniman doodle, edukator) dan Prof. Ishamu Sakamoto (ahli daluang). Masuk ke bagian seputar dunia daluang, bahasan jadi semakin membuka pikiran. Daluang yang sekilas terlihat seperti kertas papirus ini ternyata sangat bernilai jual tinggi (selembar daluang berukuran 90x70 cm harganya bisa mencapai Rp350.000, lho). Ternyata proses pembuatan daluang itu sendiri juga lumayan ribet, bahannya berasal dari kulit pohon mulberry harus diproses dalam tujuh tahapan yang harus diselesaikan dalam sehari saja. Fakta miris, sekaligus alasan mengapa Kriya Indonesia menggagas workshop ini ke berbagai kota, adalah karena daluang (—deluang, dalam bahasa Jawa) ini sedang terancam punah. Persebarannya di nusantara sendiri mulai berkurang, tinggal daerah-daerah seperti Jawa Barat, Jogja, Bali, Lombok, dan Kalimantan yang masih mengenalnya. Sementara, di Hawai dan Jepang, kain ini tetap semangat dilestarikan sama para ahli. Nah, saya yang dari Lombok aja baru mendengar nama kain ini kemarin saat workshop .... :(

*buang napas*

Mba Astri, Mak Tanti, dan Sakamoto Sensei

Setelah puas bertanya dan dijawab langsung oleh , kami mulai belajar dasar-dasar menggunakan mesin jahit GS2700 dengan 27 pola jahitan (whattt) yang disediakan sama tim Brother Indonesia. Menjahit clutch bag sederhana seharusnya tidak sulit, menurut mereka. Tetap ajaaa, saya merasa terintimidasi, jadi  berani liat dari jauh dulu aja. Mba Astri aja gemezzz karena saya kesannya kayak kagok  gitu sama mesin jahit, hahaha, untung nggak lama saya berani deh pegang mesinnya. Terus jadi malah ... keasyikaaaan! AAAAAA! Weeerrr ... werrr ... mesinnya canggih dan didorong gitu aja udah bisa bikin hasil yang rapi. Nggak usah keringetan gimana, jari megal-megol buat sekadar ngurusin jaitan yang lurus, semuanya berjalan smooth ... wussshhh. Kecanggihan teknologi dan harga emang nggak bisa bohong, membantu sekali. Fixed, mesin jahit itu masuk ke daftar keinganan saya!


Sayangnya urusan ternyata aku nggak bakat dan nggak sabaran ya, yang bikin saya beberapa kali  merombak apa yang sudah dijahit. Bongkar-jahit-setrika-jahit, huh haaah, trus bisa selesai dengan perjuangan selama dua setengah jam. Alhamdulillaaah!
 
Foto oleh Tim Kriya Indonesia

Udah kaku-kaku ya tangan saya, tegang takut gagal, hahaha. Makanya setelahnya kami digiring untuk melemaskan jari di sesi doodling bersama Mak Tanti. Kala itu bukan pertemuan pertama saya dengan Mba Tanti sih,  tapi itu kali pertama saya disadarkan kalau Mak Tanti memang sangat pro di bidang doodling, terutama sebagai pengajar untuk anak-anak. Saya suka prinsip beliau yang teramat membebaskan kami mencorat-coret, nggak ada karya yang jelek baginya. Semringah, bisa rileks banget karena duduknya lesehan di salah satu ruang santai yang tersedia di Pesona Jogja Homestay. Sesi menggambar gambar doddle town —yang jadi ciri khas di tiap workshop Mak Tanti, juga kami jalani dengan sukacita. Sayangnya karena keterbatasan waktu dan bentrok sama sesi kedua (kloter lainnya yang mulai workshop siang jam 13.00), kami nggak sempat menggambar di atas daluang clutch bag bikinan kami. Eh, tapi tanpa digambarin sebeneranya clutch bag-nya udah memikat juga hasilnya lebih alami dan sederhana.

Mak Tanti yang semangatnya tingkat dewa, nular ke kami

Hasil doodle town + clutch buatan saya yang nggak sempurna.

Di luar drama saya yang kagok sama mesin jahit tadi, I had so much fun that day. Nggak kapok juga kalau disuruh jahit-menjahit dan gambar-menggambar sesuatu. Saya juga akan punya kesan yang beda saat melihat kain daluang dalam bentuk yang beragam, oh it's such a  precious natural fabric :’)

Terima kasih untuk semua mentor dan pihak yang sudah mendukung, we had so much fun!

Love & light,
Nadia

Tuesday, February 7, 2017

Cerita Perantara

Bekerja di dunia penerbitan membuat saya sangat sering mendengar ungkapan, ”Kalau penulis itu raja, maka editor adalah dewa.” It makes so much sense for me. Dalam kondisi tertentu, setiap penulis harus menghormati pendapat editornya, begitu juga sebaliknya, demi kebaikan bersama.

Ok, editor dewa, penulis adalah raja ya, got it.

Nah. Kalau saya, mungkin lebih memilih analogi editor sebagai “Perantara”. Bukan karena gimana-gimana, saya lebih nyaman saja merasa di posisi itu, posisi perantara penulis untuk menyebarkan gagasannya dalam medium buku. Perantara perasaan pembaca, sedekat mungkin supaya bisa klop dengan apa yang disampaikan penulis. Mana jadi “dewa” kesannya berat, luhung, ah saya belum sampai di posisi itu, masih jauh kalau harus menengok editor senior seperti Mba Mirna Yulistianty (editor senior Gramedia), Mba Windy Ariestanty (mantan CEO Gagas Media, editor senior), atau Mas Imam Risdiyanto (editor senior Bentang, pemred saya sendiri).

Dengan menjadi “perantara” tadi, saya berharap bisa live up the name. Saya sih inginnya terus menemukan, menyambut, menghubungkan penulis dengan pihak-pihak strategis supaya membantu mewujudkan ide-ide apapun itu, dan bergerak bersama mengenalkan buku itu ke pembaca. Tak ada yang harus merasa lebih tinggi dari yang satu, it’s a partnership. Kompromi sudahlah dan akan selalu jadi makanan sehari-hari.

Empat tahun terasa seperti sekedipan mata. Cepet bangettt, nggak kerasa April mendatang sudah 4 tahun saya berada di dunia penerbitan. Saya sering mengernyit kalau ingat di awal saya sangat kagok, dunia majalah yang tempat saya berkarya sebelumnya punya flow yang berbeda, dunia penerbitan adalah rimba lainnya. Saya belajar dari bawah, benar-benar bersusah-susah dahulu. Dalam proses pembelajaran tadi, beberapa kali saya mengacau, membuat rugi, membuat teman-teman terpaksa ikut belajar dari kesalahan yang saya lakukan. Huhuhu... sedih? Iya banget, beberapa kali pengin bilang, "I've had enough, I wanna quit..." Apalagi sampai sekarang saya masih menyimpan memori sedih saat saya mengecewakan penulis-penulis yang sudah bekerja sama dengan saya, maaf sepertinya sudah nggak relevan diutarakan terus-terusan. Butuh waktu bertahun-tahun sampai saya berani meyakinkan diri saya untuk bertahan —saya menyebutnya sebagai momen kebangkitan klasik, saat saya memutuskan untuk berjalan lagi, mengasah diri lebih keras supaya bisa lebih berkembang.

Apa yang saya lakukan sekarang?

Kilas balik selama setahun kemarin, saya merasa semakin menikmati pekerjaan saya. Saya menangani sejumlah buku yang tak cuma bagus tapi sudah dalam tahap mengubah hidup (setidaknya, pada hidup saya). Itu lah risikonya memiliki karakter mudah terpengaruh, hehe, jadi sangat mudah ya terinspirasi oleh ide dalam buku. Sebagai editor nonfiksi dengan pangsa pembaca muda (18-35 tahun), buku-buku yang saya bantu kelahirannya semuanya punya korelasi nyata dengan kehidupan saya, dan semuanya bermutu tinggi —I’m not just bragging, that’s just the truth. 


Beberapa buku yang saya tangani pada 2016, masih banyak yang belum terfoto. Ahh, sistem arsip yang ambyar di perpus kantor saya memang kadang bikin buku lebih sulit ditemukan daripada di toko buku, hihihi.

 Buku yang mengubah hidup banyak jiwa, termasuk editornya sendiri.

I had a great time working with her, Mba Sophie itu superhumble, perfeksionis, tapi masih mau mendengar saran dari saya. Rasanya terberkati sekali.

Tak perlu banyak cingcong, buku The Naked Traveler 7 dan penulisnya sudah menunjukkan taringnya. Best travelogue made by an Indonesian ever!


Saya SELALU bersyukur dengan kesempatan untuk bekerja sama dengan para penulis yang tak hanya berbakat, tapi juga baik budinya luar dan dalam. Ini yang saya sebut dengan rezeki berlimpah, semoga bisa terus menjadi perantara mereka ke pembacanya, dan semoga saya bisa terus bertemu dengan penulis (((ber-poison))) lainnya dengan segala keunikan, bakat, dan karakter.

Mungkin salah seorang di antaranya adalah kamu, wahhhaaaiii pembaca blog yang budiman? :)



Love & light,
Nadia

Friday, January 20, 2017

Review 2016 yang Superterlambat

Selamat datang di 2017! (jangan protes dulu, ini tahun baru versi blog saya, ya biasalah memang suka delay gini orangnya).

Sebenarnya tulisan ini jadi semacam pelunasan untuk hutang saya lebih dari setengah tahun absen menulis blog. Haha, gaya, padahal di awal tahun udah sempat on fire banget tuh menulis rangkuman apa saja yang saya pelajari dari workshop & pergaulan Jogja.  Let me make it up for now.

Ok, sejak berumur 27 saya keukeuh selalu menyederhanakan resolusi, fokus nggak macam-macam. Satu-dua-tiga terwujud sudah bikin sangat bersyukur. Sekarang masih sama, penginnya begitu. Menjadi lebih sederhana, semakin mengakrabi diri saya beserta sisi yang sebelumnya saya pojokkan di tiap sudut pikiran. Saya ingin merangkul "Nadia versi 24 tahun" yang babak belur dan masih menangis itu. Sini Nad, kupeluk. You know what? We're going to be fine... I mean look at us now, we're looking much much better, right? :).

Now, I only feel nothing but gratefulness. Bukan mau terlihat sok-sok gimana, tapi bersyukur membuat segalanya lebih ringan.

Sebelum menulis ini saya sebenarnya sudah menyiapkan tulisan yang lebih panjang tentang rencana-rencana, pertanyaan-pertanyaan, mimpi-mimpi, dan beberapa definisi kebahagiaan, lengkap curahan tentang tekanan-tekanan yang dirasakan sepanjang tahun lalu. But in the end, I just don't want to post it, saya simpan sendiri saja, ya. Lantas saya menemukan alternatif untuk menulis pendek saja (as usual), tipikal saya banget, yang penting mulai dulu. Tentang apa yang saya pelajari sampai ke bulan 12 terakhir kemari. Baby steps, baby steps ....

  • Resolusi sehat yang dengan pede saya canangkan di awal tahun lalu, sempat saya jalankan sampai tengah tahun. Kendor setelah tengah tahun, yang mengakibatkan saya ke dokter sampai 3 kali di bulan November dan Desember. Namun, akhirnya menyala lagi di akhir Desember dan awal Januari ini. Too typical, huh? Tahun ini harus lebih seimbang lagi.
  • Semakin menyadari dalam diri ini ada jiwa yang sama sekali tidak merasa semakin tua, meski saya harus bilang kalau saya mulai memperhatikan kesehatan kulit selayaknya wanita yang bersiap menginjak usia 30. Makanya suka sebal dengar mereka yang mengeluh tentang penuaan, for God's sake you're freaking young and you should be grateful for everything, your face and your body, it's actually great that you look your age than look no age at all.
  • Meskipun daya tahan tubuh saya sempat berkurang, but I've gained something more too. Saya berkesempatan menyaksikan penyanyi/band-band lokal yang ada dalam bucket list saya tahun lalu. Beberapa sudah sering saya saksikan live, juga ada yang saya saksikan untuk kali pertama: The Trees & the Wild, Efek Rumah Kaca (versi komplit saat Cholil balik ke Indonesia), Polka Wars, L’Alphalpha, Elephant Kind, Monita Tahalea, Konser Solitute Gerald Situmorang, Scaller, Homogenic, bahkan NDX. Mungkin masih belum kesampaian satuuu lagi: Kimokal. Semoga tahun ini bisa menyaksikan mereka live.
  • Semakin menyadari kalau dalam urusan finansial saya masih berantakan. Haaa, si boros yang tiap bulan beli sepatu ini, sepertinya harus dipecut untuk lebih giat lagi menabung dan teliti berinvestasi. Saya sempat menuai keuntungan reksadana saat pasar saham lagi bagus-bagusnya dan sampai bisa dipakai beli laptop baru. Lumayan seneng sih, tapi tetap masih ngerasa nol besar kalau disuruh baca laporan bulanan. Errr, biasain deh Nad, banyakin baca-baca, apalagi baru aja nanganin buku tentang saham, kan? (Editor bleong oh... editor bleong).
  • I did open my heart again, unfortunately it didn’t went as I expected, again. I messed up. But that’s ok, at least I’ve tried (Yeaaa, that's the spirit, girl!). Tahun ini saya semakin mantap pengin fokus sama urusan percintaan, karena target ya itu: menikah. Klise, ya? Ya, tujuan saya sudah bukan lagi flarta-flirty-main-main-jawabin-sudah-makan-apa-belum kind of date. Saya ingin menjalani hari-hari saya bersama partner yang bisa diandalkan, yang serius mau diajak menjalani visi bersama.
  • Pernah ikut kursus online (meskipun nggak selesai -_-) dan offline. Ok, saya memang bukan penggemar kegiatan perkuliahan, dulu saya kuliah aja empot-empotan tugas dikelarin sampai subuh *huft. Namun, saya punya kepercayaan kalau belajar itu adalah kegiatan yang nyenengin bangettt. Gimana nggak seru kalau ini saatnya kepala yang kopong ini diisi perspektif baru, mulut yang seringkali rewel ini disuruh diam dan boleh bersuara pada saatnya, dan interaksi dengan manusia lain yang nggak melulu nggosip dan nyinyirin orang. Jadi, tahun ini saya pengin coba belajar lebih banyak lagi, paling deket nih: kursus bahasa Spanyol sampai agak mahir, paling nggak bisa nulis kegiatan sehari lah. Aamiin. I won't ever I let my mind retired, haiyalah ....

Udah deh, gitu doang. Saya janji, tulisan selanjutnya akan lebih bermutu. Saya merencanakan rubrik rutin setiap bulannya: buku, musik, dan balanced lifestyle (HALAH HAHAHAHA), yang kalau terwujud merupakan suatu keajaiban tersendiri, hihihi. We'll see!

Love & light,
Nadia

Thursday, September 22, 2016

Zaman, Zaman - The Trees and the Wild: Album (yang Bukan Sekadar) Pengobat Rindu


Rasanya kangeeen banget mendengar suara ngawang khas Remedy Waloni. Makanya saya gembira bukan main: Jumat, 16 September lalu The Trees and the Wild meluncurkan album kedua mereka secara resmi, rindu itu terbayar setengah tuntas. Melihat video ini di atas, rasanya tak tergambarkan.

Rasanya seperti masuk ke dunia antah-berantah ketika “Zaman, Zaman”, “Empati Tamako”, dan "Saija" versi rekaman ini akhirnya menelusup ke kuping. Seperti kerasukan. Aransemen "Empati Tamako" dan "Saija" bukanlah barang baru, empat tahun terakhir ini sudah khatam saya intip di berbagai channel youtube. Namun versi sealbum rilisan Black Orb Recordings berisi 7 lagu ini benar-benar game changer, this clearly is a total satisfaction for me (at least). Sebutlah genre mereka bergeser dari album Rasuk (2009) yang lebih gampang dicerna, menjadi lebih ke experimental noise, ambient post-rock, electronica, yang melodramatik.

Saya mengakses album ini kali pertama di itunes, pagi-pagi sekali saat sedang bedrest lantaran demam dan flu berat. Downloaded, loved, checked, alhamdulillah. Saya tidak menyangka ada satu lagu baru (yang kata Remedy, menjadi pendamping "Empati Tamako") berjudul "Srangan" yang durasinya paling pendek (2.55") tapi punya bius, mini tapi gils gils gils! Highlight untuk suara angelic khas Charita Utamy juga mengagumkan dan menghipnotis mulai dari track ini, ke "Monumen", ke "Tuah Sebak". Kenapa saya sebut berurutan? Karena album ini sesungguhnya disarankan untuk didengar secara runut, dari "Zaman, Zaman" sampai "Saija". Hahaha niscaya efek biusnya lebih parah dari obat dokter. Ingatan saya berkelana saat menonton pertunjukan mereka.
   
Terakhir kali menyaksikan mereka tampil live itu adalah di Joyland Festival, Sabtu 7 Desember 2013, tiga tahun lalu, aka sudah lama sekali.
Malam itu di saya duduk di tengah-tengah kerumunan orang, penuh, sambil duduk bersila. Khusuk. Seperti berasa dalam sebuah cult, karena setiap lagu yang dibawakan memang rata-rata menghabiskan sampai 10 menit per lagu. “The Trees and the Wild Therapy” saya menyebutnya begitu, beberapa kali saya merasa hampir teler (no booze needed, indeed. My sweet sweet Lord, seakan tahu saya tidak perlu alkohol untuk mabuk). Mendebarkan sekaligus menenangkan, mengobati kangen yang teramat dalam akan mendengarkan musik mereka secara langsung. 
Ah, memori. Indah bener ...

Setiap memuat album dalam blog begini banget deh, Nad. Tak ada protes hanya puja-puji *khas aku banget ya, cintaa butaaa, hahaaa. Sayangnya ada dua hal yang membuat saya sedih. Pertama, mereka tidak memasukkan "Nyiur"—lagu yang biasanya sepaket dibawakan bareng "Empati Tamako" dan "Saija", ke dalam album. Kenapa? Ya ... mereka pasti punya pertimbangan tersendiri, tapi saya tetap gemas sendiri. Kedua, bulan ini mereka tidak ada jadwal manggung di Jogja. Mungkin sampai akhir tahun ini juga tak bakal ke Jogja. Oh come ooon somebody please invite them over. Kalau tidak ya, semoga bisa menyaksikan mereka saat saya ke Jakarta, ntah kapan.

Sudah ada di itunes, Spotify, Deezer, dan album fisiknya juga tersedia di toko CD terdekat.


Update 23 November 2016

Lucky me, saya berhasil menyaksikan mereka tampil langsung, bela-belain ke Synchronize Fest di Gambir Expo Kemayoran tanggal 31 Oktober 2016 lalu. Alhamdulillah, dan nggak sabar menunggu konser tunggal mereka bertajuk 
"I'll Believe in Anything" 17 Desember nanti. Semoga berjodoh! :)

 Monumen - The Trees & the Wild



Love & light,
Nadia

Saturday, September 17, 2016

Alasan Tidak Menulis di Blog

WOWZAAA kita bertemu lagi oh dear blog dan penghuninyaaa!

Kali ini saya menulis tulisan edisi poin suka-suka berdasarkan  pengalaman saya yang tega membiarkan blog kosong selama hampir 3 bulan ini—jadi diterima saja ya, pretty please.

And you guys are very welcome to add something. Monggo. Silakan boleh menambahkan kalau merasa senasib dengan saya.

1. Ada media sosial, Facebook, Instagram, Twitter, Path, Snapchat, Ask.fm, Periscope, Bigo, you name it.

Buat saya, distraksi media sosial ini menjadi semenjak ditambahkannya fitur instagram stories di Instagram. Setiap harinya, seharian menelusur timeline instagram saja seolah tak ada habisnya, selalu saja ada akun dan tagar seru yang ingin diamati. This is alarming, I know. Makanya saya kurangi … Dang ding dong … Dua bulan lalu meluncurlah instagram stories, fitur yang membuat saya semakin terlena. Rasanya jadi mudah menceritakan hal-hal remeh temeh dalam bentuk foto/video, sekali pencet, hempas, toh akan hilang 24 jam kemudian seperti di Snapchat. Dan karena sudah laporan di instagram stories, dianggap sudah cukup. Menulis di blog jadi terasa seperti membutuhkan energi berkali-kali lipat oh beratnya. Duh instagram, nasibmu dijadikan kambing hitam melulu.

2. Terlalu banyak nonton serial televisi.

 Beruntung bagi yang mengikuti serial TV Amerika dan Inggris dengan sistem ‘ketengan’ (bukan maraton yaaa), karena serial dari negara-negara itu punya musim sendiri (September-Mei). Ada jeda untuk bernapas di tiap minggunya, ada liburan natal dan tahun baru. Naas, bagi mereka penggemar drama drama Korea, karena drama-dramanya nggak kenal musim Allahuakbarrr, tiap minggu merilis 2 episode pula, membius! Terutama bagi orang seperti saya yang kalau udah penasaran harus benar-benar diselesaikan, benar-benar harus selektif memilih tontonan supaya nggak terhanyut/terjerumus sia-sia. Hahaha. Apasih, this is superpointless-total garbage excuse, Nad! X)

3. Banyak pekerjaan lain.

Hahaha, ini sih alasan paling sering dan paling cocok dipakai. Distraksi seperti ini selalu menang. Bagaimanapun saya sehari-harinya sudah banyak menulis … (Are you sure? emm pretty much yesss), jadi lelahnya kalau harus menyelesaikan tulisan untuk blog. Ah ini sih harus belajar dari teman-teman Komunitas Emak Blogger yang disiplinnya tingkat dewa itu, mereka mengagumkan luar dalam!

4. Tidak ada yang menarik untuk diceritakan.

Tidak ada kelas baru. Tidak ada hal-hal layak review. Well, nggak sepenuhnya benar, kecuali kamu termasuk orang yang hanya bercerita tentang hal-hal aktual dengan standard keseruan tertentu di kehidupanmu. Kalau nggak ada yang terjadi atau terjadi tanpa melewati standardmu, ya nggak ada ditulis. Padahal ada yang bilang kalau menulis juga bisa dari hal-hal sederhana, ditulis secara rutin, ditulis untuk dirimu sendiri dan orang lain karena suatu hari itu akan berguna.

5. Malas menyelesaikan tulisan, itu saja.

Saya punya 5 draft tulisan yang buntung belum dijahit bagian akhirnya, alasannya? Mungkin karena saya pikir bisa dibuat lebih keren. Mungkin, alasannya sesederhana karena satu kata: malas. Period.

Kalau sudah begini, tinggal menggetok kepala sendiri. “Eh, gimana mau maju?”
.

So this is my first move, tulisan tentang hal-hal yang membuat saya menelantarkanmu wahai blog. Semoga bisa dibaca berulang-ulang, supaya ingat. Supaya bisa kembali menulis lagi.

Ah, ah. :)


Love & light,
Nadia

Sunday, June 19, 2016

Menyirami Hati, Flock Project Vol. 1




Saya selalu punya ketertarikan lebih terhadap project kolaborasi yang tidak takut keluar dari pakem. Adalah Flock Project yang baru-baru ini memikat hati, resmi menerbitkan edisi perdananya. Selamat! :)

Tiga fotografer menyumbang masing-masing sebundel berisi gambar-gambar yang menurut mereka sederhana, namun menakjubkan, menghangatkan hati siapapun yang melihatnya. 

Saya suka semangat mereka, project ini merupakan usaha mereka untuk memberi cara pandang alternatif dalam menikmati fotografi patut diapresiasi. Mereka pun pilih mengangkat yang dekat.

Kurniadi Widodo, menyirami kembali ingatannya tentang sang bapak yang sudah sewindu berpulang. Mengenang beliau yang berjarak, sosok yang gemar menyirami halaman penuh bunga dan tanaman di halaman rumah mereka. Mengenang beliau yang coba diingat dengan foto-foto lama dan tuturan ibu, Wid menuliskan hal-hal yang ingin ia sampaikan lewat "Surat untuk Bapak". Tanaman di halaman rumah mereka menjadi objek yang dibawa Mas Wid ke project ini, beserta foto-foto keluarga dan tiga lembar surat ditulis tangan (ya, ditulis tangan) yang menurut saya sangat personal. Mata saya menghangat tiap kali menelusur ulang halaman demi halaman di sana, hangat. Berkaca-kaca mata ini .... Ah Nadia, bilang aja kamu c e n g e n g .

Arif Furqan, mempertanyakan tentang definisi rumah. Bagaimana "rumah" menurutnya sementara ini lebih pantas disebut sense of belonging, sebuah momen atau perasaan di mana kita merasa utuh, hangat, dan lengkap. Rumah bukan lagi bersifat geografis atau fisik. Melalui project ini Furqan berusaha mengungkapkan keterombang-ambingan serta konflik internal yang ia rasa setiap kali proses pergi dan pulang berlangsung. Kadang, untuk merasakan rumah, kita perlu belajar memutar supaya bisa pulang. Disebutnya sebagai "Effusion" atau sebuah fase ketika kita keluar, melebur, dan memancar. Jangan-jangan, sejatinya rumah kita adalah kepergian?

Aji Susanto Anom, memberi kesempatan untuk ikut mengakrabi puisi mistis lewat sebundel berisi gambar burung-burung malam malam hasil pengamatannya sendiri. Hubungannya? Wait a second .... Kegemaran Aji ngalor-ngidul di malam hari (sambil memotret tentunya) suatu kali membawanya mempertanyakan aktivitas sekawanan burung. Sebab keberadaan mereka dikulik dari penduduk sekitar, mengaitkannya dengan fenomena mistis, yang hingga kini menjadi misteri tanpa menghadirkan jawaban yang pasti. Project ini akhirnya menjadi tempat untuk menuangkan pengalaman pribadi sekaligus merangkai puisi-puisi mistis: "They Come For The Flower."

Jika kamu mulai merasa penasaran dan ingin buku ini berada di tanganmu, kirim email ke thisistheflock@gmail.com. Rp180.000,00 adalah harga yang pantas untuk segala hal baik yang akan kamu dapatkan. Lihat saja tulisan di atas, oh I'm so hooked :)



Daaan,  ada sebuah vlog dibuat oleh Anton Ismael tentang buku ini. Kita bisa dengar penjelasan lebih mantap dari para kreator Flock Project Vol. 1 di sini:


 
Courtesy: Kelas Pagi's Youtube channel
 

Behind the scene vlog di atas versi saya (yang kebetulan mampir)



Love & light,
Nadia

Friday, June 17, 2016

Berguru dan Meramu: Klub Sajian Sehat Buka Puasa

Sudah lebih dari seminggu berjalan, bulan Ramadhan tahun ini sudah sangat menyenangkan buat saya. Minggu, 12 Juni 2016 lalu, saya dan teman-teman di @learnme.loveme sebuah gerakan berbagi dan belajar kumpul-kumpul sama memasak menu buka puasa yang enaaaak banget, sekaligus sehat tentunya.

Ada tiga resep resmi yang dibuat, semuanya sudah pernah diujicobakan sebelumnya oleh Titha dan Erlin. Seru deh, sore-sore berkumpul di kebun belakang OK Omah Kopi, di Jalan Gondosuli, Yogyakarta. Dimulai dari kebiasaan makan masing-masing berlanjut ke pilihan hidup beberapa teman yang memutuskan jadi vegetarian. Bersama kami, juga bergabung Mahayu, seorang pakar gizi yang berbagi sekelumit tentang kalori dan saran untuk nggak kalap saat berbuka puasa. Waaa, keren ya.

Titha dan Erlin (cewek-cewek bercelemek) sedang dikerubuti fans x)
Dan nggak semua dari kami merupakan vegetarian (saya omnivora, tapi dominan ke sayur dan buah), hari itu kami sengaja membuat sajian yang bertema vegan tanpa produk dairy. Sesekali boleh juga, lama-lama siapa tau bisa jadi kebiasaan baik.

Simak apa saja yang kami buat kala itu, ya:

#1 Energy Bites

Semacam pengganti snack rice-crispy kesukaan yang banyak dijual di toko dan supermarket. Kali ini dibuat versi yang lebih sehat dan rendah gula.

Bahan-bahan:

  • 1 cup kurma
  • 1 cup oat/garnola/muesli
  • pemanis (bisa gula pasir cair, gula palem dicairkan, stevia), sebahagianya
  • bubuk kayu manis, sebahagianya
Cara membuat:
  • Blender kurma dengan sedikit air, sehingga menjadi pasta kurma.
  • Siapkan mangkuk/baskom, campur oat/granola/muesli dengan pasta kurma. Tambahkan pemanis pilihan, bisa juga dicampur dengan selai kacang (diutamakan yang dibuat sendiri, tapi boleh juga kalau beli jadi), dan tambahkan kayu manis. Aduk sampai mencapai tekstur yang pas dan mudah dibentuk, bisa tambahan lagi oat kalau dirasa terlalu lembek.
Bisa ditambahkan selai kacang bila suka.
  • Bentuk sesuai keinginan, kali ini kami membuatnya dalam bentuk bola-bola.
  • Panggang sekitar 5 menit, atau cukup dimasukkan ke dalam kulkas sampai mengeras. Selamat menikmati manisnya hidup :)

#2 Sorghum Tortilla

Bahan-bahan:
  • 2 cup air
  • 2 cup tepung sorgum (bisa dibeli di toko yang menjual bahan-bahan lokal dan organik seperti Sahani dan @pojok.letusee)
  • 2 sendok makan tepung pati ganyong (bisa diganti dengan tepung pati garut, boleh juga maizena)
  • Garam secukupnya
  • Minyak secukupnya
Cara membuat:
  • Ambil tepung sorgum 2 sendok makan, sisihkan.
  • Campur adonan utama (yang sudah dikurangi tadi) bersama pati ganyong dan garam, aduk rata.
  • Rebus air dengan 2 sendok makan tepung sorgum, aduk/kocok hingga mendidih, kecilkan api. Masukkan campuran adonan utama ke dalam air rebusan dan aduk hingga menggumpal dan kalis.
Aduk-aduk sampai kalis!
  • Bagi adonan menjadi 10 bagian dan gulung per bagian menggunakan rolling pin hingga tipis. Tipis sehingga nanti mudah dilipat (tapi lebih tebal dari kulit lumpia).
  • Panaskah adonan tortilla yang sudah ditipiskan tadi di atas api kecil dengan atau tanpa minyak. Angka dari kompor dan sajikan dengan diisi filling* favoritmu.
 *Filling atau bahan untuk mengisi tortilla ini bisa bebas kita kreasikan. Kala itu Erlin dan Titha membuat dua jenis filling, salad sayuran segar (sayuran seperti selada, tomat, wortel diiris tipis-tipis dan diberi dressing olive oil, cuka apel, dan lemon), dan tumis jamur kancing (tumis: jamur, bawang putih, dan bawang bombay, beri: garam, lada hitam, lada putih, basil.)

Filling salad sudah siap, selagi memanaskan tortilla sorgum
Filling jamur yang oh so yummm!

#3 Smoothie Art

Kalau pengunjung blog saya biasanya sering membaca resep smoothie racikan saya, kali ini saya senang banget bisa ketambahan ilmu baru dan styling smoothie ala ala latte art.
Dan ternyata gampang juga, lho. Bisa nih buat variasi selain toping smoothie bowl dengan buah-buahan potong dan oat/granola/muesli.

Yuk coba bikin!

Bahan-bahan smoothie:
  • 1/2 ikat pakcoy (atau bayam, atau kale)
  • 2 buah pisang (pisang raja, cavendish, pisang emas). Teksturnya akan lebih asik kalau dibekukan di freezer dulu.
  • 1/2 buah nanas
  • Air kelapa muda
Bahan-bahan untuk spread:
  • 1 cup daging kelapa muda + air kelapa, takaran sebahagianya
  • Pewarna alami buah naga atau buah bit (blender buah naga tanpa air atau buah bit dengan sedikit air)
Cara membuat:

  • Blender sayuran hijau, pisang beku, nanas, dan air kelapa muda. Tuangkan ke dalam mangkuk. 
  • Blender daging kelapa muda dan air kelapa muda hingga mengental. 
  • Tuang sebagian ke dalam gelas, tambahkan pewarna buah naga atau buah bit yang sudah disiapkan sebelumnya. Masukkan smoothie kelapa yang sudah berwarna merah tadi ke dalam piping bag, gunting sedikit ujungnya. Lakukan langkah yang sama untuk smoothie kelapa yang belum diberi pewarna merah. Kita punya dua warna alami sekarang: merah/agak pink dan putih.
  • Kreasikan smoothie art dengan menghias permukaan smoothie bowl warna hijau tadi. Voila! Jadi deh smoothie segar nan cantik.
Menghias dengan sabar dan penuh cinta *hueee

Urutan bikinnya benar-benar sesuai nomor di atas lho, jadi begitu saatnya berbuka puasa, kami bisa langsung menyendok smoothie bowls yang berjejer, masih segar jadi paaas. Tentunya sebelumnya sudah menenggak segelas air hangat pelan-pelan. Sehabis sholat magrib dilanjut makan tortilla dengan isian salad dan tumis jamur, yummm! Untuk cemal-cemil setelahnya masih ada energy bites yang baru dikeluarin dari kulkas, omnomnom :3


Urutan makan: smoothie art bowls - sorgum tortilla - energy bites


Enak! Enak di lidah dan nyaman perut, buka puasa jadi nggak begah berlebih dan tetap punya energi yang cukup untuk ibadah selanjutnya.

Kalau saya (yang masih lapar apalagi jam 8 ke atas) masih pengin makaaan, saya buat sendiri Sorgum Tumis untuk dimakan rame-rame. Resep andalan saya yang ini akan dibagi di post selanjutnya saja, ya ;)

Terima kasih sekali lagi untuk Titha dan Erlin yang sudah membagi resep-resep sehat andalan. Sampai ketemu lagi di kelas selanjutnya! :)


Love & light,
Nadia